Takdir Cinta Kita

Takdir Cinta Kita
Sampai Dirumah


__ADS_3

***


"Hey tukang tidur, bangun sebentar lagi kita sampai."


"Mmm" Aku mengerjap ngerjapkan mataku, punggungku terasa pegal, sepertinya aku tertidur disepanjang perjalanan, "Kita sudah sampai mana?"


"Menurut GPS kita akan sampai sekitar setengah jam lagi."


Aldrian ternyata cukup mahir mengendarai mobil, tadinya aku khawatir karena akan melakukan perjalanan jauh dan disopiri oleh seorang remaja, kebanyakan anak remaja berkendara secara ugal ugalan tapi Aldrian mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dan juga terasa nyaman, aku bahkan tertidur pulas di dalam mobil.


"Kau tidak lelah? Gak mau istirahat dulu? Sudah dua jam lo kau nyetir." Tanyaku khawatir, aku bisa tidur dan beristirahat di mobil sedangkan Aldrian dari semenjak kami berangkat belum istirahat sedikitpun.


"Tanggung sebentar lagi juga sampai, nanti aku istirahat di rumahmu saja." Jawabnya sambil membelokkan kemudi ke kiri.


"Yasudah, huaamm." Aku menguap dan bersiap untuk tidur lagi sebelum tiba-tiba Aldrian mengganti musik pop yang menjadi latar belakang perjalanan kami menjadi musik rok dengan volume yang cukup tinggi.


"Gusti, kenceng amat." Ucapku sambil menutup kedua telingaku.


"Kau mau enak enakan tidur lagi kan? Jangan harap bisa tidur nyenyak lagi."


Ternyata Aldrian sengaja mengganti musik dan menaikkan volume agar aku tidak bisa tidur, padahal kan cuma tinggal setengah jam lagi juga kita sampai, lagipula aku dari tadi tidur itu sekalian untuk menghindari kecanggungan di antara kita, bayangkan saja, kami berdua melakukan perjalanan selama dua setengah jam, dan kami bukanlah teman dekat apalagi pacar, rasanya sangat canggung saat keheningan melanda kami dan aku tidak tahu harus mengajak bicara tentang apa, jadi aku lebih memilih tidur.


"Ok ok aku bangun, kecilkan volumenya sedikit ok, telingaku bisa pecah."


Aldrian tertawa dan mengecilkan volume musiknya, "Ceritakan tentang keluargamu!"


"Huh? Keluargaku? Kenapa?" Tanyaku bingung dengan permintaannya yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Ceritakan karakter setiap anggota keluargamu agar aku tahu sebelum aku berjumpa dengan mereka." Jelas Aldrian.


"Oohh, well tidak ada yang spesial dari mereka, mereka seperti orang biasa pada umumnya."


Aldrian melirik ke arahku, tergambar jelas di wajahnya kalau dia seperti gemas ingin memukul atau mencubit ku tapi dia masih bisa mengendalikannya dan melampiaskannya ke setir kemudi dengan mempererat genggamannya.


"Bisa tolong perjelas maksud dari seperti orang pada umumnya itu bagaimana? Memangnya keluargamu bukan orang?" Tanya Aldrian sarkas.


"Ppfftt- ok ok aku hanya bercanda, maksudku mereka itu orangnya humble dan sederhana, makanya tadinya aku agak khawatir saat kau bilang mau ikut ke kampung halamanku. Takutnya gaya hidup kami yang sederhana tidak akan sesuai denganmu, secara kau kan orang dari kalangan yang serba berkelebihan." Ucapku apa adanya.


"Apa tanggapan mereka saat tahu aku akan ikut?"


"Ya shock lah!! Tapi karena terakhir kali kau bilang kalau kita ini satu spesies jadi aku meyakinkan orang tuaku kalau kau tipikal orang yang bisa menerima apa adanya jadi kita hanya perlu bersikap seperti biasanya dan alakadarnya. Jadi tolong jangan kecewakan mereka ya."


"Tentu saja, karena kita kan satu spesies." Jawab Aldrian sambil tersenyum, sepertinya kali ini dia cukup puas dengan jawabanku karena dia tidak menanyakan hal-hal aneh yang lain.


Tapi kami mengobrol kan banyak hal disepanjang perjalanan, dan tanpa aku sadari ternyata berbincang dengannya tidak secanggung yang aku pikirkan, ternyata kami memiliki banyak kesamaan, terbukti dari pembicaraan kami yang selalu bisa nyambung meskipun berganti ganti topik.


"Ok Maam." Jawab Aldrian sambil membelokkan mobil ke kana di perempatan yang aku tunjuk dan setelah berjalan lurus beberapa meter nampak sebuah bangunan berbentuk rumah tapi dengan plang besar bertuliskan "Kantor Desa Sariwangi". Tempat ayahku bekerja sebagai kepala desa, dan rumah kami berada tidak jauh dari kantor, kami hanya perlu berjalan sedikit kedalam gang dipinggir kantor Desa dan rumahku berada sekitar dua ratus meter kedalam.


"Mobilnya diparkir disini saja, disini aman ko asal jangan lupa kau kunci saja."


Aku turun dari mobil diikuti Aldrian, dia membuka bagasi belakang dan mengambil koper kecilnya sebelum akhirnya mengunci mobilnya dengan alarm, dan kami pun berjalan memasuki gang menuju rumahku. Desaku masih terbilang kampung, karena masih terdapat banyak sawah dan kebun-kebun, bahkan rumahku memiliki halaman yang cukup luas yang dijadikan kebun oleh ayahku, dan dibelakang rumah kami terdapat sawah yang menghampar luas.


Karena sekarang sudah malam penglihatan kami juga menjadi terbatas dan aku menggunakan senter ponsel untuk menerangi jalan. Aldrian berjalan tepat di sampingku dengan tangannya yang memegang bajuku seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.


"Kau ini, kau kan bisa menyalakan senter ponselmu juga, biar gak harus jalan sambil mepet mepetan begini."

__ADS_1


"No, gak usah protes, fokus aja ke jalan, ngomong ngomong disini gak ada ular kan?" Tanya Aldrian sambil mempererat pegangannya di bajuku.


"Mwahaha jadi kau takut ular ya? Tenang aja kalau di jalan yang biasa dilalui orang jarang ada ular."


"Sssttt aku bukannya takut, hanya berhati hati, kalau kita gak sengaja nginjek ular terus kena patuk kan bahaya."


"Iyaa iyaa, tuan muda gak perlu khawatir, tuh rumahku udah keliatan." Aku menunjuk sebuah rumah bercat putih yang dikelilingi pepohonan dengan senter ponselku, dan kami pun mempercepat langkah kami.


"Assalamualaikum." Ucapku sambil mengetuk ngetuk pintu rumah.


"Waalaikumsalam." Jawab seseorang dari dalam dan saat pintu terbuka tampaklah wajah ibuku.


"Riri Alhamdulillah sayang akhirnya kamu sampai juga, ibu sama ayah nungguin kamu dari tadi." Ucap ibuku sambil memelukku,. mengabaikan kehadiran orang lain di sampingku.


"Iya bu, kan udah Rian bilang kalau kemungkinan Rian pulang sekitar jam sembilanan." Ucapku sambil membalas pelukan ibuku.


"Ekhem" Aldrian yang merasa diacuhkan berdeham meminta perhatian.


"Eh Ri, ini siapa?" Ibuku sepertinya lupa kalau aku akan membawa seseorang, tapi beberapa detik kemudian akhirnya dia teringat, "Oooh ini cucunya Bos kamu itu toh?? Oalahhh ganteng tenan, Aden pasti capek yo, ayok masuk dulu biar kalian istirahat dulu di dalam."


"Iya bu terimakasih, saya nyetir gak istirahat istirahat biar cepat sampai, ini pinggang udah mau patah rasanya, permisi kalau begitu."


"Siapa juga yang suruh gak istirahat, itu kan maumu sendiri."


"Eh sudah ayo cepat masuk dulu, ayahmu sudah nunggu dari tadi."


Kami bertiga masuk kedalam rumah, dan di ruang tamu tampak ayahku yang sedang duduk menunggu kedatanganku, tadi aku tidak sempat memperhatikan penampilan ibuku tapi saat melihat penampilan ayahku aku melirik ke arah ibuku, dan aku baru sadar kalau mereka mengenakan pakaian yang tidak biasa mereka kenakan di rumah, apalagi malam malam begini.

__ADS_1


Ayahku memakai setelan batik sedangkan ibuku memakai gamis yang biasa dia pakai ke kondangan, biasanya juga kalau malam malam ayahku memakai kaos oblong dan kolor sedangkan ibuku memakai daster. Apa gara gara akan ada tamu spesial makanya mereka berpakaian seperti ini??


"Sepertinya Ayah dan Ibumu tidak sesederhana seperti yang kau bilang ppfftt." Bisik Aldrian sambil sedikit tertawa ditelingaku dan itu membuat pipiku sedikit memerah.


__ADS_2