
Alunan musik yang kencang dengan beberapa wanita dan pria yang menari dibawah kelap kelip lampu disko hanya menjadi sebuah pemandangan bagi Andrew. Dia hanya duduk seorang diri dengan segelas wiski ditangannya, beberapa gadis yang menghampirinya dan mencoba mengajaknya untuk berdansa pun ditolaknya, pikirannya menjadi gusar semenjak siang hari di kantor, makanya dia pergi ke Bar untuk minum sepulang kerja.
"Disini kau rupanya." Sandra datang menghampirinya dan duduk disampingnya, penampilannya sungguh berbeda dengan saat dia berada di kantor, dia terlihat lebih cantik dengan pakaiannya yang minimalis tapi memberi kesan elegan dan tetap terlihat cocok untuk dipakai ditempat seperti ini, dan hal itu justru membuat Andrew semakin galau.
"Kau kenapa tiba-tiba minum sendiri? Apa ada masalah dengan proyek kita?" Tanya Sandra yang merasa heran dengan tingkah Andrew, dia tipikal yang sangat jarang minum dan pergi ke bar jika tidak ada yang mengganggu pikirannya, maka dari itu dia yakin jika ada sesuatu yang terjadi.
"Siapa bilang aku mau minum sendiri? Aku tidak akan meneleponmu jika aku hanya ingin sendiri." Jawab Andrew sambil menuangkan wiski ke sebuah gelas untuk Sandra.
"Sure, mau bersulang?" Sandra mengambil gelas berisi wiski tersebut dan mengangkatnya untuk bersulang.
Andrew menempelkan gelas yang ada ditangannya ke gelas yang dipegang Sandra kemudian mereka minum bersama untuk beberapa gelas. Sebelum Andrew menuangkan lagi minuman ke gelasnya, Sandra menyambar botol dari tangan Andrew dan menaruhnya kembali di atas meja.
"Cukup minumnya An, sekarang jawab aku, apa terjadi sesuatu?"
Andrew memandang wajah Sandra dan menjawab pertanyaannya sambil menatap matanya, "Ya, ada sesuatu yang terjadi, dan aku tidak tahu harus berbuat apa."
__ADS_1
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Sandra bingung dengan tingkah laku Andrew, ini pertama kalinya dia melihat ekspresi wajahnya yang seperti ini, dia tampak... patah hati.
"Memang wajar jika gosip macam itu beredar bukan? Tidak heran jika mereka berasumsi seperti itu."
Sandra pikir sepertinya Andrew sudah mulai ngelantur gara gara terlalu banyak minum, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakannya.
"Apa menurutmu aku terlihat seperti Gay?"
Sandra terkejut, kini dia mengerti apa yang dibicarakan Andrew, dia tidak menyangka bahwa Andrew mengetahui gosip yang beredar tentang dirinya. Ya selama ini dia memang mengetahuinya tapi dia hanya bersikap tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Sampai tadi siang saat dia pergi ke ruang rehat untuk menyeduh kopi sendiri, sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku karena kebanyakan duduk, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Stella dan Riana.
Yang membuatnya galau bukan karena gosip tentang dirinya tapi karena apa yang dikatakan Stella tentang dia dan Sandra. Dari sana dia mulai mempertanyakan hubungannya mereka, kenapa dirinya menolak semua wanita itu? Alasannya karena setiap wanita wanita itu menyatakan perasaan mereka yang terbayang dibenak Andrew adalah Sandra, jika dia menerima mereka entah kenapa dia merasa bahwa dia berselingkuh dari Sandra, padahal mereka itu hanya sekedar teman tidak lebih.
"Aku tahu itu tidak benar, jadi tidak usah kau hiraukan." Ucap Sandra mencoba meyakinkan Andrew tanpa tahu bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab kegalauan Andrew.
"Lantas kenapa kau tidak pernah menyatakan perasaanmu kepadaku seperti wanita wanita itu?" Pertanyaan itu tiba tiba mengalir dari mulutnya tanpa dia sadari, dan membuat Andrew menyesal sudah mengatakannya, dia ingin menarik perkataannya itu dengan berkata bahwa dia hanya bercanda, tapi dia teringat perkataan Aldrian.
__ADS_1
"Paman ko ribet banget sih jadi orang? Tinggal tembak aja apa susahnya, atau paman takut ditolak? Nyoba aja belum mana tahu jawabannya, kalau paman ditolak ya berarti takdir paman sama tante Sandra hanya sebatas teman, kalian udah temenan lama dan aku yakin gak akan ada yang berubah meskipun paman ditolak, dan kalau ternyata diterima berarti kalian memang jodoh dan kalau putus ditengah jalan ya tinggal temenan lagi."
"*Tapi kalau putus ditengah jalan bagaimana kita bisa temenan lagi?"
"Mau bertaruh? Paman sama tante Sandra itu tipikal orang yang setia, kalaupun kalian putus aku yakin alasannya bukan karena salah satu dari kalian berselingkuh jadi kalian akan tetap aman jika kembali menjadi teman, tapi feeling ku sih berkata kalau kalian sampai jadian pasti bakalan langgeng sampai ke pelaminan, sooo mending Paman tembak tante Sandra sebelum keduluan orang lain*."
Perkataan Aldrian memang terdengar tajam dan sangat terang-terangan tapi dia ada benarnya, jika tidak dicoba kita tidak akan pernah tahu, dan Andrew juga tidak bisa membayangkan jika Sandra sampai berpacaran dengan pria lain.
Sandra tampaknya masih mencerna apa yang dikatakan Andrew, "Kau bilang apa barusan?"
Dan Andrew mengambil kesempatan ini untuk memperbaiki pertanyaannya, Dia menatap kembali wajah Sandra dan memegang tangannya sambil berkata "San, I love you, please be mine."
Sandra tampak syok, dia terdiam tanpa sanggup berkata kata, matanya terkunci diwajah Andrew mencoba membaca ekspresinya jika dia sedang bercanda atau karena dia sedang mabuk, tapi Andrew tampak serius, dia tidak berkedip sedikitpun dan dia justru menggeser tempat duduknya menjadi lebih dekat dan tangan kirinya mengelus pipi Sandra, getaran aneh mengalir ditubuhnya apalagi saat tiba tiba wajah Andrew hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Sandra masih tidak bergerak dia justru menutup matanya, Andrew tersenyum, sepertinya dia tahu jawaban Sandra, dan sesaat kemudian Sandra merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya, wajahnya terasa panas tapi dia menyukai sensasi lain yang dirasakannya, bibir Andrew bergerak perlahan diatas bibirnya, tanpa sadar Sandrapun membalas ciuman Andrew, perlahan ciuman lembut tersebut berubah menjadi ciuman yang dalam dan berlangsung cukup lama.
__ADS_1
"I love you too" Akhirnya Andrew mendengar jawaban Sandra disela ciuman mereka.
.....