Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 26. Menuju Halal


__ADS_3

Mommy dan Deddy sampai di kediamannya jam 10 malam, sedangkan Leinard di dalam kamarnya. Rasa gugup menyambut hari esok tak terbendung, Leinard pengen tahu kejadian apa saja yang terjadi di rumah Kaira. Tapi ia takut di goda terus-menerus sama sang Mommy.


Drrrt...drrrt...drrrt...


Suara dering handphone membuyarkan pikiran Leinard yang berkelana entah kemana. Ia mengambil handphone dari saku celana kain yang dikenakan.


"Hallo..." ujar Leinard saat panggila tersambung.


"Tuan! Mereka tahu hari pernikahan anda." ujar si penelpon. Siapa lagi kalau bukan si Juno orang kepercayaan Leinard.


Leinard mengetatkan rahangnya karena marah dan juga rasa khawatir yang mendominasi.


"Besok jangan sampai kecolongan dan perketat penjagaan! Kalian cukup pantau terus dan tunggu perintah saya." tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya, dia mematikan sambungan telepon sepihak. Di seberang sana Juno hanya mampu mengumpat bos nya yang semena-mena.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan dari luar kamar Leinard. Leinard yang mendengar pintu kamarnya di ketuk, mendekat ke arah pintu.


Ceklek...


Sang mommy berdiri tegak di ambang pintu, ia tersenyum hangat dengan putranya.


"Mommy boleh masuk tidak?" tanya mommy.


Leinard melebarkan pintu yang semula hanya menampak kan bagian besar dirinya di balik pintu. "Masuk aja Mom! Ngapain juga izin segala." Leinard berjalan terlebih dahulu dan duduk di sofa panjang yang mepet dengan dinding kamar. Mommy pun ikut duduk di sebelahnya.


"Kamu udah makan?" tanya mommy mengawali pembicaraan.


"Iya mom..."jawab Leinard. Lalu memeluk Mommy dari samping dan menyenderkan kepalanya di bahu Mommy. Mommy tersenyum melihat tingkah manja Leinard tanyak pernah kurang kepadanya.

__ADS_1


"Kamu tahu nak! Mommy sangat bahagia mendengar kamu mau menikah, pas lihat calon mantu Mommy langsung sreg banget sama dia. Anak Mommy memang tak salah pilih." puji sang Mommy.


"Siapa dulu dong,,,anak Mommy Ranti" ujar Leinard membanggakan diri.


"Hemm,,," mommy mengangguk membenarkan ucapan Leinard.


"Tapi Mommy juga khawatir, sama rumah tangga kalian nanti kedepannya. Nak kamu kan masih bergelut di dunia gelap mu, sedikit banyak nanti kamu akan menyeret istrimu pada bahaya. Apalagi kalau sudah punya anak, kamu harus menambah penjagaan yang ketat buat mereka. Kalau bisa, mendingan kamu keluar dari dunia seperti itu." petuah Mommy Ranti.


"Leinard paham sama kekhawatiran mommy! Tapi aku tak bisa mom, langsung keluar dan membubarkan organisasi kami. Jika pun keluar, tentu kami harus menyelesaikan tugas terakhir. Nanti akan kupikirkan lagi mom" ujar Leinard pada akhirnya.


"Iya,,,Mommy paham kok! Tapi pikirkan juga perasaan orang yang bersamamu, nanti nya pasti ada rasa khawatir dan rasa itu sangat menyesakkan. Jangan sampai sisi gelapmu jadi boomerang di kemudian hari.


"Iya mom,,,Mommy yang terbaik!" kata Leinard tulus.


"Yaudah kamu tidur, besok acara kamu loh! Jangan malu-maluin besok yaa. Dari saking gugupnya nanti salah nyebut nama istri kan enggak lucu." canda Mommy sembari tertawa renyah melihat wajah melongo sang putra. Leinard menanggapi candaan mommy dengan senyum tipisnya.


Hari yang di nanti-nanti telah tiba, kesibukan di keluarga Mahmud sangat kentara. Baik dari persiapan barang seserahan yang akan di bawa sampai dengan segala macam pernak-perniknya.


"Juno bagaimana penampilan saya?" tanya Leinard lagi, entah pertanyaan yang keberapa kali ia lontarkan. Leinard menatap tampilannya yang mengenakan tuxedo mahal berwarna putih, begitupun dengan warna kopyah yang terpasang di kepalanya.


"Tuan Anda sangat tampan, nyonya pasti tak bisa berpaling nanti dari anda." Juno sangat malas menjawab pertanyaan yang sama terus menerus dari tadi.


Pintu kamar terbuka, juno melihat maid yang ada di depan pintu. "Ada apa?" tanya Juno kepada maid itu.


"Kalian di suruh turun sama nyonya besar, sebentar lagi waktunya berangkat ke rumah mempelai wanita" kata maid.


"Baiklah...!" jawab Juno, sedari tadi ini yang ia tunggu. Sungguh jengah Juno melihat tingkah Calon pengantin di depannya.


"Tuan saatnya turun." ujar Juno.

__ADS_1


"Heeem..." lantas Leinard berjalan ke luar. Begitu pun dengan Juno. Di bawah sudah ada teman-temannya yang menunggu sedari tadi. "Akhirnya lo nikah juga, tidak jadi bujang lapuk loh." seloroh Zeo. Yang di sindir malah tersenyum.


"Kamu tuh yang lapuk, umur sudah 30 tahun. Pacaran aja tidak pernah." skak Leinard. Bukannya tersinggung dia malah ketawa.


"Makanya bilangin sama istri kamu nanti, temannya buat aku satu yah." kata Zeo tanpa dosa. Mereka semua menatap tajam ke arah Zeo. Sedangkan yag di tatap hanya nyengir pepsodent.


"Jangan sampai lo ngedekatin Kanaya, abis lo di tangan gue." kata Sean.


"Awas aja lo deketin Zahra, abis juga lo. Dia itu istri gueh." kata Leon tak sadar. Mereka menatap ke arah Leon terperangah dengan jawabannya, kecuali si dokter tampan yang tidak terkejut.


"Yang bener...loh nikah enggak ngundang kita?" tanya Juno.


"Wah bener-bener lo!" kata Zeo menimpali.


"Ups,,,,sorry bro, dadakan." jawab Leon sekenanya. Mereka segera mengakhiri percakapan nya dan masuk ke mobil masing-masing. Satu persatu mobil mewah meninggalkan kediaman Mahmud. Mereka berkendara ke rumah mempelai wanita.


Setelah berkendara beberapa puluh menit, mereka sampai di rumah Abba Farukh. rumah mereka tampak ramai sekali. rumah kecil Abba tampak begitu mewah dengan dekorasi yang terbaik dan mahal tentunya.


mereka turun dari mobil, mempelai laki-laki berbaris paling depan. di sampinya ada Deddy beserta keempat sahabatnya. sedangkan Mommy berbaris di bagian kaum Hawa. mereka berjalan dengan senyuman menawan yang mereka miliki. pancaran ketampanan Leinard sangat menonjol di barisan kaum Adam.


di depan pintu sudah ada Abba yang menyambut kedatangan mereka, Deddy Ervand menyambut ukuran tangan besannya. Tak lupa pula pelukan hangat ia berikan.


"mari masuk, di dalam sudah ada pak penghulu!" ajak Abba Farukh. muka datar Leinard bertambah gugup, mendengar ucapan Abba.


saat mereka melewati pintu, mata para undangan tertuju pada rombongan mempelai pria. di ruangan yang tak seberapa luasnya, sudah ada pak penghulu di depan meja akad yang dihias sedemikian rupa. Membuat meja itu tampak indah. pak penghulu tersenyum melihat kedatangan mempelai laki-laki. Leinard di giring duduk di di depan pak penghulu dengan jarak meja diantara mereka. Abba Farukh duduk di sebelah pak penghulu sedangkan Deddy Ervand duduk disamping putranya.


"Apakah nak Leinard sudah siap?" tanya pak penghulu.


Meskipun Leinard begitu gugup, ia sebisa mungkin terlihat biasa saja, wajah datar nya ia pertahankan. Namun anggota tubuhnya tak bisa di ajak kompromi, yaitu bagian kedua tangannya. Tampak dingin melebihi es batu.

__ADS_1


"Saya siap pak!" ujar Leinard tegas.


*****.....*****


__ADS_2