Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 72. THsM


__ADS_3

"Gimana udah enakan?" tanya Leon dengan penuh perhatian kepada istrinya. Zahra pun mengangguk lemah, mengiyakan pertanyaan suaminya.


"Yaudah sekarang istirahat saja ya," pinta Leon kepada Zahra. Tangannya pun tak henti mengelus perut istrinya yang sudah membuncit itu. Elusan tangan yang di berikan Leon padanya, mampu mengurangi gejolak di dalam perutnya.


Tak lama kemudian, Zahra pun terlelap. Karena tadi malam dirinya tidak beristirahat dengan baik, sehingga tak membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur. Leon masih masih dengan sabar mengelus perut Zahra.


Gebruaak...!


Tiba-tiba saja, pintu terbuka dengan suara yang lumayan keras. Membuat Leon, ingin mengumpat orang yang berani-beraninya mengganggu mereka. Di tambah lagi Zahra yang baru nyenyak, membuat emosinya ndi ubun-ubun.


Leon langsung menoleh ke arah pintu, terlihat lah sosok putri kecilnya disana. Dengan wajah bantal nya, dengan tangan kanannya memegang boneka teddy bear yang imut. Dimata Leon Zalfa tak kalah imutnya, apalagi rambut acak-acakan putrinya yang mirip dengan Tarzan.


"Bunda....!" rengek Si kecil sembari menghampiri kedua orang tuanya.


"****..." ujar Leon, mau marah, tapi sama siapa? Soalnya yang datang itu anak nya sendiri. Andai saja itu bukan Zalfa, jelas orang itu tidak akan bisa terhindar dari amukannya.


Leon pun segera menyuruh anaknya diam, dengan menaruh jari telunjuk nya di depan bibir yang terkatup. Lalu, ia segera menangkap tubuh kecil putrinya membawa dalam pangkuannya.


"Sayang, jangan berisik! Kasian Bunda baru bobok." Ucap Leon kepada anaknya memberikan pengertian. Sang anak pun melihat ke arah Bundanya yang terlelap seperti yang dikatakan Deddy nya.


Zalfa pun meringsek ke arah Bunda Zahra, lalu ikut berbaring. Memeluk erat tubuh wanita yang sudah mencurahkan kasih sayang untuknya. Leon tersenyum melihat putri nya yang begitu menyayangi Zahra.


"Jangan ganggu Bunda ya, Nak." Ucap Leon lagi.


"Iya Deddy" jawab Zalfa patuh. Mana mungkin juga ia mengusik wanita cantik yang tengah tidur itu, yang ada ia ingin lanjut tidur lagi. Beberapa menit kemudian, kedua wanita cantik berbeda generasi itu sama-sama tertidur nyenyak. Leon pun mencium kening mereka satu persatu, lalu pergi ke ruang kerja nya.

__ADS_1


*****


Sementara di kediaman Leinard.


Seperti biasanya, setiap pagi Kaira akan membuat kan sarapan untuk suaminya. Ia akan disibukkan dengan menyiapkan perlengkapan kerja Leinard, seperti saat ini.


Setelah selesai menata makanan di meja makan, Kaira pun naik ke atas ke kamar utama. Setelah sampai di depan pintu, ia pun segera membuka pintu itu, tampak lah perawakan laki-laki tampan yang digilai banyak kaum hawa. Beruntung nya Kaira mendapat kan suami seperti sosok Leinard.


"Mas, sudah selesai ya?" Tanya Kaira setelah berada tepat di depan suaminya.


"Belum Sayang, tinggal pasang dasi." Jawab Leinard sembari mengancingkan baju kemejanya. Kaira pun mengambil alih, dan meneruskan mengancingkan baju Leinard yang belum selesai.


Kemudian, ia juga mengambil dasi yang tadi disiapkan di atas ranjang mereka. Karena perbedaan tinggi yang terlalu jauh, meskipun berjinjit tidak sampai juga. Leinard pun membantu sang istri, dengan suara kekehan yang terbit di bibir seksinya.


"Hehehe, kasian sekali orang semampai (tinggi tak sampai) ini." Ujar Leinard sembari mengangkat tubuh kecil istrinya. Kaira mencebikkan bibirnya, karena Leinard yang mengatainya pendek. Padahal menurutnya, laki-laki itu yang terlalu jangkung.


"Tidak sama sekali, Baby! Menurut ku kamu sangat ringan. Seperti...." Kata Leinard sengaja menggantung ucapannya agar Kaira penasaran. Dan benar saja, istri kecilnya ini kepo dengan kelanjutan omongannya.


Kaira memicingkan mata ke arah Leinard, menunggu dengan tak sabar. "Seperti...!" ulang Kaira, agar Leinard kembali meneruskan.


Namun, Leinard kekeh tak mau meneruskan, kecuali istrinya nemberi hadiah berupa ciuman di pagi hari.


"Cium dulu, baru aku kasih tahu!" ucap Leinard sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Ish, perhitungan banget sih sama istri sendiri." Gerutu Kaira kepada Leinard. Meskipun begitu, ia tetap melakukan apa yang diinginkan Leinard.

__ADS_1


"CUP! Sudah kan. Ayo sekarang!" Pinta Kaira tidak sabar.


"Sayang, yang aku minta ciuman, bukan kecupan." Kata Leinard tak terima. Pasalnya Kaira hanya menempelkan di pipinya saja, dengan durasi yang seperkian detik.


"Tidak! Pokoknya aku tidak mau. Kamu harus menepati apa yang kamu katakan tadi, yang penting Aku kan menuruti permintaan kamu, Mas." Ucap Kaira tak mau kalah dari suaminya.


Karena Kaira memberikan ultimatum seperti itu, mau tak mau Leinard harus melakukannya, agar istri kecilnya ini tidak ngambek, apalagi kalau sampai puasa berbicara sama dia. Oh tidak! Jangan sampai itu terjadi.


"Hem, baiklah. Baby, kamu ringan seperti bulu angsa." Ujar Leinard berbisik di sebelah kuping Kaira.


Sedangkan Kaira dibuat tidak fokus karena kelakuan Leinard, ia jadi bergidik ngeri. "Hah, cuma itu! Aku bela-belain sampai melakukan persyaratan kamu, tapi hanya itu. Sampai-sampai di samain sama bulu angsa, emang benar-benar Mas Misua...!" teriak Kaira bersungut-sungut. Karena Leinard berhasil mengerjai dirinya. Sedangkan yang di panggil sudah ngacir duluan pergi dari kamar. Takut kena amukan singa betinanya.


Di balik, kejengkelan Kaira ia masih tersenyum, karena mengingat kelakuan absurd suaminya. "Ternyata salah ya, Aku kira dia akan terus seperti macan, ternyata suamiku lebih lucu dari anak kucing." Monolog Kaira. Ia pun segera keluar menyusul sang suami yang sedari tadi terus tertawa tiada henti.


*****


Alina sudah lebih dari dua minggu keluar dari rumah sakit, dirinya sudah pulih. Namun, Raina tidak mengizinkan di kembali bekerja, sebelum ia benar-benar sembuh. Ia duduk di depan TV, sembari menekan-nekan tombol remot mencari chanel sesuai yang diinginkan. Dengan wajah di tekuknya menatap datar ke layar menyala itu. "Sungguh membosankan..." gumam Alina.


Tak lama kemudian, suara bel berbunyi. Pertanda ada tamu datang. "Siapa sih? Ganggu..." gerutu Alina dengan langkah kaki gontai nya mendekati pintu.


Ceklek....!


Pintu pun terbuka, disana ada dua pria yang berdiri kokoh dengan tubuh atletisnya yang di balut dengan setelan baju formal yang terlihat mahal. Alina dibuat terbengong dengan kedatangan orang tak terduga. Emang sih, dirinya menanti orang ini karena perjanjian mereka tempo hari di rumah sakit. Namun, sampai dua pekan lamanya batang hidung orang di depannya ini tak kunjung kelihatan juga, sampai pada akhirnya Alina memiliki persepsi yang negatif. Bahwasanya Zeo hanya ingin mempermainkan dirinya saja, terbukti dengan orang ini tak kunjung mencarinya.


Zeo pun saat melihat wanita yang ia rindukan itu, tersenyum bahagia. Karena tuntutan pekerjaan membuat dirinya harus pergi dan menabung rasa rindu di hati. Karena tak mungkin adanya pertemuan diantara mereka yang sedang berjauhan dan beda benua.

__ADS_1


*****.....*****


Assalamualaikum Guys, Jangan lupa saran dan kritikannya ya Readers, agar kedepannya bisa lebih baik. Thank you all🤗


__ADS_2