Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 88. THSM


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu, setelah percakapan Zeo dan Alina lewat telepon. Sampai sekarang, Mereka tiada memberi kabar lagi. Sedangkan, Alina sudah dibuat gelisah tiada henti, karena Zeo tidak memberi tahu kelanjutan persiapan acara mereka yang akan dilaksankan minggu depan. Barangkali ada yang bisa ia bantu lagi, biar tidak cuma diam menerima beres saja. Sungguh, ia merasa tak enak hati.


Duduk sendiri diruang tamu, sembari memikirkan kehidupan nya. Yang akan berubah, sebentar lagi. Yah, dialah Alina. Sahabat baik Kaira. Sebenarnya, ia merasa keberatan dengan usul Zeo, yang akan melangsungkan acara pernikahan mereka dalam waktu dekat. Karena ia tahu, sahabat nya Kaira tidak akan bisa hadir, apalagi, belum keluar dari rumah sakit sampai sekarang.


*****


Tok! Tok! Tok!


Sudah sedari tadi Zeo mengetuk pintu apartemen Alina, Namun sampai saat ini tak ada yang membukanya. Zeo sangat khawatir, takut terjadi sesuatu pada Alina. Tanpa berfikir lagi, dengan lancang ia menekan nomor sandi pintu nya. Yah, apa yang tidak bisa Zeo ketahui tentang Alina. Hal sekecil apapun itu, Ia pasti mengetahui nya.


Setelah pintu terbuka, Dia langsung menerobos masuk. Ia bisa bernafas lega,saat melihat siluet sosok calon istrinya yang termenung di ruang tamu. Ia pun mulai memelankan langkah kakinya, sampai tidak menimbulkan suara.


Setelah berada di dekat Alina, ia pun mencodongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Assalamualaikum..." salam Zeo dengan lirih.


Deg!


Suara itupun mampu, membuyarkan lamunan Alina yang sedari tadi, sudah entah sampai dimana.


Karena sadar dirinya hanya seorang diri, di apartemen nya. "Astagfirullah! Jangan-jangan itu hantu...." lirihnya, tanpa mau menoleh kesebelah nya. Dengan sigap, ia mengambil bantal sofa disampingnya.


Buk! Buk! Buk!


"Rasain Lo! Pergi hantu! Pergi...! Kamu nggak kasian apa? Sama aku yang hanya tinggal sendirian." Ujar Alina dengan mata yang terpejam erat.

__ADS_1


"Aww... Aww... Aww! Sayang berhenti!" Zeo mengaduh kesakitan karena aksi Alina yang tak ia sangka.


Mendengar suara yang sangat familiar, Alina pun menghentikan aksinya, dengan perlahan-lahan ia memberanikan diri, untuk membuka kedua matanya yang terpejam.


"Astagfirullah...!" Alina dibuat shock dengan keberadaan Zeo yang berdiri tegak di depannya, apalagi ditambah wajah kesal laki-laki itu.


"Haish! Sayang, kamu kenapa sih kasar banget? Ini mah namanya KDRT tahu. Terus apaan coba, nyama-nyamain Aku seperti hantu!. Mana ada hantu segagah dan setampan Aku." Kesel nya Zeo, karena mendapatkan timpukan bantal sofa dari Alina.


"Salah sendiri! Siapa suruh main masuk ke rumah orang. Untung aku tidak punya riwayat penyakit jantung, kalau tidak? Kamu bakalan sendirian berdiri diatas pelaminan." Sembur Alina juga, ia juga sangat kesal dengan kehadiran Zeo yang datang tiba-tiba di apartemen nya.


"No! jangan berbicara seperti itu," ucapnya tidak suka.


Sang sekertaris hanya bisa menahan tawanya sedari tadi, melihat keributan dua pasutri yang tiada henti beradu argumen. Zeo yang tahu, dengan gelagat orang kepercayaan nya, hanya menatap nya dengan tajam. Ia sudah kehilangan pamor di depan asistennya, hanya karena Alina. Bagaimana tidak? Hanya wanita itulah satu-satunya yang mampu membantah Zeo.


'Dasar Bos bucin! Takut banget dia sama calon nyonya muda. Sampai-sampai orang kena juga.' Batin Kevin mendumel kesal, dengan perbuatan sesuka hati Bos nya.


Melihat raut masam asisten nya, Zeo pun menghampiri Kevin. Lalu membisikkan sesuatu, yang membuat Kevin tersenyum dengan lebar. "Tenang aja, bonus bulan ini aku tambah. Cepat senyum! jangan sampai Alina berfikiran macam-macam." Pinta Zeo kepada sang asisten. Tanpa berbicara apapun, Kevin langsung tersenyum dengan lebar.


Alina mengernyitkan dahi heran, dengan tingkah keduanya yang sama-sama aneh. "Kalian ngapain sih? Pakek bisik-bisik segala lagi!" sewot Alina karena merasa diabaikan, apalagi Zeo yang masih saja memeluk pundak Kevin! Sangat aneh menurutnya.


Sedangkan mereka hanya sama-sama menpilkan senyuman lebar saja, tanpa menjawab ucapan Alina. Melihat mereka tidak merespon, Alina pun kembali duduk dengan manis di single sofa yang ada di ruangan itu.


"Ekhem... Ekhem..." Zeo pura-pura batuk, untuk menarik atensi Alina kembali. Ia sampai lupa pada tujuan nya datang ke tempat wanitanya.

__ADS_1


Alina yang peka, ia pin berdiri. "Yaudah, sana duduk dulu. Biar aku ambilkan minuman." Ujar nya, setelah itu ia langsung melenggang pergi meningalkan kedua pria itu, yang sama-sama mengangguk kan kepala tanda mengerti.


Tak lama kemudian, Alina datang membawa dua minuman dingin di atas nampan. Mata Zeo berbinar melihat itu. Tapi, sedetik kemudian. Pandangan matanya beralih pada Kevin, ia tak mau asistennya mendapatkan perlakuan yang sama dengan nya.


Namun, Kevin tak memperdulikan tatapan tajam itu. Karena dirinya pun sangat haus. Apalagi saat melihat minuman orange yang dingin, tampak segar. Sangat di sayangkan jika ia melewatkan hal itu.


Alina mulai menata minuman di depan mereka. "Silahkan diminum..." tuturnya dengan suara yang lembut. Membuat hati mereka terkagum-kagum. Kalau saja, bukan Zeo calon suaminya Alina, Kevin akan dengan senang hati menikung nya. Supaya bisa memperistri wanita sholehah itu.


Kevin langsung saja meneguk minuman itu, tanpa menunggu Zeo. Sungguh ia sudah tak sabar. Sedangkan Zeo, hanya menatap Alina sedari tadi dengan sangat intens. "Segernya...." Ujar Kevin, membuat atensi Zeo beralih padanya.


Langsung saja, kedua bola mata Zeo mendelik tidak suka. Karena dengan lancang mendahului dirinya. "Shiit....!" umpat Zeo kesal, jika saja mereka tidak berada ditempat Alina! Dipastikan Kevin akan dibuat masuk ke rumah sakit.


"Ehm... Mas Zeo! Kok nggak diminum? Emang nya tidak haus?" tanya Alina, dengan lembut serta tersenyum manis kepada Zeo. Yah, Alina tahu! Bahwa laki-laki itu sangat kesal kepada asisten nya. Daripada mereka nantinya berantem, ia pun dengan lekas mengalihkan perhatian Zeo.


"N-nggak kok! Aku haus." Dengan langsung ia mengambil gelas di depannya dan memimun nya.


"Baca Bismillah dulu, Mas" Peringat Alina. Hampir saja Zeo tersedak, dengan minuman itu. Karena ia pun lupa membaca doa, apalagi ditambah dirinya sangat kesal seperti ini.


"Ha... Ha... Ha...!" akhirnya pecah juga tawa Kevin, sungguh ia tak dapat menahan tawanya lagi. Sedangkan Alina hanya mengulum senyum nya. Ia merasa tingkah keduanya sangat lucu.


"Udah, diam! Kalau tidak kamu akan menyesal." Ancam Zeo, ia sudah kehilangan imej di depan wanita pujaannya. Kevin yang mendapatkan teguran dari Bos nya, seketika langsung diam. Ruangan itupun mendadak jadi sunyi, meskipun mereka masih tetap berada di tempat yang sama.


*****

__ADS_1


__ADS_2