
Ekor mata Leinard menangkap bayangan seseorang dari samping mobil. "Masih tetap rupanya..!" gumam Leinard dengan nada dinginnya.
"Apa mas Leinard?..kayak nya berbicara sesuatu, tapi aku enggak kedengeran!" ucap Kaira melihat ke arah sang Suami dengan mengembangkan senyum di balik masker yang menutupi area hidung sampai dagu bawah.
"Enggak kok Baby..." ujar Leinard sembari mengelus punggung tangan Kaira di bawah meja kayu itu.
Tak lama kemudian, si penjual es dawet datang membawa pesanan mereka. Penjual itu menata es di ata meja. "Silahkan dinikmati es dawet nya Neng!" kata si pedagang es dawet.
"Pak nambah satu ya! Tapi di bungkus." ujar Kaira sebelum penjual itu beranjak pergi kembali ke gerobak nya.
"Iya Neng..." sahut si penjual es dawet. Leinard yang sedari tadi menjadi pendengar hanya diam saja, dia pun tak berniat untuk mencicipi es yang ada didepannya. Seumur-umur, ini kali pertama nya dia membeli sesuatu di pinggir jalan. Apalagi di pedagang kaki lima seperti ini. Ia hanya menatap es itu, dengan muka datarnya. Ia saja meringis membayangkan minuman aneh menurutnya melewati kerongkongan nya.
Sementara Kaira langsung melahap habis es dawet miliknya, iler nya terasa meleleh melihat es itu. Tak terasa miliknya tinggal separuh gelas besar, sedangkan milik Leinard tidak kurang sedikit pun! Di pegang aja enggak. Gimana mau kurang!.
"Ihh,,,mas Leinard kok enggak di minum! Dari tadi cuma di lihatin doang. Emang bakalan masuk ke dalam mulut kalau di pandangi saja! Enggak kan?" tutur Kaira. Leinard tang ditanya seperti itu jadi gelagapan, masa iya dia mau berbicara sejujurnya! Kan tidak mungkin. Dia juga tahu kok menjaga perasaannya orang, walaupun seperti itu.
"Emm,,,anu sayang!" ujar Leinard takut-takut. Pasalnya dia tidak punya alasan yangnkuat untuk menolak minuman itu. Kaira yang paham dengan suaminya, memfokuskan pandangan ke arahnya. Sembari tangan nya yang menyendokkan es dawet ke mulut sang suami.
Leinard ingin menolak, tapi karena tatapan dari Kaira membuatnya tidak bisa berkutik. Ia pun membuka mulut nya saat sendok itu berada di depannya.
"Aaa.....!" Leinard spontan saja membuka mulutnya lebar-lebar. Lalu ia menelan sedikit-demi sedikit es dawet itu, menikmati rasa yang mengalir di kerongkongannya.
"Gimana? Enak kan Mas?" tanya Kaira menaik turunkan kedua alisnya, menggoda sang suami. Karena mukanya seperti ingin menelan racun saja.
Leinard mengangguk setuju, es dawet sangat enak dan manis. Ia jadi ingin menghabiskan es dawet miliknya. Sesaat Leinard mengalihkan pandangannya, melihat ke arah sekitarnya.
'Mereka bertambah...' batinnya. Ia tersenyum penuh arti. Lalu ia mengetik sesuatu di benda pipih yang canggih nan cerdas miliknya. Ia mengirim ke sahabat dan bodyguard nya.
Tidak sampai menghitung menit, mereka sudah membaca pesan dari Tuannya. Mereka pun langsung bergerak menuju tempat sang Boss. Namun, mereka tidak memakai pakaian dinasnya, melainkan berbaju santai seperti orang lain. Karena mereka akan membaur dengan masyarakat sekitar, dan juga istri dari Tuannya ini tidak mengetahui yang terjadi.
Selang beberapa menit, mereka sampai karena tidak terlalu jauh lokasinya. Sehingga memungkinkan mereka cepat sampai. Anggota Leinard pun berdatangan, sebagai pengunjung dan pejalan kaki di area sekitar. Mereka mengamati pergerakan pengintai itu.
__ADS_1
Salah satu dari temannya, mengetahui kejanggalan dan orang-orang yang berdatangan.
"Gawat! Pergerakan kita terbaca..." ucap si penguntit kepada temannya.
"Terus bagaimana? Apakah tetap disini mengantarkan nyawa atau pergi?" ujar temannya yang satunya.
"Kamu bodoh apa enggak punya otak sih? Ya jelas pergi lah secepat mungkin. Yang penting kita sudah mendapatkan info dan juga foto mereka." ucap yang satunya.
Mereka pun pergi dari tempat itu, karena tak ingin nyawa mereka yang melayang di tangan Tuan berdarah dingin. Namun, kecil sekali bagi mereka bisa meloloskan diri.
'Dasar tikus-tikus pengecut!' batin Leinard.
Melihat es dawet sang istri sudah habis, Leinard pun mengajak pulang. Karena di luar terlalu berbahaya bagi Kaira dan calon bayi yang ada di dalam kandungan nya.
"Sayang ayo pulang! Sebentar lagi kan petang akan datang, Biar sampai rumah pas sebelum adzan maghrib di kumandangkan." kata Leinard.
"Yaudah ayo! Biar aku bayar dulu yah!" pinta Kaira.
"Mang berapa ya harga es dawet nya?" tanya Leinard kepada si penjual.
"Lima belas ribu aja, Tuan!" jawab si pedagang. Leinard pun mengeluarkan tiga pecahan uang seratus ribu. Lalu memberikan semuanya kepada si penjual es dawet.
"Tuan ini kebanyakan, satu aja saya tidak punya kembalian!" ujar pedagang lagi.
"Tidak apa-apa Mang! Saya ikhlas kok." tutur Leinard sembari menyodorkan kembali uang yang di tolak.
"Makasih Tuan! Semoga Allah swt memberikan ganti yang lebih baik!" ucap si penjual tulu. Leinard hanya menanggapi dengan senyuman yang hangat.
Leinard pun kembali kepada sang istri yang masih duduk. "Baby udah selesai, ayo kita pulang!" ajak Leinard kepada Kaira.
"Iya Mas...punya Pak Lukman udah kan yah?" tanya Kaira sembari berdiri dari bangku kayu itu. Sang suami pun dengan sigap membantu sang istri berdiri.
__ADS_1
"Sudah kok..." sahut Leinard sembari memperlihatkan kantong plastik berwarna hitam yang ia pegang. Lalu Leinard menggandenga tangan Kaira, mereka pergi ke mobil yang terparkir di seberang jalan.
Ceklek....
Pintu mobil di buka Leinard, lalu ia menyuruh sang istri masuk ke dalam mobil. Setelah itu, ia pun juga ikut masuk.
Kaira mengambil kantong plastik dari tangan sang suami. "Pak Lukman, ini es dawet buat bapak." ucap Kaira.
"Makasih Nyonya, sudah mau repot-repot membelikan untuk saya." ujar pak Lukman.
"enggak apa-apa kok pak! tidak merepotkan sama sekali." balas Kaira.
Setelah itu pak Lukman menghidupkan mesin mobil, lalu menancap gas melaju dengan kecepatan sedang.
"Emm,,,mas! Tadi kamu kok kelihatannya khawatir saat di tempat pedagang itu." tanya Kaira. Bukannya ia tadi tidak tahu, hanya saja Kaira diam dalam keingin tahuannya.
Deg....!
mimik wajah Leinard langsung berubah tegang. 'jangan sampai Kaira tahu sebelum waktunya.' batin Leinard.
"Mas Leinard! di tanya kok malah bengong?" tanya Kaira lagi.
"E-enggak kok Sayang! hanya tadi itu...aku kepikiran sama pekerjaan aja yang belum selesai." kilah Leinard dengan gugup.
"Ohhh,,,kalau lain kali mas Leinard sibuk, tidak usah jemput aku. Kasian kan pekerjaannya jadi tertunda." kata Kaira merasa tak enak hati. Karena sang suami meninggalkan pekerjaan karena dirinya.
'Ya Allah,,,punya istri kok polos banget ya! Tapi bukan maksud ku ingin menutupi sesuatu, nanti aku pasti bakalan cerita kok Sayang. Tapi tidak untuk saat ini.' batinnya.
*****.....*****
Maaf ya readers baru up, dan kadang-kadang samapi dua hari tidak up. Soalnya ngerjakan tugas kampus masih...sekali lagi minta maaf yang sebesar-besarnya ya🙏
__ADS_1