
Para sahabat berbaris di barisan terakhir, karena kurang afdol jika belum menggoda pengantin baru. Di barisan paling akhir bagian cewek ada Zahra yang menggendong anaknya, dan barisan paling depan di bagian pria ialah Leon.
"Sayang, kamu mau juga enggak ngulang malam pertama kita?" bisik Leon menjahili istrinya.
"Mas! Ada anaknya loh, kok ngomong kayak gitu. Jangan sampai pikiran Zalfa terkontaminasi ya." ujar Zahra merona.
"Afa kan princess baik hati! Mana tega enggak ngabulin keinginannya untuk memiliki adek." ucap Leon tersenyum penuh arti kepada sang istri. Ia mengelus pucuk kepala anaknya penuh kasih sayang.
"Ihh, itu kan maunya mas Leon. Ini jadi enggak sih memberi ucapan selamat untuk pengantinnya? Dari tadi hanya godain Zalfa mulu!" kata Zalfa memasang wajah ngambek, agar Leon berhenti menggoda dirinya.
"Iya,,iya sayang! Ayo bunda jalan lebih dulu," suruh Leon. Ia mengalah, takutnya nanti malem di suruh tidur di luar.
"Bro! Calon istri lo yang mana? Nanti salah gaet kan berabe! Nanti bisa terjadi perang dunia ke tiga." ucap Zeo melirik ke arah empat wanita yang berpakaian yang sama, di barisan para kaum hawa.
"Intinya jangan Kanaya!" balas Sean tegas.
"Yaelah ni orang! Aku mana tahu? Baju dan hijabnya sama, kecuali yang menggendong baby Afa! Pasti itu istrinya Leon." kata Zeo sedikit kesal, karena Sean yang tidak serius menanggapi dirinya.
"Loh bisa diem enggak sih! Ganggu aja. Nanti aku bakal kenalin kamu sama mereka. Kita memberi ucapan selamat buat pengantin dulu." ujar Sean pada akhirnya.
"Selamat menempuh hidup baru my besti!" kata Raina, dia turut bahagia atas pernikahan Kaira dan Leinard.
"Samawa ya Kai, akhirnya nyandang status istri." Kata Kanaya.
"Jangan lupa buka kado dari kita ya! Di pakai nanti malam dan malam-malam seterusnya. Kan ada delapan biji, cukup lah buat ganti satu minggu ke depan." goda Liana.
"Emangnya baju kado apaan?" tanya Kaira.
"Baju yang cocok digunakan untuk ibadah dengan kang suami!" bisik Liana ke kuping Kaira. Kaira tahu baju yang di maksud, pipinya merona di balik cadar. Leinard yang mendengar perkataan keduanya, meskipun berbisik. Ia tersenyum geli melihat Kaira yang menunduk malu.
"Kan ibadah bestie, ladang pahala loh" kata Kanaya menimpali godaan Liana. Sontak Kaira mengangkat kepalanya kembali, melihat Zahra dan Zalfa di depannya.
"Selamat ya aunty! Nikah sama om nya Afa. Kalau nanti om Lei nakal atau gigit aunty, bilang sama Afa. Biar nanti Afa bantu nembak! Pakai pistol air, Afa punya kok." kata Zalfa antusias.
__ADS_1
"Makasi ya sayang! Afa perhatian banget." dia gemes sama Zalfa, mengelus pipi tembem yang dimiliki Afa.
Ucapan demi ucapan selamat mereka berikan kepada pengantin baru, mereka mengistirahatkan diri. Duduk di kursi pengantin berdampingan.
"Sayang kamu capek? Kalau capek istirahat aja ke kamar." kata Leinard lembut. Sedangkan sang istri tertegun, mendengar panggilan yang asing bagi Kaira.
Dag..i Deg...!
Irama detak jantung Kaira di buat tak karuan, hanya dengan panggilan sayang aja.
"Yang...!"panggil Leinard lagi yang tak mendapatkan respon.
"Ca-capek sih, ta-pi kan..." kata Kaira tergagap.
Belum selesai kalimat Kaira, Leinard sudah memotong pembicaraan Kaira.
"Tamu nya masih ada! Enggak apa-apa sayang, ayo aku nganter kamu ke kamar!" ajak Leinard.
Kaira menggelengkan kepala cepat, malah dia lebih takut kalau di dalam kamar bersama suaminya. Halal sih iya! Tapi Kaira juga butuh penyesuaian dengan suaminya. Ia benar-benar malu dan gugup di dekat suaminya.
"Eetss,,,jangan ngegoda Kai lagi." kata Kaira cepat, melihat gelagat aneh Leinard.
Leinard yang ketahuan jadi urung. "PD.." akhirnya hanya mampu melontarkan dua huruf saja.
"Loh apaan sih, dari tadi terus ngikutin gue! Kan jadi enggak bisa mau nempel sama calon istri." ujar Sean jengkel dengan Zeo.
"Lah! Kamu kan tadi janji bakal kenalin aku sama temen calon istri kamu!" ucap Zeo ikut badmood Sean lupa sama ucapannya tadi.
"Iya...ayo!" Ajak Sean. Mereka berjalan ke arah tiga wanita yang mengenakan baju berwarna peach, yang duduk di kursi di temani makanan mereka masing-masing. Di meja lain, tak jauh dari mereka ada keluarga kecil Leon yang melakukan hal yang sama, menyantap hidangan yang ada.
"Assalamu'alaikum...Kay." salam Sean, menarik kursi yang kosong di taruh di sebelah Kanaya, lantas ia duduki. Juno dan Zeo pun melakukan hal yang sama.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Kanaya.
__ADS_1
"Kamu..." kata Raina, seketika wajah nya tak ceria.
"kenapa..?" tanya Juno datar. Zeo tersenyum melihat itu, tapi tidak dengan ketiga manusia yang duduk di sana. Malah mereka heran, kok bisa mereka saling mengenal.
"Tahu sama nih orang?" tanya Kanaya.
"Ihh, enggaklah! Namanya aja tidak tahu. Dia nih yang nyosor waktu balik dari cafe." ujarnya. Sontak Liana dan Kanaya Ketawa.
"Kok malah ketawa? Bukannya ngilangin kesel,,,eh malah nambahin." ujar Raina cemberut. Sedangkan Juno tak bisa memalingkan dirinya dari pesona gadis yang memberinya tumpangan, lebih tepatnya memaksa sih!.
"Di liatin tuh!" goda Liana menyenggol lengan kanan Raina.
"Ihh,,apaan coba! Enggak jelas amat." seru Raina.
"Udah-udah,,,enggak lagi deh," ucap Liana mengangkat jari tangannya berbentuk huruf V di kiriman kananya. Walaupun Raina kesal, mereka tetap berbicara dan bercerita.
"Sayang! Yang aku omongin tadi itu beneran loh!" kata Leon terang-terangan.
"Mas udah...Pikirannya kok ke haluan sana terus sih! bawaannya mas Leon mesum mulu!" kata Zahra malu-malu, lekas ia memutus kontak mata dengan suaminya. Jangan sampai lihat pipinya yang memerah.
"Baiklah,,,enggak lagi deh! Tapi kalau cuma ada Afa. Selain itu, langsung gas." kata Leon. Zahra langsung melotot mendengar perkataan suaminya, pasalnya Leon tak pernah main-main sama ucapannya. 'Nanti tidak bisa jalan! Kalau di serang terus' pikir Zahra. Leon tersenyum lebar, melihat ekspresi wajah sang istri. Hari-harinya berubah drastis, setelah mempersunting Zahra. Harinya tambah indah untuk di lalui.
waktu berlalu begitu saja, para tamu undangan satu per satu beranjak pulang. Begitu juga dengan sahabatnya. Kediaman Abba yang semula ramai, kini lengang sudah. Hanya ada penghuni tetap saja.
"Sayang sekarang sudah tak ada tamu undangan, ayo istirahat." Leinard mengulurkan tangannya supaya sang istri ikut berdiri. Kaira menyambut uluran tangan sang Suami. ia pun ikut berdiri, tapi tak lantas berjalan.
"kenapa...?" tanya kang suami.
"kesemutan..." jawabnya tersenyum malu, 'ada-ada saja' batin Kaira pada dirinya sendiri. Leinard menggendong istrinya ala bridel style ke kamar mereka.
"mas,,,malu! turunin Kai." pintanya.
"udah nurut aja!" kata Leinard tak terbantahkan. ia terus berjalan sampai ke kamar.
__ADS_1
*****.....*****