
Sesampai nya, Kaira di dalam kamar, Dia langsung meletakkan paket yang dia bawa di atas meja. Dia menghampiri Baby Athaf, karena suara tangisan bayi nya terdengar.
Oek... Oek... Oek...
"Sayang, kamu udah bangun!" ujar Kaira ketika melihat mata indah putranya terbuka lebar. Bekas air mata Baby Athaf terlihat di pipi gembul nya. Putranya terlihat lucu ketika menggeliat. Si kecil pun, menjulurkan tangannya minta di gendong. Dia tahu, Mommy nya yang datang.
Kaira tersenyum, melihat kelakuan lucu anaknya. "Lucunya, Anak Mommy. Kamu lapar ya sayang?" Sembari menimang nimang Baby Athaf yang tangis nya sudah berubah. Tak berapa lama, terdengar bunyi ketukan pintu kamar.
Tok!
Tok!
Karena tidak mungkin baginya untuk berteriak menyuruh Bibi untuk masuk ke dalam, Kaira pun membukakan pintu kamarnya.
Ceklek!
Kaira menampilkan senyuman manis nya. "Wah, Bibi. Bwa apa,?" tanya Kaira lembut dan sopan, melihat Bibi membawa mangkuk kecil diatas nampan.
"Ini makanan nya Tuan Muda, Nyonya." Jawab Bi Darmi, dia masih berada di ambang pintu, karena Kaira belum mempersilahkan dia masuk.
"Masuk saja Bi," titah Kaira yang melihat Bi Dai tal beranjak dari tempatnya.
"Baik, Nyonya."
Di dari meletak kan, makanan yang dia bawa di atas nakas. Karena Kaira yang duduk di di ranjang. "Makasih banyak, ya Bibi."
"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu, Bibi kebawah dulu. Mau melanjutkan pekerjaan," ucap Bi Darmi pamit.
"Iya, Bi Darmi."
Setelah kepergian Bi Darmi, Kaira pun mulai menyuapi anaknya. Si kecil pun antusias sekali saat makan, mungkin dari saking laparnya.
*****
"Mas Leon, ayo cepetan turun. Katanya mau periksa kandungan." Zahra mengajak sang suami yang sedari tadi masih sibuk di ruang kerjanya.
__ADS_1
Leon yang mendengar suara istrinya, tersenyum manis. Tanpa mengalihkan pandangan nya ke arah Zahra. Wanita nya ini, sudah rapi sekali. Ditambah wangi parfum Zahra yang sangat dia sukai. Melihat suaminya yang tidak mendengarkan ucapannya, Zahra pun mendekat kearah Leon, yang tengah fokus dengan berkas-berkas nya.
Tanpa aba-aba, Zahra menduduk kan dirinya di atas pangkuan Leon. Mengambil tangan Leon yang satunya, lalu melingkarkan di perut buncit nya. Leon melirik dengan ujung matanya, kelakuan Zahra. Sehingga membuat sudut bibirnya melengkung indah, namun tipis sekali. Sampai-sampai Zahra tidak bisa melihat pemandangan indah itu.
Bibir Zahra manyun, dia kesal karena Leon yang cuek kepadanya. Zahra pun mengelus perutnya sendiri, tepat diatas tangan Leon. "Sayang, Bunda kesal sekali! Karena Ayah kamu sangat cuek. Dia pun diajak ke dokter kandungan nggak mau." Adu Zahra kepada bayinya yang masih berada di dalam perut.
Mendengar peuuturan istrinya, membuat aktivitas Leon berhenti. Dia yang akan membubuhkan tanda tangan, jadi gagal fokus karena kelakuan Zahra yang sangat lucu baginya.
Cup!
Langsung saja Leon memberikan kecupan manis di pipi istrinya. "Istri siapa sih ini? Gemas sekali." ujar Leon, yang sudah memeluk Zahra dari belakang. Dia pun, menumpukan dagunya di bahu Zahra.
"Ish, Mas Leon." Kesalnya Zahra kepada sang suami karena telah mengabaikan dirinya.
"Kenapa, hmm?" tanya Leon lembut di samping telinga Zahra.
"Haish! Kamu mengabaikan kami... Hiks... Hiks" tangis Zahra pecah, dia sangat sensitif. Membuat Leon jadi kelimpungan sendiri. Niat hati, mau mengerjai istrinya. Tapi, sang Istri malah dibuat menangis seperti ini.
"Sayang! Maaf. Bukan maksud aku begitu, Aku mau menyelesaikan pekerjaan ini dulu, baru setelah itu kita pergi." tuh kan dia sendiri yang susah, harus membujuk wanuta hamil itu agar mood nya kembali.
"Sayang, Maaf. Aku kan mau mengajak kalian jalan-jalan, makanya menyelesaikan ini dulu. Aku sangat menyayangi kalian, jadi jangan berpikir seperti itu lagi." Pinta Leon, yang jujur. Seketika tangis Zahra berhenti, dia tersenyum manis kembali dan mengalungkan tangan nya di leher suaminya.
"Makasih banyak,"
Cup!
Bukan hanya ucapan, Zahra pun memberi hadiah ciuman manis kepada suaminya karena mau mengajak dirinya jalan-jalan. Leon jadi tersenyum bahagia. Dia mengakhiri pekerjaan nya, dan pergi bersama Zahra ke rumah sakit.
*****
Kanaya tampak cantik dengan baju rumahan yang ia kenakan saat ini, berdiri di depan kompor memasak sarapan pagi mereka. Walaupun kepalanya sedikit pusing, tapi tak masalah. Dari saking semangat nya dia memasak, tidak menyadari kehadiran sosok laki-laki tampan yang telah mengisi hari-harinya satu tahun belakangan ini.
"Sayang..." panggil Sean manja, serta tangan nya yang memeluk mesra istrinya dari belakang. Lalu, dia menumpukan dagunya di bahu sang istri. Kanaya menoleh kearah Sean, dia tersenyum manis.
"Masak apa, hmm?" tanya Sean lagi.
__ADS_1
"Aku masak sayur lodeh, Abi." Kanaya mengaduk ngaduk sayur yang hampir matang.
"Mandi gih, sana. Bau tahu, Abi! Keringat nya tuh," ujar Kanaya dengan manjanya.
Sean pun, mengendus dirinya sendiri. Apa benar ngndi ucapkan wanitanya. Dan nyatanya, dia tidak bau sama sekali. Malah sebaliknya, meskipun Sean bermandikan keringat dia harum. Parfumnya yang manly, menguar begitu saja. Mengisi indera penciuman nya.
"Masa sih, Sayang? Aku nggak mencium bau aneh?" tanya Sean tak percaya.
"Memang nya aku bilang apa tadi, Abi?" ledek Kanaya dengan wajah tengil nya.
Sean yang gemas dengan kelakuan Istrinya, mengapit hidung mancung Kanaya dengan jarinya, membuat sang istri mencebikkan bibirnya ke depan.
"Abiii..." Kanaya merengek, karena Sean belum juga melepasnya.
"Kenapa, hmm?" tanya nya, tersenyum mengejek ke arah Kanaya.
Sean pun, mengendus dirinya sendiri. Apa benar ngndi ucapkan wanitanya. Dan nyatanya, dia tidak bau sama sekali. Malah sebaliknya, meskipun Sean bermandikan keringat dia harum. Parfumnya yang manly, menguar begitu saja. Mengisi indera penciuman nya.
"Masa sih, Sayang? Aku nggak mencium bau aneh?" tanya Sean tak percaya.
"Tau ah," Kanaya semakin di buat kesal, karena Sean yang masih mendebat dirinya.
'****! Aku lupa kalau wanita hamil itu, sangat sensitif. Seharusnya akubtadi mengiyakan saja,' Sean merutuki kebodohan nya sendiri, di dalam hati. Kenapa otak nya, tidak mengingat itu dengan baik. Ditambah lagi, Kanaya tak mau di peluk olehnya.
"Sayang! B-bukan begitu maksud ku." Terang Sean, yang melihat air mata menganak sungai di pelupuk mata istri tercinta nya.
"Bukan, apa?! Emang Abi kan nggak mau lagi menuruti aku!" sahut Kanaya, luruh sudah air matanya. Melewati pipi mulus nan cantik itu, meskipun tanpa di poles make up.
"Maaf," ucap Sean pada akhirnya. Dia tak mau. melihat Kanaya meneteskan air mata. Lalu, menghapus pipi Kanaya yang basah.
Cup!
Cup!
Cup!
__ADS_1
Sean mencium Kanaya, bertubi-tubi. Lalu, diapun pergi mandi. Tidak mau lagi mengerjai istrinya, daripada dia di buat kelimpungan sendiri.