Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
34. Membasmi gerogot Perusahaan


__ADS_3

Wajah Kaira langsung merah bak tomat yang masak, tidak dapat ia pungkiri. Meskipun mereka sering beribadah ranjang, tetap saja saat mendengar kata-kata absurd suaminya ia sangat malu.


"Mas Leinard..." ucapnya malu. Sedangkan Leinard tersenyum penuh kemenangan. Ia segera menggendong tubuh mungil istrinya ke ranjang king size yang dilapisi bed cover warna putih tulang.


Kaira mengalungkan kedua tangannya erat di leher jenjang milik Leinard. Ia tersenyum melihat wajah bahagia yang terpancar dari sang suami.


Perlahan-lahan Leinard merebahkan tubuh Kaira di kasur yang begitu lembut dan nyaman. Tak lupa ia mengecup kening Kaira mesra. Tak lupa ia memanjatkan do'a sebelum memulai aksi yang sangat candu untuknya.


Leinard mengangkat kedua tangannya, lalu berdo'a. "Bismillah Allahumma Jannibnis Syaithan Wa Jannibis Syaithan Ma Razaqtana." Kaira mengaminkan do'a yang di baca Leinard dalam hati.


Setelah 45 menit lamanya mereka memadu kasih, Kaira tertidur pulas. Ia begitu kelelahan akibat aksi yang di lakukan Leinard padanya. Selesai menuntaskan dahaga batinnya, Leinard langsung berjalan ke kamar mandi. Waktu yang dimiliki sebelum keberangkatannya ke Sidoarjo hanya tersisa beberapa menit saja. Dengan gesit dia membersihkan diri, hanya butuh lima menit saja dia selesai mandi.


Leinard melangkahkan kakinya menuju walk in closet, dia memilih baju yang sebelumnya akan di masukkan ke dalam koper oleh istrinya tadi. Di ruang tamu sudah ada Juno yang setia menunggu Tuannya turun. Sekarang waktu sudah lewat sepuluh menit, dari waktu yang ditentukan. Juno dibuat jengkel menunggu.


Akhirnya orang yang di tunggu-tunggu asisten menampakkan diri juga. Ya, Leinard menuruni satu persatu anak tangga dengan binar wajah yang sangat bahagia. Dia segera menghampiri Juno yang duduk di single sofa di ruang tamu.


"Ayo berangkat!" ajak Leinard. Juno berdiri bersiap untuk berangkat dengan Leinard.


"Tuan, anda sekarang berbeda banget! Seperti itukah saat kita mencintai seseorang? Sampai dari yang on time jadi telat." kata Juno menyindir atasannya.


"Terserah kamu mau berbicara apa! Karena sekarang mood saya bagus." ucap Leinard tidak ambil pusing perkataan Juno, padahal sebelum-sebelumnya, dia tak akan membiarkan siapapun berbicara tentang dirinya. Termasuk asistennya.


Dia segera berjalan ke arah pintu utama. Di depan pintu sudah ada mobil BMW keluaran terbaru. Pengawal yang melihat tuannya berjalan ke mobil, dia segera membuka pintu mobil lebar-lebar. Leinard masuk ke dalam mobil, di susul Juno yang duduk di bangku pengemudi.


Juno langsung menancap gas, agar cepat ke bandara. Juno mengendarai mobil dengan sedikit cepat, mengejar waktu molor yang di buat si Tuan singa.


"Kamu mau mati yaa! Kalau kamu bosan jadi asisten ku bilang? Aku siap mengganti asisten pembangkang seperti dirimu " sentak Leinard karena Juno yang mengemudi mobil rusuh. Ia tak suka dengan itu, raut mukanya berubah jadi garang. Karena dari tadi Juno terus membantah dirinya.


"Maaf kan saya Tuan, saya hanya mengejar waktu. Agar lebih cepat sampai." Juno membela diri.

__ADS_1


"Nyetir nya seperti biasa aja, mereka juga tidak akan bisa berangkat. Aku tidak mau mati muda!" kalimat terakhir yang di katakan Leinard terdengar menggelitik di telinga Juno.


"Hah! Hah! Hah!...Tuan anda sangat lucu. Sejak kapan anda takut kematian?" atmosfer di mobil yang tadi mencekik, seketika berubah. Karena wajah tak mengenakkan Leinard sirna, yang ada hanya wajah malu dari tuannya. Yang makan omongannya sendiri.


Tak terasa mobil mereka memasuki area bandara, karena berbicara sedari tadi. Mobil yang mereka gunakan berhenti di parkiran khusus untuk orang penting seperti mereka. Juno segera turun, membuka pintu mobil belakang. Dimana tempat Leinard duduk.


"Mereka sudah menunggu anda disana tuan." tunjuk Juno saat Leinard berdiri tepat di depannya.


"Hmm,,," jawab Leinard, ia kembali pada jati dirinya. Menjadi orang yang dingin dan menakutkan.


Mereka berjalan ke arah jet pribadi milik keluarga Mahmud yang sebentar lagi akan terbang.


Lebih dari satu jam mengudara, pesawat mereka mendarat dengan mulus di bandara Juanda. Para pengawal menunggu tuannya keluar dari jet pribadi miliknya. Disamping para pengawal yang berbaris rapi, ada mobil mewah milik tuannya.


"Tuan mau ke apartement? Atau langsung ke perusahaan?" tanya Juno.


"Kita langsung ke perusahaan saja, aku sudah tak tahan ingin membasmi gerogot itu." kata Leinard datar.


"Baiklah,,,kita akan langsung kesana!" Juno pun ikut-ikutan tidak sabar. Sudah lama mereka tidak melakukan aksi gila seperti ini.


Smirk yang mengerikan terbit di bibir Leinard, membuat orang yang mengenalnya dengan baik sangat takut. Sampai mereka mengeluarkan keringat dingin dari saking takutnya.


"Ayo lekas! Jangan membuang-buang waktuku" ucapnya sarkas. Sungguh Leinard pengen cepat urusannya disini kelar, agar bisa pulang lebih awal. Dirinya emang berada di Sidoarjo, tapi hatinya berada di mansion yang memikirkan istrinya.


Mobil mereka langsung meluncur ke perusahaan cabang milik keluarga Mahmud. Setelah menempuh waktu 45 menit, Mereka masuk ke kawasan perusahaan.


"Dia di mana?" tanya Leinard langsung ke intinya.


"Dia tetap bekerja sampai sekarang tuan." balas Juno.

__ADS_1


"Bagus! Kalau seperti itu, kita tak perlu mengeluarkan keringat untuk mencari orang tak tahu di untung itu. Benar-benar punya stok nyawa." ucapnya. Juno menyunggingkan senyum, melihat tuannya yang akan memperlihatkan taring nya kembali.


"Bawa dia ke tempat biasa." titah nya kepada salah satu bodyguard nya. Bodyguard pun langsung mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya. Sedangkan mereka langsung menuju markas bawah tanah yang berada tepat di bawah perusahaan ini.


Di ruangan yang gelap, ada manusia yang duduk di kursi agak usang. Kepalanya di tutup dengan kain penutup berwarna hitam.


Tak jauh dari itu, pemilik perusahaan raksasa duduk dengan angkuh di sofa tunggal yang khusus untuknya.


"Buka...!" perintahnya. Dengan cepat pengawal yang paling dekat dengannya, membuka penutup kepala. Bersamaan dengan itu, lampu menyala dengan terang.


Pencahayaan yang cukup, kembali menegaskan muka sang tuan yang merah padam, siap untuk meledakkan amarahnya.


Leinard berdiri menghampiri mangsanya,


"Adakah permintaan terakhirmu?" tanya Leinard dengan nada dingin. Di tangan kananya sudah ada pistol yang isinya siap menembus otak si pelaku korupsi di perusahaannya.


"A-am-pu-ni say-a tu-an." ucapnya tergagap. Dia tak mampu menghadapi kemarahan manusia bak iblis ini.


"Hah..hah..hah...tidak kah berfikir dulu otak bodoh mu itu? Sebelum melakukan hal ini. Tiada ampun bagimu gerogot kecil!" dia tertawa mengerikan, membuat lawannya kencing di celana.


"Aku tak akan bermain-main denganmu, karena belum apa-apa sudah seperti bayi saja." ucapnya meremehkan.


"To-long jangan...jangan lakukan itu." katanya takut-takut. Dia berharap orang di depannya bisa berubah pikiran. Tentu saja itu hanya ada dalam angan, karena dirinya tak akan lepas dari Leinard.


"Banyak omong!" ucapnya datar. Leinard langsung menarik pelatuk dan mengarahkan pistol tepat di kepala mangsanya.


Dor...!


Timah panas itu, menancap dengan sempurna di dahi si pelaku. Seketika dia menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2