
Aku putuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut atau aku akan semakin bertambah penasaran, karena sepertinya Aldrian memang tidak berniat untuk memberitahukan apa yang sebenarnya dia rencanakan.
Diperjalanan ke kantor kami hanya berbincang ringan, kebanyakan dia hanya bertanya tentang pekerjaanku di kantor, dan karena jarak dari sekolahnya ke kantorku tidaklah jauh jadi kami sudah sampai kurang dari lima belas menit, aku turun dari mobilnya tapi Aldrian juga ikut turun.
"Kau mau ikut masuk? Apa kau mau bertemu Pamanmu? Apa yang nanti akan kau katakan kalau Pak Andrew bertanya kenapa kau ada disini? Aku gak mau terseret kasusmu ya." Tanyaku pada Aldrian yang baru saja keluar dari mobil dan berjalan menghampiriku.
"Tenang tenang, aku ini anak yang bertanggung jawab, jadi kau tidak perlu khawatir aku akan bertanggung jawab atas dirimu."
Orang orang yang berjalan melewati kami menoleh ke arah kami saat mendengar ucapan Aldrian tentang tanggung jawab, aku bisa membayangkan apa yang ada dipikiran mereka saat mereka menatapku dengan tatapan tak percaya, "Anak SMA dan seorang pegawai perusahaan" kurang lebih seperti itu dan itu membuat pipiku terasa panas dan memerah karena malu.
"Kau demam? Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah?" Aldrian menempelkan telapak tangannya di keningku dan sesaat aku lupa cara untuk bernafas.
"Haishh tidak bisa kah kalau sebelum bicara itu kau pikir dulu, jangan main jeplak aja tuh mulut apa yang orang orang pikirkan coba kalau kalimatmu ambigu begitu, ini juga tangan kebiasaan main pegang aja didepan umum." Ucapku sambil menepis tangan Aldrian dari keningku.
"Hmm kau bertanya apa yang orang lain pikirkan?" Aldrian memasukkan tangannya kedalam saku dan melanjutkan perkataannya. "Kurasa sama dengan apa yang ada dipikiran mu sekarang."
"Kalau kau tahu lantas kenapa? Whyyyy kau membuat kalimat yang bisa membuat orang lain salah paham?"
"Ahahaha, why not?" Jawabnya sambil mengangkat bahu dan berlalu memasuki pintu gedung meninggalkanku yang berdiri kaku sambil mengepalkan tanganku menahan diri untuk tidak berlari menerjang Aldrian dan memiting lehernya.
Setelah aku bisa mengendalikan diri, aku ikut memasuki gedung dan memasuki lift bersama Aldrian, tidak ada kata-kata lain yang keluar dari mulut kami berdua, kami hanya berdiri berdampingan sambil menunggu pintu lift terbuka.
Setelah pintu lift terbuka, aku keluar terlebih dahulu dan segera memasuki ruangan ku, Aldrian berjalan perlahan dibelakangku dan tentu saja kehadirannya membuat orang-orang yang ada diruang ini terkejut, mereka pernah melihat Aldrian tapi dia sangatlah jarang datang ke kantor pamannya.
__ADS_1
Bu Sandra berjalan menghampiri Aldrian sambil melewatiku dan menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya, aku hanya mengangkat bahu sebagai isyarat bahwa aku juga tidak tahu kenapa dia kemari.
"Al, tumben sekali kamu kesini, kau ingin bertemu Pamanmu?" Tanya Bu Sandra yang kini memposisikan dirinya sebagai orang terdekat pamannya bukan sebagai pegawainya.
"Hai Tan, iya aku ada perlu sama Paman. Paman ada di ruangannya kan?"
"Ya, dia ada di ruangannya, apa ada masalah? Seharusnya sekarang masih jam sekolah kan?" Tanya Bu Sandra penasaran.
Aldrian hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bukan masalah yang serius ko tan, kalau begitu aku permisi ketemu Paman dulu ya."
"Ok ok, biar aku beritahukan kedatanganmu terlebih dulu." Bu Sandra berbalik hendak meraih telepon yang ada di mejanya untuk menghubungi Andrew dan memberitahukan kedatangan Aldrian, tapi Aldrian menyetopnya.
"Gak usah tan, biar aku memberi kejutan buat Paman."
Aldrian berjalan memasuki ruangan Pak Andrew, orang-orang di ruangan memfokuskan tatapan mereka pada Aldrian sampai dia memasuki ruang Pak Andrew dan menghilang dari pandangan.
"Wah wah, gen mereka benar benar luar biasa, Pak Andrew aja udah ganteng, ini keponakannya malah tambah ganteng." Ucap Danisha.
"Sayang dia berondong, coba aku masih SMA pasti udah aku gebet." Tambah Stella dengan mata yang berbinar.
"Emangnya kalau kalian seumuran dia nya bakal mau sama kamu gitu?" Sindir Anne.
"Yah namanya juga orang ngehayal, emang harus ya kau mengingatkan ku pada kenyataan?"
__ADS_1
"Haha, jangan ketinggian makanya kalau ngehayal. Eh, ngomong ngomong Riana kau jadi guru privat nya Aldrian kan? Enak banget kau bisa sering sering cuci mata, terus kok kalian bisa datang barengan, bukannya tadi kau bilang mau pulang sebentar ke kosan mu dulu?" Tanya Anne yang diikuti tatapan penasaran dari yang lainnya.
Kabar mengenai aku yang menjadi guru les Aldrian memang tidak dapat disembunyikan dari yang lain. Karena aku harus izin dari pekerjaanku untuk menjalankan tugas sampingan ini, maka dari itu Bu Sandra menjelaskan alasannya kepada yang lain agar tidak terjadi salah paham dan menyebabkan kecemburuan sosial.
"Yah begitulah" Jawabku singkat dengan senyum yang sedikit dipaksa, ya Aldrian memang tampan dan menatap wajahnya sungguh bagaikan sedang memandang sebuah karya seni, tapi mengingat kelakuannya yang bikin gregetan... no comment, aku tidak mau membuat para fans barunya ini kecewa dan juga tidak mau dianggap menyebarkan berita hoax.
"Dan kami hanya kebetulan bertemu di pintu masuk tadi." Lanjutku.
"Ahhh coba Pak Andrew nyuruh aku yang jadi gurunya Aldrian, kenapa bisa kamu sih yang dipilih?" Ucap Stella lagi, sepertinya dia benar benar terkesima dengan ketampanan Aldrian.
"Hei kau harus sadar diri, ingat usia, setidaknya Riana itu yang paling muda di antara kita, dan dia juga masih fresh graduate jadi masih ingat pelajaran kuliahnya gak kaya kita kita yang udah lama expired." Sarkas Pak Bambang yang ternyata dari tadi menjadi pendengar.
"Itu sih Bapak, aku juga masih muda, kita kan cuma beda dua tahun ya kan Ri?"
"Hmmm" Aku tidak mau menimpali mereka, lebih baik aku fokus pada pekerjaanku yang sempat terbengkalai.
"Sebenarnya hatiku masih buat Pak Andrew sih, tapi aku udah insecure duluan gara gara gosip yang beredar." Ucapan Stella kali ini membuat semua orang yang ada diruangan menghentikan sejenak pekerjaan mereka dan menoleh ke arahnya, termasuk Bu Sandra.
"Aku sudah bilang kalau gosip itu tidak benar, sudah, hentikan omong kosong kalian dan fokus kepada pekerjaan kalian, ingat deadline."
Ucapan Bu Sandra membuat semua orang fokus kembali kepada pekerjaan masing-masing, terutama Stella, tidak seharusnya dia berkata seperti itu tentang Pak Andrew didepan Bu Sandra, sejenak dia lupa sedekat apa hubungan mereka dan itu membuatnya menyesali perkataannya.
Sedangkan aku teringat kembali saat makan siang pertama kami sewaktu aku baru diterima bekerja disini, aku hampir lupa untuk mencari tahu gosip macam apa yang menimpa Pak Andrew, Idolaku. Aku putuskan untuk bertanya kepada Stella nanti sepulang bekerja, karena aku tidak akan bisa tidur nyenyak nanti jika belum mengetahuinya.
__ADS_1
.....