
Zeo tersenyum lebar ketika melihat Alina yang terlihat cantik, meskipun hanya mengenakan baju favorit ibu-ibu yaitu baju daster dan long cardigan saja, dipadukan dengan hijab instant jersey berwarna hitam sebatas dada. Namun, aura kecantikan wanita itu tetap terlihat.
"Hai, Assalamualaikum..." salam Zeo dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Alina yang semula bengong, di buat sadar dengan sapaan salam dari Zeo.
"W-Waalaikumsalam..." jawab Alina terbata-bata karena rasa gugup yang tiba-tiba mendera. Ia pun sadar bahwa sedari tadi Zeo melihat ke arahnya dengan begitu intens. Ia pun melihat dirinya sendiri, dari bawah sampai atas. Mengenakan sandal jepit, ditambah baju yang biasa saja, muka tanpa polesan bedak apapun, membuat ia kelihatan dekil. Apalagi di tambah belum mandi, hanya dini hari saja saat akan melaksanakan shalat sunnah tahajud.
Sedangkan sekarang, sudah jam sembilan. Sadar dengan dirinya yang awut-awutan membuat Alina segera bertindak. Dengan cepat ia segera menutup pintu apartemen kecil miliknya, Namun, sebelum itu terjadi Zeo terlebih dahulu mencegah, agar Alina tidak lari darinya.
"Kenapa?" tanya Zeo. Setelah ia berhasil menghentikan Alina. Sedangkan asisten Zeo berdiri saja layaknya patung. Tanpa memberikan komentar apapun terhadap mereka yang main tarik-tarikan pintu. Yah, sang asisten tak akan berani berbicara kecuali Tuannya memberikan wewenang untuknya berbicara.
"Apanya kenapa? Lepas!" pinta Alina dengan tegas. Ia tampak tak bersahabat dengan Zeo, ketika mengingat Zeo yang tiba-tiba hilang tanpa kabar. Alina tak bisa membohongi dirinya, bahwa ia khawatir dan rindu kepada orang yang berdiri di depannya ini. Bohong, jika ia tak bahagia melihat Zeo berdiri di depan pintu apartemen nya seperti saat ini, tetapi Alina berusaha menutupi itu dan terlihat biasa saja.
Sedangkan Zeo, mengernyitkan dahinya melihat perubahan sikap wanita ini padanya. Tanpa permisi ia pun langsung masuk ke dalam apartemen Alina. Begitu pun juga dengan Kevin sekertaris Zeo, ia ikut menerobos masuk ke dalam.
"Hei, kalian apa-apaan sih! Kok main masuk kedalam rumahnya orang. Emang kamu enggak punya tata krama?" sungut Alina melihat kedua orang itu yang tampak tenang duduk di sofa nya. Sementara itu, Zeo tak menanggapi Alina yang marah-marah padanya. Dia lebih tertarik melihat-lihat seluruh ruangan tempat tinggal Alina ini. 'Bersih dan tampak nyaman. Jadi, wanita ini sangat suka kebersihan. Terbukti dengan lantai mengkilap dan barang yang tertata rapi. Calon istri idaman banget.' Batin Zeo bersuara.
Meskipun Alina kesal dengan tamu tidak diundang ini, ia tetap menjamu dengan baik tamu yang tiba-tiba datang dan menyelonong masuk kedalam. Ditambah lagi tingkah mereka layaknya di rumah sendiri.
Tak lama berlalu, Alina pun datang dengan nampan yang berisi dua gelas orange jus dan beberapa potong kue lapis kukus di piring. Ia pun menata gelas dan piring di meja tepat di bagian kedua laki-laki itu yang duduk dengan nyaman itu.
__ADS_1
Alina pun duduk di single sofa di depan mereka, "Silahkan diminum." Ucap Alina kepada laki-laki itu. Zeo pun tak menolak, ia langsung memakan kue itu. Apalagi dirinya sangat lapar, pasalnya setelah jet pribadinya mendarat ia langsung menemui Alina. Tanpa sungkan lagi pun, Zeo memakan hidangan yang disajikan Alina. Apalagi yang membuat ini, pasti wanita yang ia sukai. Membuat ia bersemangat untuk mencicipi kue lapis kukus itu.
Sambil memakan kuenya, Zeo menatap kearah Alina yang sedari tadi diam saja, dengan wajah datarnya. Tak lama kemudian, kue yang ada di tangannya habis.
"Bagaimana dengan pertanyaan Ku tempo hari? Apakah jawaban yang akan kamu berikan?" tanya Zeo menatap Alina dengan seksama.
"Emm, Maaf sebelumnya..." Kata Alina menggantung ucapannya. Ia sendiri bingung harus memulai berbicara dari mana. Karena dari saking banyak nya yang ia ingin katakan.
Deg..! Deg..! Deg..!
Jantung Zeo rasa-rasanya terhenti ketika mendengar ucapan dari Alina, yang di dahului kata maaf. Kemungkinan besar, penolakan lah yang akan ia katakan.
"Hmm, Emangnya apa yang akan kamu tanyakan?"
Yang Alina takutkan adalah agama, dari laki-laki di depannya ini. Karena wajahnya yang ke bule-bulean, membuat Alina takut tidak seiman dengan Zeo. Apalagi dirinya tidak pernah melihat laki-laki ini mengerjakan kewajibannya sebagai orang yang memeluk agama. "A-apa agama kamu?" tanya Alina terbata-bata. Ia takut sekali menyinggung laki-laki di depannya ini.
Mendengar pertanyaan Alina, Zeo bisa bernafas lega. Setidak nya, bukan kalimat penolakan yang ia katakan. "Agama islam." Jawab Zeo lugas. Mendengar itu pun, Hati Alina merasa lega sedikit, tetapi saat mengingat kepergian Zeo tanpa kabar membuat ia berpikiran macam-macam.
"Ooh, Alhamdulillah kalau begitu. Kamu kan kemarin berjanji akan menagih jawaban nya di minggu pertama, terus kenapa baru datang sekarang?" tanya Alina lagi. Ia bertanya langsung, agar tidak menerka-nerka dengan pikiran buruknya sendiri.
__ADS_1
"Emm, itu karena Aku ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa aku tinggal. Makanya Aku baru datang sekarang! Minggu kemarin Aku harus melakukan pekerjaan di luar negeri." Jawab Zeo jujur. Sang asisten yang melihat Tuannya layaknya anak kecil yang patuh, mmebuat ia harus menahan tawanya agar tidak meledak.
Jika sampai itu terjadi, tamatlah riwayatnya. Zeo yang tahu, Kevin menahan senyumannya sedari tadi. Zeo pun mendelik tak suka kearah Kevin. Bukannya takut, sang asisten malah melebarkan senyumannya.
Mendengar ucapan Zeo, Alina pun di buat merasa bersalah. Karena sudah berprasangka buruk dengan Zeo. 'Ya Allah, Maafkan hamba yang sudah berprasangka buruk.' Alina membatin dengan perasaan bersalah.
Alina tersenyum, ke arah Zeo. Apalagi Zeo berbicara dengan jujur padanya. "Terus bagaimana? Apa jawaban akan kamu berikan?" Tanya Zeo lagi tak sabaran.
"InsyaAllah, jawabanku sesuai dengan yang kamu harapkan." Jawab Alina pada akhirnya.
Mendengar jawaban Alina, Zeo di buat spechlees. Rasa-rasanya ia ingin menghentikan waktu sejenak, demi mengulang jawaban yang diberikan Alina.
Dari saking senangnya, Zeo pun berdiri hendak memeluk Alina. Tinggal satu meter lagi, ia akan menubrukkan tubuh nya pada gadis itu. Namun, suara lengkingan Alina menyadarkannya. "Mas Zeo! Stop!!!" dengan lantangnya Alina bersuara.
"Hehehe, Maaf! Aku kelepasan." Sahutnya tersenyum. Ia menggaruk tengkuk nya yang tak gatal, karena saking malunya. Apalagi ada Kevin, bisa jadi bahan olok-olokan asisten tak tahi diri ini.
"Ehm,,,Ehm...!" Zeo pura-pura berbatuk, untuk mengalihkan pikiran mereka dari kelakuan absurd nya. Alina pun langsung menyodorkan minuman milik Zeo.
*****.....*****
__ADS_1