Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 89. THSM


__ADS_3

"Emm, Sayang!" panggil Zeo, setelah lama mereka terdiam. Yah, Zeo tidak sungkan lagi memanggil Alina seperti itu, karena ia pun ingin membiasakan diri. Meskipun Alina pada awalnya menolak nya. Mengingat mereka belum terikat satu sama lainnya. Tapi karena Zeo begitu kekeuh, mau tak mau Alina mengiyakan nya.


"Hmm..." Alina menjawab dengan deheman saja. Bagimanapun, ia masih sedikit tak enak. Apalagi ada asisten Zeo disana.


"Acara pernikahan kita sudah 80%, jadi kamu tak perlu memikirkannya lagi. Yang perku kamu lakukan, hanya fokus saja sama acara kita nanti." Ucap Zeo serius. Ia tak mau lagi, membuat Alina begitu kerepotan, dengan acara mereka. Lebih baik, jika ia menyuruh anak buah nya saja, itu lebih baik.


"Alhamdulillah, kalau begitu Mas. Tapi..." Alina menggantung ucapannya, karena takut untuk mengutarakan apa yang ia pikirkan.


"Tapi, apa hem?" tanya Zeo lembut, agar Alina tidak ragu untuk berbicara dan berkeluh kesah dengannya.


"Maaf ya, aku cuma kepikiran sama Kaira saja, Dia pasti tidak bisa dateng kan" Ucap Alina dengan sendu.


"Ooo, maaf ya! Kalau itu aku tidak bisa janji sayang. Kamu kan tahu, Dia saja belum diperbolehkan pulang sama dokter. Ditambah lagi, suaminya yang sangat over protektif sekali. Jadi, kemungkinan kecil dia bisa hadir di acara penting kita." Ujar Zeo memberi pengertian kepada calon istri nya.


"Iya, Mas. Aku paham kok, tapi tetep aja aku sedih! Sahabat baik aku tidak bisa hadir di acara kita nanti."


"Kamu berdoa saja, semoga Kaira cepat sembuh. Agar bisa cepat pulang."


"Hmm, baiklah Mas." Obrolan mereka pun berhenti, setelah menyampaikan niat nya datang ke apartemen Alina, Zeo pun pulang. Ia harus menyelesaikan pekerjaan nya, agar bisa ngambil cuti nantinya.


*****


Hari demi hari sudah berlalu, dan sekarang Kaira sudah bersiap-siap untuk pulang kerumah nya. Setelah sekian hari, ia terbaring di bed rumah sakit, ini lah saat yang ia nantikan. Yaitu pulang kerumah dan bertemu Baby nya, yang sudah dibawa pulang lebih awal oleh mertua dan Umma nya.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Leinard lembut kepada istrinya.


"Iya Mas, tinggal naruh baju doang kedalam tas nya." Jawab ibu satu anak itu.


"Loh, nggak usah. Sini biar Mas saja, lagian kamu itu baru sembuh, jadi nggak boleh kecapean." Tutur Leinard, sembari mengambil tas pakaian dari tangan sang istri.

__ADS_1


"Tapi Mas..." Kaira ingin menolak bantuan suaminya. Bagaimana pun, sekarang ia sudah sehat, dan tak mau lagi merepotkan suaminya dengan hal-hal kecil seperti ini.


"No! Sayang aku tidak menerima penolakan." Tukas Leinard, memberikan ultimatum. Karena ia tahu, sang istri pasti merasa tak enak. Melihat sang istri masih diam terpaku, Leinard pun menarik kedua tangan lembut Kaira, di tuntunnya duduk di sofa di ruangan itu.


"Hai, Sayang! Dengarkan Mas. Kita ini suami istri kan? Jadi tak perlu sungkan, ini sudah tanggung jawab aku. Apalagi, kamu seperti ini karena melahirkan buah hati kita. Jadi, biarkan Mas yang mengerjakan nya ya. Kamu itu Ratu ku sayang, kamu hanya perlu duduk dengan manis saja! Love you my wife." Karena tak tahan, dengan cepat ia mencium bibir sang istri. Sungguh, ini lah godaan terbesar nya, tidak bisa menahan diri jika berdekatan dengan Kaira.


"Maass..." panggil Kaira manja.


"Kenapa, hmm?" tanya Leinard, dengan wajah polos nya, pura-pura tidak tahu maksud istri nya.


"Maluuu... Nanti Kalau ada orang tiba-tiba masuk gimana?" meskipun mereka bukan lagi pengantin baru, tetap saja Kaira merasa sangat malu.


"Tenang saja, tidak akan ada yang berani mengganggu kita." Seru Leinard masa bodoh, yang penting ia bisa bermanja dan terus berada di dekat Kaira.


"Ihh, Mas kok gitu. Aku pengen cepat pulang, aku sangat rindu Baby Athaf." Kata Kaira, agar suaminya cepat-cepat membereskan pakaian nya.


"Ohh, bilang dong sayang dari tadi." Leinard pun berdiri dari tempat duduk nya, lalu mengerjakan tugasnya dengan baik. Jika saja anak buah nya tahu, pasti ia akan ditertawakan. Mengapa tidak! Ia yang sangat datar tak tersentuh, bisa mengerjakan hal seperti ini. Sweet sekali.


Tok! Tok! Tok!


Juno mengetuk pintu ruangan Kaira. "Yah, masuk!" perintah Leinard dari dalam. Ia tahu, bahwa yang datang itu asisten nya.


Ceklek...


"Assalamualaikum, Tuan. Bagaimana persiapan nya? Apakah sudah selesai semua? Atau ada yang perlu saya bantu?" tanya Juno bertubi-tubi. Mendadak saja, ia menjadi ibu-ibu yang rempong sekali.


"Waalaikumsalam! Ish, kenapa kamu jadi cerewet sekali sih? Perasaan kamu tidak seperti itu." Tukas Leinard kepada sang asisten.


Juno yang seketika sadar, langsung terdiam membisu. Merapatkan bibir nya tanpa celah, aneh juga ya. Semenjak ia menjadi calon ayah, perubahan pada dirinya sangat ketara.

__ADS_1


"Maaf, Tuan." Sahut nya. Tapi, di dalam hati mendumel kepada atasan nya. 'Haish, dasar Bos aneh. Di perhatiin kok seperti itu sih.' batin nya.


"Udah, kamu nggak usah mengumpat segala. Mending bawa tas itu," tunjuk Leinard pada tas yang sudah diisi pakaian sang istri.


"Siap, Tuan." Jawab Juno patuh, ia pun langsung mengambil tas itu, dan membawa nya ke mobil.


Kaira hanya tertawa geli, melihat tingkah keduanya yang seperti anak-anak. "Menggemaskan sekali," komentar nya.


Leinard yang mendengar itu, menautkan kedua alisnya. "Apanya yang menggemaskan?" tanya nya penasaran.


"Kalian..."


"What?! Menggemaskan? Apa tidak salah sayang?. Masa pria segagah ini menggemaskan, yang benar saja." Leinard tak habis pikir dengan pemikiran sang istri. Darimana nya coba, mereka menggemaskan?.


"Kan, memang benar Mas!" Kaira nggak mau mengalah, ada kebahagian tersendiri baginya bisa membuat suaminya seperti itu.


"Sayang, Aku ini pria yang perkasa. Kalau kamu lupa aku bisa mengingat kan nya! Tapi nunggu masa nifas kamu selesai." Ucap Leinard pelan, di sebelah kuping sang istri. Sembari tangannya memeluk erat tubuh kecil Kaira.


Sedangkan Kaira yang mendengar itu, dibuat merinding. Ia paham kemana arah pembicaraan suaminya ini. "Iss, Dasar mesum..." Kaira melepaskan pelukan suaminya, dan berjalan lebih dulu meninggalkan Leinard yang tertawa dengan keras.


"Sayang, tunggu Aku..." teriak Leinard, setelah puas tertawa. Ia pun segera menyusul sang istri dengan langkah lebarnya. Sementara di dalam mobil, Juno menunggu majikan nya dengan sabar.


*****


"Abi, aku izin ya mau ke apartemen Alina. Yang lain juga kesana kok. Kita mau menemani calon pengantin." Kata Kanaya izin pada sang suami.


"Iya, Umi. Tapi maaf ya, Abi tidak bisa mengantar kamu. Tidak apa-apa kan?"


tanya Sean pelan. Sungguh, jika saja ia tak begitu sibuk, Sean pasti mengantar istrinya.

__ADS_1


"Hmm," dehem nya dengan lesu.


*****


__ADS_2