Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 40. Akhirnya Terikat juga (Sean&Kanaya)


__ADS_3

Di pagi yang cerah ini, rumah kecil itu tampak indah karena sudah di sulap begitu cantik dengan dekorasi yang membentang dari luar sampai ke dalam. Tim mua yang bekerja cukup keras, sehingga menghasilkan dekorasi yang sangat bagus, di dominasi warna ungu dan putih. Yah, itulah warna kesukaan dari calon pengantin wanita.


Semua tatanan pun di buat dengan warna serupa, tak terkecuali dengan dekorasi di kamar. Tapi bedcover yang digunakan ialah warna putih tulang yang sangat cerah.


Di dalam kamar itu ada enam orang, dimana dari mereka ada 4 tim mua yang mengurus mempelai wanita. Agar nantinya tampak cantik dan mendominasi diantara semua. Ya ialah! Orang sekarang yang punya acara itu mereka.


Acara akad akan di langsungkan pada jam 09.00 WIB nanti, karena sekarang masih jam 7 dan para mua masih awal memoles bedak di wajah cantik Kanaya. Di kamar pun, ada Double single yang tak lepas dari ke jombloan hakiki. Mereka adalah Raina dan Alina, yang sudah pagi-pagi sekali datang. Mereka tak mengenakan pakaian untuk drescode pernikahan, melainkan baju gamis sehari-hari yang di kenakan. Baju ganti di bawa di bag mini yang di jinjing oleh tangan kanan masing-masing. Karena mereka akan berganti pakaian di rumah Kanaya saja.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh..." Salam Kaira kepada orang yang ada di kamar, yah! Dia datang sendiri. Sesuai perjanjian yang di setujui oleh suami dan dirinya. Bahwa mereka akan bertemu di rumah Kanaya saja, karena Leinard yang datang ke rumah pengantin pria. Dia akan mengantar Sean dari kediamannya langsung. Jadi yang nganter Kaira supir yang di pekerjakan suaminya.


"Waalaikumsalam..." jawab orang yang


berada di dalam kamar itu.


"Cantik sekali sih Nyonya Leinard." Ujar Alina ketika Kaira membuka cadar nya saat di dalam kamar.


"Kayak nya lipstik ku kurang deh..." gumam Raina pada dirinya sendiri, saat melihat pantulan wajah nya di cermin segi empat yang ia pegang.


"Sih, sekate-kate lu neng, udah kayak gitu aja! Cantik kok. Jangan nambah-nambah lagi. Nanti manten kalah pamor kan berabe." kata Alina menggoda Pengantin, matanya melirik ke arah Kanaya yang di pasangakan hijabnya oleh mua.


"Enggak apa-apa lagi! Siapa tahu nanti ada tamu undangan yang ke cantol. Kan bisa langsung ngucapin ijab qabul, setelah kami." balas Kanaya yang balik menggoda Alina.


"Tidak gitu juga kali konsepnya! Meskipun kebelet nikah." kata Raina menimpali ucapan teman-temannya.


"Perasaan dari kemarin yang di bahas itu-itu aja, Apa jangan-jangan kalian sudah ada yang khitbah ya? Hayoo ngaku? Gitu ya sama teman main rahasia-rahasiaan" ujar Kaira sembari menelisik wajah kedua jomblowati itu.


"Yey,,,enak aja! Enggak juga sih. Kan waktunya kanusim nikah, makanya bahas itu melulu. I-iya kan Lin?" kata Raina.


"Benar banget tuh! Masa iya kita rahasia-rahasiaan, tidak lagi!" seru Alina. Tak lama Zahra dan putrinya pun muncul di ambang pintu kamar.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." salam Zahra dan si kecil Zalfa.


"Waalaikumsalam..." jawab mereka kompak, lengkap sudah personil bestie ini. Mua yang sudah menyelesaikan tugas nya pun undur diri dari kamar pengantin itu. Mereka tampak cantik dengan baju gamis berwarna lilac, kecuali sang pengantin yang memakai gaun pengantin berwarna putih.


"Afa kok tambah gemes sihh! Sini sama aunty Kaira..." pinta Kaira sembari memanggil-manggil putri sahabatnya itu. Zalfa mendekat ke arah Kaira, dia pun langsung mendudukkan Zalfa di atas pangkuannya.


"Zahra, rombongan mempelai laki-laki udah berangkat apa belom ya! Soalnya ini sudah jam 08.24 wib loh." tanya Kaira kepada Zahra.


"Tunggu dulu yah! Aku mau nanya suamiku dulu." jawab Zahra.


"Iyadeh yang punya suami,,," canda Alina.


"Alina mah, kerjaannya bercanda terus! Mau info terupdate enggak sih? Kalau tidak, aku enggak mau nanya?" kata Zahra.


"Buruan deh say, nanya sama akang mu!" pinta Alina, diapun sebenarnya kepo dengan keberangkatan mempelai laki-laki.


Tak lama pun Zahra segera menepi ka arah jendela kamar, dia akan menghubungi suaminya. Zahra segera mengetik My husband di papan ketik, untuk mencari no kontak suaminya. Setelah muncul no yang di cari, dia langsung menekan no kontak itu. Untuk menelfon sang suami.


Suara dering benda pipih, yang berada di saku jas yang di kenakan Leon. Leon oun merogoh benda canggih itu. Dia melihat nama yang tertera di layar handphone nya "My Queen" yang ada emot hati, yang berwarna merah menyala. Dia segera menggulir gagang yang berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum mas..." [Zahra]


"Waalaikumsalam Baby, ada apa hmm? Rindu kah, karena tak melihat wajah tampanku." ujar [Leon] dengan percaya diri.


"Ohh,,,ternyata suamiku narsis juga yah! Sayangnya tebakan mu salah, aku mau nanya kalian udah ada dimana?" [Zahra]


"Ini mau berangkat kok, tinggal nunggu pengantin turun dari kamarnya." [Leon]


"Oooh, yaudah kalau gitu! Kalau berangkat nanti hati-hati yah!" [Zahra]

__ADS_1


"Iya Sayang,,,kamu enggak mau nanya keadaan aku nih!" Goda [Leon]


"Ngapain nanya? Udah tahu kok! udah ya mas, aku tutup dulu telephonnya. Assalamualaikum..." Zahra pun mengakhiri panggilan telepon nya dengan suami.


"Bagaimana?" tanya Kanaya saat Zahra berjalan menghampiri mereka.


"Baru mau berangkat, nunggu calon pengantin turun." jawab Zahra.


Setengah jam berlalu, tamu undangan dan rombongan dari mempelai pria datang, mereka turun dari mobil. Begitu pun dengan keempat sahabat Sean, mereka berdiri di belakang sean. Sedangkan di sisi kanan dan kiri Sean ada Papa Arya dan Mama Indira.


Karena acara akad nya akan di gelar outdor, di halaman yang akan Jadi tempat acara, sudah tampak kursi yang terisi dengan tamu undangan. Hanya beberapa yang kosong, tamu undangan pun langsung menempati kursi yang kosong termasuk para sahabat yang duduk di kursi paling depan. Mama fan ibu Kanaya pun duduk bersebelahan di kursi yang disediakan paling depan dan dekat dengan meja akad.


Sementara Sean dan Papa nya langsung menuju meja akad, dimana sudah ada bapak penghulu disana. Sean berusaha mengontrol diri agar kegugupan tidak mendominasi dalam dirinya. Dia menarik dan menghembuskan nafas nya. Wali dan para saksi sudah lengkap, tinggal langsung memulai acaranya.


Acara demi acara pun berlalu dengan baik, sampai beranjak ke acara selanjutnya. Yaitu acara inti, proses ijab qabul.


"Bismillahirrahamanirrahim...Makhtubataka binti Kanaya Hana Maghfirah alal mahri majmuet min 'adawat alsala"


Sebelum menjawab ucapan pak penghulu, Sean kali menghembuskan nafasnya agar nervous yang mendera ikut pergi.


"Qabiltu nikahha watazwijaha bil mahril madzkur haalan" jawab Sean lancar dalam satu tarikan nafas saja.


Bagaimana para saksi...?


"SAH..." para saksi pun berucap serentak dengan suara keras. Mama indira dan ibu Tima menangis haru, saat mendengar parabtamu undangan menyebutkan kata 'Sah'.


"Alhamdulillahirabbal alamin,,,Baaarokalloohu Laka Wa Baaroka 'Alaika Wa Jama'A Bainakumaa Fiii Khoirin" ucap pak penghulu


Sementara di dalam kamar, suasana haru pun terjadi. Mempelai wanita menangis haru, karena sekarang dirinya sudah menjadi seorang istri dari Sean Naufal Pahlevi.

__ADS_1


"Alhamdulillah Sah..." ucap mereka. Tak lupa mereka memanjatkan do'a. Setelah itu mereka memeluk sang pengantin dengan linangan air mata bahagia.


*****.....*****


__ADS_2