
Sementara itu diruangan CEO, Andrew sedang sibuk berkutat dengan laptop nya sampai tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Tok...Tok...Tok
"Masuk!" Ucap Andrew tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptopnya.
Aldrian membuka pintu ruangan dan hanya berdiri di depan pintu tanpa mengeluarkan suara. Andrew yang merasa ada aura tidak dikenal yang memasuki ruangannya menghentikan sejenak pekerjaannya dan menoleh ke arah pintu. Saat itulah dia terkejut dan hampir meloncat dari tempat duduknya karena melihat sosok Aldrian yang sedang berdiri bersandar di pintu.
"Ya ampun kau hampir membuatku jantungan, kau sedang apa disini?" Tanya Andrew sambil memegangi dadanya dengan sebelah tangan.
"Harus ya Paman sampai seterkejut itu hanya karena melihatku di kantor Paman? Udah kaya lihat hantu saja." Protes Aldrian sambil berjalan mendekat menuju meja Andrew dan kemudian duduk dihadapannya.
"Tentu saja karena ini merupakan penomena langka, terakhir kali kau ke sini itu hampir tiga tahun lalu saat kau baru masuk SMA dan karena pelajaran sekolah belum dimulai jadi kau datang kemari hanya untuk bermain. Tapi bukannya seharusnya sekarang kau masih disekolah? Kenapa kau bisa kesini?"
"Ada rapat guru jadi kita diperbolehkan pulang lebih awal." Aldrian berbohong dan dia sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan Andrew alasan yang sebenarnya kenapa dia bisa pulang lebih cepat, dia tidak mau memperbesar masalah yang sepele ini, dan dia juga sudah meyakinkan Sandi untuk tidak melaporkan apa yang terjadi hari ini kepada Andrew.
"Hmm begitu ya, tapi rasanya masih ada yang aneh. Biasanya kau akan menghabiskan waktumu bermain dengan Kevin, kenapa coba kau justru malah datang bermain ke kantor yang membosankan?" Tanya Andrew setengah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aldrian.
"Memangnya aku gak boleh kangen sama Paman apa?"
"Jangan ngelawak, mana mungkin kau kangen sama Paman, atau jangan jangan kau kangen sama seseorang yang juga ada di kantor ini?" Andrew tersenyum miring menggoda Aldrian seolah olah dia tahu maksud kedatangannya kesini.
"Wahhh aku memang gak bisa bohong dari Paman."
Uhuk uhuk..."Jadi kau memang kangen sama Riana? Kok bisa?? Kalian kan baru kenal kemarin?" Andrew memang ingin Riana bisa berteman dan lebih dekat dengan Aldrian, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini, terlebih dengan sifat Aldrian yang biasanya sangat observatif, atau mungkin dia memang sedang mengobservasi Riana.
__ADS_1
"Why not?" Lagi, Aldrian memang hobi membuat lawan bicaranya gregetan dan semakin penasaran, dia tidak akan mengatakan maksudnya yang sebenarnya dan lebih suka membuat mereka bertanya tanya sendiri.
"Terserah kau saja, tapi ingat, jangan membuat Riana resign menjadi guru privat mu." Andrew merasa khawatir jika Aldrian memang sedang mengobservasi Riana dan jika dia merasa tidak suka dengan Riana, kemungkinan besar dia akan membuatnya mengundurkan diri menjadi guru privat nya.
"Aku menyukainya, jadi Paman tenang saja, akan ku pastikan dia menjadi guru privat ku untuk waktu yang lama." Ucap Aldrian sambil menyunggingkan senyum manis di bibirnya.
Andrew tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa maksud Aldrian dengan dia menyukai Riana, apa itu suka dalam arti yang sebenarnya atau justru sebaliknya, apa yang sebenarnya Riana lakukan untuk menarik perhatian Aldrian sampai seperti ini?.
"Al, usianya lebih tua darimu!" Andrew sengaja berkata seperti itu untuk melihat reaksi Aldrian, apakah yang dia maksud menyukai Riana memanglah rasa suka sebagai lawan jenis.
"Lalu? Memangnya kenapa? Apa hubungannya umur kami dengan alasan aku menyukai dia?" Aldrian mengerti maksud pertanyaan pamannya, tapi tentu saja dia tidak akan menjawabnya dengan kejelasan, selalu dengan kata kata yang bermakna ambigu.
"Rasanya aku ingin sekali melemparkan map ini ke kepalamu." Andrew yang sedari tadi sudah dibuat greget oleh jawaban jawaban Aldrian kini mulai merasa jengkel dengan keponakannya itu.
"Hahaha." Sedangkan si pembuat dosa hanya terkekeh melihat ekspresi pamannya yang jengkel karena ulahnya.
Andrew kembali mengalihkan fokusnya ke laptop dan mengacuhkan Aldrian. Dia putuskan untuk memperhatikan hubungan mereka lebih lanjut nanti.
"Ok ok, Paman fokus saja sama pekerjaan Paman, biar aku baca buku saja." Aldrian beranjak dari tempat duduknya dan menulusuri rak buku untuk memilih novel misteri koleksi Pamannya yang dia simpan di kantornya.
Setelah dia memilih satu buku, Aldrian membacanya sambil tiduran di sofa panjang yang ada disana tapi kemudian dia bertanya, "Apa Paman tidak punya camilan?"
"Kau pikir ini di rumah? Kalau kau mau camilan ambil di ruang rehat dibelakang."
"Ah aku sedang mager, aku pesan online sajalah." Aldrian mengeluarkan ponselnya dan memesan beberapa makanan melalui aplikasi online. Sedangkan Andrew hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan keponakannya, jarak dari ruangannya ke ruang rehat karyawan itu hanya beberapa meter dan Aldrian justru lebih memilih untuk memesan makanan online.
__ADS_1
***
Sementara itu diruangan para karyawan juga tidak kalah sibuk, dan untuk menghilangkan rasa kantuknya Stella pergi ke ruang rehat untuk menyeduh kopi instan, aku melihat kepergian Stella jadi aku sengaja mengikutinya ke ruang rehat.
"Kak Stella sini biar aku aja yang seduh kan kopinya, liat mata Kakak udah lima watt rebahan dulu gih." Suruhku pada Stella karena dia hampir tidak bisa memegang cangkir dengan benar karena rasa kantuknya.
"Thanks Ri, aku mau cuci muka dulu aja biar lebih seger, kalau rebahan yang ada nanti aku malah ketiduran."
Tak berselang lama Stella sudah kembali dari kamar mandi dan aku juga sudah selesai menyeduh dua cangkir kopi, "Kita ngobrol dulu sebentar aja kak, biar ngantuk kakak ilang seratus persen." Ajakku pada Stella sambil menuntunnya ke sofa dan kami pun duduk berdampingan.
"Ahh proyek ini benar benar proyek tersibuk sepanjang sejarah aku kerja disini." Keluh Stella sambil memijat mijat pundaknya.
"Wajar sajalah, proyek ini kan masuk skala nasional, Pak Andrew pasti jauh lebih kelelahan daripada kita."
"Ya kau benar, beliau memang sangat berdedikasi kalau menyangkut pekerjaan."
"Itulah kenapa aku sangat mengidolakan beliau, tapi... kok bisa orang sekompeten beliau digosipkan, memang apa sih yang digosipkan orang orang tentang Pak Andrew?" Inilah tujuanku mengikuti Stella ke ruang rehat, untuk mengorek informasi tentang gosip macam apa yang menimpa Pak Andrew.
"Ppuufftt-" Stella hampir menyemburkan kopi yang sedang diminumnya karena mendengar pertanyaanku, "Kau ini, pelan pelan kalau ngomong, kalau Bu Sandra atau Pak Andrew tiba-tiba muncul bisa gawat."
"Makanya cepetan kasih tahu aku biar aku gak penasaran, janji aku gak bakalan bilang siapa siapa." Ucapku sambil membuat tanda peace dengan jariku.
"Semua orang di kantor sudah pada tahu kok gosipnya, emangnya kamu mau bilang ke siapa? Asal jangan bilang ke wartawan aja paling."
"Ok ok janji, jadi gosipnya adalah...?"
__ADS_1
"Bahwasanya... Pak Andrew itu ternyata... Gay!!!"
.....