Takdir Cinta Kita

Takdir Cinta Kita
Senyum Sang Antagonis


__ADS_3

Kembali ke saat ini di ruangan BP. Ada sembilan orang diruang yang cukup luas ini termasuk aku, tiga orang ibu-ibu yang sepertinya merupakan orang tua murid dan mereka duduk disamping anak anak mereka,guru BP mereka yang tadi mempersilahkan aku masuk duduk di kursi seorang diri, dan Aldrian yang duduk di sampingku.


Aku dan Aldrian duduk bersebrangan dengan dua pasang ibu dan anak-anaknya yang bernama Anya dan Farah, dan berada di kursi yang sama dengan Kesya dan ibunya. Guru BP mereka duduk di kursi satu diantara kami dan mulai berbicara mengenai apa yang terjadi.


"Jadi saya meminta anak anak anda untuk memanggil orang tua atau wali mereka ini dikarenakan anak anak anda saling berkelahi, dan sudah menjadi aturan kami bahwa orang tua atau wali mereka wajib tahu jika anak mereka melakukan pelanggaran, karena sebagai mana anda semua ketahui bahwa peraturan disekolah ini cukup ketat, kita tidak membiarkan bentuk penyimpangan sekecil apapun yang dilakukan murid kami didalam maupun diluar sekolah, dan orang tua murid juga perlu ikut andil untuk itu."


"Tapi apa penyebab sebenarnya mereka berkelahi bu? Gak mungkin kan mereka berkelahi tanpa sebab?" Tanya ibunya Farah.


"Yahh seperti yang bisa anda semua kira sepertinya, anak anak anda berkelahi karena memperebutkan seorang siswa." Jawab Bu Guru sambil menunjuk ke arah Aldrian.


ketiga gadis itu menunduk malu saat Bu Guru mengatakan sebab perkelahian mereka, sedangkan Aldrian sebagai biang keladinya hanya duduk manis sambil memasang wajah polos tidak bersalah. Sedangkan aku, aku duduk diam sambil berpikir apa yang sebenarnya sedang aku lakukan disini....


"Apa kalian benar benar berkelahi cuma gara gara seorang laki-laki?" Tanya Ibu Kesya tidak percaya.


"Enggak gitu maaa, ini semua cuma salah paham." Ucap Kesya.


"Tapi tetap saja penyebab kesalah pahaman kalian itu gara gara anak ini kan?" Kali ini ibunya Anya yang berbicara sambil menunjuk Aldrian.


Mereka terdiam, karena bagaimanapun mereka mencoba mengelak atau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetap saja penyebab utamanya memanglah Aldrian.


"Aldrian, apa kamu mau mengatakan sesuatu?" Tanya Ibu BP.


"Ya bu, saya mau minta maaf sebelumnya jika hal ini terjadi karena saya, tapi saya benar benar tidak menyangka jika mereka akan sampai berkelahi seperti ini. Jadi sekali lagi saya benar benar minta maaf kepada Anya Kesya dan Farah." Kata kata yang diucapkan Aldrian terdengar seolah-olah dia juga korban, dan dia berbicara sambil menyenggolkan kakinya ke kakiku. Aku yang cepat tanggap ini mengerti apa maksudnya

__ADS_1


"Bu seperti yang sudah anda lihat, Aldrian sudah meminta maaf, dan secara harfiah dia juga sebenarnya korban disini, dia tidak tahu menahu dengan pertengkaran mereka. Dan oleh karena itu apa boleh jika sekarang saya bawa Aldrian? Kami ada acara penting yang lain dan Pak Benjamin pasti sudah menunggu." Ucapku terdengar meyakinkan.


"Oh iya silahkan tentu saja, maaf membuat beliau menunggu lama. Saya memanggil Aldrian sebagai saksi saja sebenarnya. Aldrian kau pulanglah dengan sekretaris kakekmu."


Guru BP Aldrian akhirnya memperbolehkan kami pulang, dan tentu saja tanpa tunggu lama kami langsung beranjak dan pamit dari ruangan itu meninggalkan tiga pasang ibu anak yang terlihat kesal dengan kepergian kami yang begitu saja, sedangkan anak mereka harus mendapatkan hukuman atas apa yang terjadi hari ini.


Kedudukan dan kuasa memang sangat berpengaruh, di sekolah ini siapa yang tidak mengenal keluarga Weist, terutama Benjamin Weist, beliau adalah pendiri sekolah bergengsi ini, dengan kata lain beliau adalah pemilik sekolah, dan Aldrian merupakan cucu dari pemilik sekolah ini.


Setelah berjalan cukup jauh dari ruangan BP, Aldrian berhenti sejenak, dia memegang tanganku dan tersenyum lebar sambil menatapku, "Kau ternyata pandai berakting, tidak sia sia aku meminta pertolonganmu."


"Ha Haha, jika tidak begitu maka aku akan terjebak lebih lama disini, aku hanya ijin untuk pulang ke kosan sebentar, dan sebentar lagi waktu istirahat ku habis tanpa sempat makan siang." Aku memasang raut wajah kesal, jika bukan karena telepon isengnya hari ini aku berencana untuk membeli nasi Padang sebagai menu makan siang.


"Tenang bu Guru, pertolonganmu tidak akan sia sia tentu saja, biar ku antar kau kembali kesamping Pamanku, ayo."


Ada seorang pria yang berdiri didepan mobil, dia membukakan pintu mobil belakang dan Aldrian langsung masuk kedalam mobil dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku dan menariku untuk masuk.


Setelah kami masuk, pria itu menutup pintu mobil dan kemudian berjalan memasuki pintu depan mobil dan duduk dibalik kemudi. Tanpa bertanya, pria itu langsung melajukan mobil ke arah gedung kantor ku berada.


"Ehem, sampai kapan kau mau memegang tanganku?" Tanyaku pada Aldrian sambil menunjuk tangannya dengan mataku.


"Ups." Dia langsung menarik tangannya tapi dengan senyuman jahil.


"Apa kau tidak sadar dengan tatapan orang orang saat kau menarik tanganku tadi?" Tanyaku yang penasaran dengan ekspresinya.

__ADS_1


"So? Memangnya kenapa kalau mereka menatap kita? Itu kan hak mereka."


Wahh aku baru mendengar jawaban realistis macam ini.


"Apa kau tidak takut mereka akan menggosipkan mu nanti? Berita tentang perkelahian para gadis yang memperebutkan mu saja sudah pasti akan jadi trending topik, kenapa kau malah mau menambah gosip lain?" Jujur aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada sebenarnya dipikirkan Aldrian.


"Kenapa memangnya kalau kau menjadi topik pembicaraan disekolah ku? Toh tidak ada yang mengenalmu disini."


"Aku tahu kau mengerti maksud dari perkataan ku, aku tidak sedang membicarakan diriku, tapi dirimu, kau itu bintang sekolah, tidak ada yang tidak mengenalmu disana, apa sebenarnya rencanmu?"


Aldrian tidak langsung menjawab, dia tersenyum, tapi senyum nya itu... senyumnya itu seperti senyum licik tokoh antagonis yang ada di drama, ahh lagi lagi drama, aku harus berhenti nonton sepertinya, pikiranku jadi penuh dengan imajinasi.


"Aku menyukaimu."


"HAH?"


"Ya, aku menyukaimu instingmu."


Aku hampir terkena serangan jantung, aku kira dia sedang menyatakan cinta, tapi kalimatnya yang kedua berhasil menghempaskan ku kembali ke bumi.


"Dan kau benar, aku sengaja membiarkan mereka berimajinasi, mari kita lihat gosip apa yang akan tersebar disekolah ku nanti."


Lagi, dia menyunggingkan senyum liciknya itu, aku benar benar tidak bisa menebak apa yang ada dipikirannya, apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan.

__ADS_1


__ADS_2