
"Ok ok janji, jadi gosipnya adalah...?"
Aku mencondongkan badanku kearah Stella agar dia bisa berbisik ditelingaku.
"Bahwasanya... Pak Andrew itu ternyata... Gay!!!" Bisik Stella.
Ucapannya itu berhasil membuat badanku menjadi kaku dan otakku mencoba mencerna kembali apa yang diucapkan oleh Stella.
"Apa kau bilang? Gak... gak mungkin kalau Pak Andrew...." Aku tidak sanggup untuk melanjutkan ucapanku, bagaimanapun juga aku tetap gak mau percaya dengan gosip macam itu.
"Terserah kau mau percaya atau enggak, yang jelas gosip itu mulai tersebar gara gara Pak Andrew menolak setiap wanita yang menyatakan cinta padanya, jadinya mereka menyebarkan gosip bahwa Pak Andrew itu gay makanya dia gak tertarik sama perempuan."
Penjelasan Stella sulit dipercaya tapi itu memang terdengar masuk akal, pria normal mana yang bisa menolak semua perempuan cantik itu? Meskipun dia tidak menerima perasaan mereka karena dasar cinta, setidaknya dia bisa berkencan karena hasrat seksualnya, bukannya kebanyakan pria memang seperti itu? Apalagi untuk sekelas Andrew yang bisa dibilang memiliki segalanya.
Kecuali jika dia memang benar benar terlalu naif, atau yaa karena dia memang tidak menyukai wanita? Tapi masih ada satu kemungkinan lagi, bahwa sudah ada seseorang yang menempati hatinya dan orang itu tidak bisa digantikan oleh siapapun. Jika memang kemungkinan ketiga itu alasannya, maka dia termasuk pria langka impian setiap wanita.
Dan seketika itu aku teringat Bu Sandra, bukannya mereka merupakan sahabat dekat? Atau jangan jangan hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat?
"Bagaimana dengan Bu Sandra? Dia bilang kalau semua gosip itu tidak benar kan? Mereka kan sahabat dekat, harusnya Bu Sandra juga tahu masalah percintaan Pak Andrew kan?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Yah kami juga sempat berfikir seperti itu, kami bahkan berfikir kalau Pak Andrew dan Bu Sandra itu diam diam pacaran." Pikiran Stella sama seperti apa yang aku pikirkan, "Tapi..."
"Tapi? Tapi kenapa?" Tanyaku tidak sabar.
"Mereka berdua itu sama kaku nya, melihat mereka berdua itu sama sekali gak ada aura aura romantisnya, kalau orang pacaran itu meskipun sembunyi sembunyi tetep keliatan dari tatapan mata mereka, tapi mereka berdua itu sama sama kayak penggaris, lempeng."
"Ahh iya juga sih, tapi itu kan saat di kantor, siapa yang tahu seperti apa mereka diluar kantor."
"Entahlah, hanya mereka berdua yang tahu, lagipula kebanyakan para wanita di perusahaan kita ini pada gak ada yang mau deketin Pak Andrew itu bukan karena mereka percaya gosip itu seratus persen, tapi lebih ke insecure duluan, wanita wanita papan atas saja ditolak apalagi kita kalangan rakyat jelata." Ucap Stella sambil menyeruput kopi nya yang kini sudah hangat.
"Hhmm jadi begitu rupanya, ok sekarang aku udah gak merasa penasaran lagi, makasih ya kak Stella udah mau sharing" Ucapku sambil mengedipkan sebelah mata padanya.
"Oke let's go!!"
Aku ikut berdiri dan kami berjalan beriringan menuju ke meja kami masing-masing, aku sungguh menyukai rekan rekan kerjaku disini, tidak ada yang namanya senioritas apalagi perbulian terhadap anak baru. Mereka semua open minded dan kami bekerja sebagai tim, kami saling melengkapi satu sama lain, mungkin itu sebabnya kenapa tim ini menjadi tim utama yang menjadi andalan perusahaan.
Saat kami mulai kembali bekerja tiba-tiba datang seorang gojeg online yang menenteng banyak plastik berisi makanan, kami saling pandang satu sama lain seolah saling bertanya lewat mata "siapa yang pesan?" tapi tidak ada satupun dari kami yang mengangguk.
"Nama pemesanannya siapa pak?" Tanya Daniel karena dia yang duduk paling dekat dengan pintu masuk, takutnya Si Mang Ojek salah alamat karena rasanya tidak mungkin orang sini ada yang pesan makanan sebanyak itu.
__ADS_1
"Yang pesan... namanya Aldrian." Ucap Mang Ojek setelah mengecek ponselnya.
"Ohh.." Bukan hanya Daniel yang ber-oh tapi kami juga, meskipun kami mengucapkannya di dalam hati, sultan memang beda, pesan cemilan saja udah kayak pesan makanan buat se RT, "Sini Pak biar saya yang kasihka-"
"Biar saya aja yang ambil om."
Aldrian tiba-tiba muncul saat Daniel hendak mengambil bungkusan bungkusan itu dari tangan Mang ojek. Dia mengambil pesanannya sendiri dan kemudian berbalik, kami pikir dia akan kembali keruangan Pak Andrew jadi kami tidak begitu menghiraukan Aldrian, tapi diluar dugaan, dia menghampiri setiap meja, kemudian menaruh hamburger dan cola satu persatu di atas meja kami.
Kami semua dibuat tercengang dengan apa yang dilakukan Aldrian, tidak ada yang mengira kalau makanan yang dia pesan itu ternyata untuk kami. Dan di saat dia menghampiri mejaku dia menambahkan satu bungkus kentang goreng sambil berkata dengan volume yang hanya terdengar oleh kami berdua, "Ini bayaran karena sudah menolongku kabur dari sekolah, makan yang banyak biar kau tambah tinggi."
"Kau-"
Belum sempat aku membalasnya dia langsung melengos dengan senyum jahil diwajahnya, dan tentu saja itu menarik perhatian rekan rekan kerjaku, mereka melihat ke arahku dengan tatapan yang berbeda beda. Aku pura pura tidak menghiraukan mereka dan kembali fokus menatap laptop ku sambil memakan kentang goreng pemberian Aldrian, tapi sepertinya nanti aku harus siap di berondong pertanyaan oleh mereka sepulang kerja.
Meskipun kata katanya menyebalkan, tapi aku cukup tersentuh dengan perhatiannya. Sepertinya dia ingat kalau aku tidak sempat makan siang, dan dia sengaja memesankan makanan untuk yang lain juga agar kesannya dia perhatian terhadap kami semua, sehingga tidak akan ada gosip tentang kami, berbeda jika dia hanya memesankan makanan untukku saja, itu akan memberi tanda tanya besar bagi yang lain.
Dan hal itu juga membuat fans Aldrian bertambah, berkat perhatian buatannya itu rekan rekan kerjaku disini jadi mulai mengidolakan Aldrian. Mereka bilang bahwa dia akan menjadi penerus perusahaan yang hebat, bahkan mereka sudah membayangkan bagaimana jika nanti Aldrian yang memimpin, Pak Andrew juga baik, tapi Aldrian memiliki karakteristik yang berbeda, dia memiliki daya tarik tersendiri seperti magnet yang mampu memikat setiap kalangan. Gadis gadis yang mengantri untuknya pasti juga akan lebih banyak daripada Pak Andrew, dan itu masalahnya.
Saat usianya akan bertambah semakin dewasa, akankah dia bersikap tegas seperti Pak Andrew jika menyangkut masalah wanita, atau apakah justru dia akan menjadi playboy kelas kakap, yaa kita lihat saja nanti.
__ADS_1