
"Maafkan saya telah membuat anda sekalian menunggu lama, saya masih ingin memikirkannya terlebih dahulu" ucap Dewi sambil menunduk.
_______________________
Disebuah rumah mewah nampak seorang wanita berumur 40 tahunan mendorong seorang gadis dari tangga lantai dua. Dibelakang wanita itu ada dua orang wanita lainnya namun nampak lebih muda dari wanita pertama tadi, sedang tersenyum sinis pada sang gadis. Tak lupa lima orang remaja yang kelihatannya masih duduk dibangku sekolah menengah tegelak melihat gadis tersebut.
Gadis itu tak lain dan tak bukan ialah Dewi. Tiga orang wanita tersebut adalah para istri tua mang Jali. Dan para remaja itu adalah anak anak ketiga istri tua mang Jali. Dewi berjalan sambil tertatih tatih menuju dapur. Yah selama tinggal dirumah mang Jali, Dewi sering diperlakukan kasar oleh seluruh penghuni rumah jika mang Jali tidak ada. Tak jarang ketiga istri tua mang Jali itu meliburkan para pelayan, dan memerintahkan Dewi untuk mengurus seluruh urusan rumah juga kebersihan rumah yang luasnya hampir setengah lapangan sepak bola itu.
Aku sudah tidak bisa lagi bertahan di rumah yang lebih pantas disebut neraka ini. 3 orang istri tua yang kelakuannya mirip nenek sihir, dan 5 orang remaja yang sikapnya seperti para troll. Aku harus kabur, batin Dewi.
Saat ketiga nenek sihir dan kelima troll itu sedang lengah, Dewi mulai melancarkan aksinya untuk kabur. Namun ternyata itu sangat susah, banyak penjaga yang berlalu lalang. Sumpah menurutku ini bukan rumah tapi penjara, batin Dewi. Tak seperti penjaga yang tak mau berkompromi dengan Dewi, nampaknya cuaca lebih bersahabat padanya.
Sore itu hujan turun dengan derasnya, membuat para penjaga terpaksa meneduh dan ini menjadi kesempatan emas bagi Dewi untuk kabur. Jika tidak sekarang, aku tidak tahu kapan lagi aku bisa mendapat kesempatan untuk kabur, batin Dewi.
Dewi berlari sekencang kencangnya dibawah tetesan air hujan, untungnya karena hujan satpam tidak menjaga gerbang, sehingga itu mempermudah rencana kabur Dewi. Saat sudah berada diluar rumah mang Jali tapi tidak terlalu jauh, Dewi merasakan sakit yang teramat sangat dipergelangan kakinya. Benar, kakinya membengkak akibat jatuh eh bukan lebih tepatnya didorong dari tangga tadi.
Dewi terduduk di pinggir jalan dengan pakaian yang sudah basah kuyup. Ia memegangi kakinya yang bengkak karena ulah penyihir tadi, kakinya terasa sakit bahkan sangat sakit, lebih sakit daripada saat setelah jatuh tadi. Dewi berusaha berdiri dan berjalan lagi, namun baru beberapa langkah itupun dengan susahnya. Ada seorang pria yang meludahinya dari dalam mobil.
"Cuih, lihat sayang ada j*lang sombong" ucap pria yang tak lain, tak bukan, tak salah lagi, dan tak terserah kalian lah ialah Pandu.
"Hahaha dulu kau dengan sombongnya menolakku, sekarang lihat keadaanmu, hahaha menyedihkan" lanjut Pandu tergelak. Wanita disamping Pandu hanya bisa diam karena tidak mengerti maksud dari Pandu, tapi ia juga menatap dan tersenyum sinis kepada Dewi.
Dewi hanya diam tak memperdulikan kedua insan yang sedang menghinanya, fokusnya sekarang hanya untuk bisa kabur sejauh jauhnya. Karena merasa diacuhkan Pandu pun makin kesal, ia langsung melajukan mobilnya menjauh dari Dewi. Dewi mulai melangkahkan kakinya lagi, namun baru beberapa langkah, rambutnya ditarik oleh seorang pria.
"Beraninya kau berusaha kabur!!, selama ini aku sudah berusaha baik padamu. Tapi kau malah kabur, dasar wanita tak tau diuntung ." bentak pria tersebut, yang ternyata mang Jali.
Mang Jali langsung menyeret Dewi kembali kerumahnya. Dewi hanya bisa pasrah karena kondisi kakinya yang sedang tidak dalam kondisi sehat.
*********
Setelah sampai dirumah mang Jali, Dewi langsung dibawa ke gudang. Disana ia dicambuki.
*Cplasshh!
Cplasshh*!
__ADS_1
Suara cambukan terdengar nyaring digudang tersebut. Dewi terkulai lemah, belum sembuh kakinya yang bengkak sekarang malah badannya penuh dengan luka. Mang Jali meninggalkan Dewi begitu saja.
Namun beberapa saat kemudian mang Jali masuk lagi ke gudang tersebut sambil menyeret seorang wanita paruh baya, yang tak lain ialah ibu Dewi.
"I-ibu" ucap Dewi lirih, ia sudah tak dapat lagi berdiri.
"Ja-jangan sa-kiti ibuku" lanjut Dewi lirih.
Mang Jali tidak mendengarkan permohonan Dewi ia langsung membenturkan kepala ibu Dewi hingga darah segar mengalir dari kepala ibu Dewi.
**********
"TIIDAAAAAKK" teriak Dewi. Dewi terbangun dari tidurnya dengan keringat bercucuran, wajahnya sangat pucat hampir seperti orang mati.
Huh ternyata cuma mimpi, batin Dewi. Dewi mengingat bahwa sebelum tidur ia melaksanakan sholat istikharah agar diberi petunjuk oleh Allah swt, dan sepertinya mimpinya sudah menjawab kebimbangannya.
**********
Pagi pun tiba, sang surya telah menyambut keriuhan dunia. Banyak orang sudah bersiap untuk pergi bekerja, tak terkecuali Dewi. Hari ini rencananya setelah pulang dari toko, Dewi akan pergi kerumah Pandu untuk menjawab lamaran dari Pandu.
"Selamat pagi teman teman" sapa Dewi pada ketiga sahabatnya dengan senyum cerah secerah matahari dunia tabi, benar Lita sudah kembali karena ayahnya sudah sembuh.
Dina dan Nina yang melihat Dewi datang dengan senyum cerah pun saling pandang dan keheranan karena selama beberapa hari ini Dewi nampak murung, bahkan sering pulang lebih awal. Sementara Lita terlihat biasa saja karna memang ini hari pertamanya bekerja setelah sebulan lebih libur, jadi ia tidak tau apa apa tentang masalah Lita.
"Dew, lo nggak__ , errr" ucap Nina menggantung.
"Apa?" tanya Dewi.
"Dewi kemaren lo nggk ke kuburan kan?" tanya Dina.
"Hah yah enggak lah kenapa emang?" tanya Dewi balik.
"Nggak ada, gue kira lo kemaren ke kuburan terus kesambet tante kunti, makanya senyum senyum nggak jelas kayak gini hehe" jawab Dina sambil memeragakan senyum Dewi.
Mereka pun tertawa keras. Tak terkecuali Lita, meski tak mengerti apa yang ditertawakan.
__ADS_1
_______________
Sementara itu di lantai teratas gedung pusat Lesmana Group. Pandu sedang menari narikan jari jarinya di laptopnya. Tok,, tok,, tok. Setelah Pandu memerintahkan masuk, seorang pria tampan seumuran Pandu yang tak lain ialah Rendy, masuk keruangan itu sambil membawa map berwarna merah ditangannya. Rendy membungkuk hormat.
"Ada apa?" tanya Pandu, namun matanya masih berfokus pada laptopnya.
"Saya sudah menemukan data gadis itu, tapi ada yang aneh... " jawab Pandu.
Pandu langsung menutup laptopnya, alisnya terangkat satu. Dari mimik wajahnya seperti bertanya Apa maksudmu? . Rendy yang mengerti kebiasaan bosnya yang agak hemat bicara ketika di kantor pun langsung menjelaskan.
"Dari data yang saya cari sampai saat ini, saya hanya bisa mendapatkan data biasa tuan" ucap Rendy agak lirih.
"Apa maksudmu? apa kemampuan semakin tumpul Rendy? hingga data seorang gadis biasa saja tak bisa kau dapatkan?" tanya Pandu bertubi tubi
" Maafkan saya tuan, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sepertinya ada orang yang ingin menyembunyikan identitas gadis itu." jawab Rendy agak takut.
"Untuk apa orang menyembunyikan identitas gadis itu? kau jangan mengada ada Rendy!!" bentak Pandu.
"Ma-maaf tuan saya tidak berani berbohong pada anda" ucap Rendy terbata.
Benar, Rendy tak mungkin bohong padaku. Siapa sebenarnya gadis itu?, kenapa ada orang yang ingin menyembunyikan identitasnya? Batin Pandu bertanya tanya.
Bersambung.....
Hayoo sebenernya Dewi tuh siapa?
Ada yang tahu?
Eh nggak ada yang tahu?
Kalo yang tempe ada nggak? 😂😂😂
Tunggu kelanjutannya...
Papay 👋👋👋
__ADS_1