
Dia pun, memeluk erat tubuh istrinya. Leon sangat bahagia memiliki sosok istri seperti Zahra, Dia membuat Leon betah di rumah dan merasa sangat dihormati oleh sang istri. Karena perangai yang dimiliki Zahra.
Zahra membalas pelukan suaminya, tak kalah eratnya juga. Dia bersyukur memiliki Leon di sisinya. Walau saat pertemuan mereka tanpa ada kata cinta terucap, Alhamdulillah rumah tangganya yang seumur kecambah itu bahagia.
"Mas Leon, Besok aku izin ke rumah Kanaya ya. Dia kan mau nikah nih, jadi tidak etis aja sahabatnya kalau sampai tidak datang dan bantu-bantu di sana." ucap Zahra setelah melepaskan pelukan mereka.
"Emm,,,boleh enggak ya?" kata
Leon menggoda istrinya.
"Aku tetap kok mas, akan menjalani kewajibanku besok. Seperti memasak, jemput Zalfa!" ujar Zahra berusaha meyakinkan Leon, meskipun dia akan berkunjung ke rumah sahabatnya.
"Gimana ya? Kamu aja lupa kewajiban yang sangat utama dilakukan istri untuk suami apa!" ucap Leon memasang wajah datar, agar Zahra tidak melihat dirinya yang menahan tawa. Dia pura-pura memalingkan wajahnya ngambek.
"Tapi aku rasa tugas ku semuanya sudah selesai deh mas, terus tugas apa lagi?" tanya Zahra, karena dia pikir-pikir tidak pernah lalai menjalankan kewajibannya.
"Nah kan lupa! Yaudah enggak dapat izin." seru Leon.
"Hah..! Kok bisa sih mas. Perasaan aku ini istri yang baik deh." pikir Zahra sembari memikirkan hal-hal sudah berlalu.
"Beneran tidak tahu nih! Lupa apa gimana? Mau di kasih tahu tidak?" ujar Leon. Zahra langsung anggukkan kepalanya, dia benar-benar tidak tahu tugas apa yang ia lewati. Sehingga membuat Leon tidak memberikan izin.
"Baby! Yang kamu lupain itu tugas yang paling wajib loh. Yaitu memenuhi kebutuhan batin suami." seru Leon memasang senyum lebarnya.
Karena gemes Zahra mencubit lengan kanan Leon, jadi tugas ini yang dimaksud sedari tadi. "Dasar suami pelupa! Bukannya setiap malam sudah di kasih jatah." kata Zahra kesal bercampur malu, bagaimana tidak! Menurutnya dia sudah berkata kalimat yang mestinya di sensor.
"Awwss,,,Awwss! Sakit Baby." seru Leon mengelus tangan yang di cubit Zahra.
"Habisnya kamu ngeselin sih mas, pakek lupa segala lagi!"
"Iya-iya maaf! Enggak lagi-lagi deh." ujar Leon sembari merangkul tubuh Zahra ke ranjang. Sedangkan Zahra langsung was-was, dia kaku untuk duduk. Leon yang mengetahui jalan pikir sang istri tersenyum saja.
__ADS_1
"Katanya besok mau ke rumah Kanaya, mendingan kamu tidur aja." ucap Leon yang duduk di samping Zahra.
"Beneran mas...!" kata Zahra girang, Leon pun menganggukkan kepala tanda menyetujui ucapan Zahra.
"Makasih..." seru Zahra kembali memeluk Leon.
.
.
.
Setelah menunaikan shalat subuh, Zahra langsung turun ke bawah. Dia ke dapur untuk masak sarapan pagi untuk keluarga kecilnya. Walaupun banyak pelayan di mansion ini, tapi untuk urusan perut suami dan anaknya dia ingin yang membuat langsung.
"Bi! Mendingan kerjakan yang lain saja. Biar Zahra aja yang masak." ucapnya mebampilkan senyuman yang paling manis iya miliki.
"Baik nyonya." ujar pelayan itu. Bibi pun beranjak dan melakukan pekerjaan lainnya.
"Sayang..." tegur Leon dengan tatapan mengintimidasi. Dia menghampiri Zahra untuk memasang dasinya. Tapi malah melihat senyuman manis Zahra yang dia berikan kepada pelayan tadi, membuat Leon cemburu di pagi-pagi buta seperti ini.
Zahra tersenyum, melihat muka yang di tekuk milik suaminya. Saat ini mereka berhadapan, pandangan mata mereka tertuju menjadi satu. Melebur dalam mengagumi satu sama lainnya.
"Aku tidak suka kamu membagi senyuman itu, senyum itu hanya milikku" ucap Leon posesif. Zahra yang mendengar kalimat kepemilikan seperti itu, membuat dirinya menautkan kedua alisnya. "Ihh,,,apaan coba! Senyum itu ibadah lo mas, masa iya kalau ketemu sama orang mukanya judes." bela Zahra.
Diapun mengambil dasi di tangan Leon. "Menunduk sedikit mas." pinta Zahra. Bukannya menunduk, dia malah membawa Zahra dalam gendongannya. Membuat kedua kaki itu tidak menapaki lantai dapur.
"Eeh mas..!" tegur Zahra, pasalnya dia terkejut dengan tindakan sang suami.
"Begini lebih baik sayang." balas Leon tersenyum penuh kemenangan." Zahra pun tak membantah lagi, dia menurut saja dan segera menyelesaikan tugasnya.
Setelah selesai, dia pun kembali berkutat di dapur untuk kembali memasak. Sedangkan Leon duduk di meja makan ditemani secangkir teh hangat dan koran yang dia baca. Satu jam berlalu, akhirnya tinggal sedikit lagi dia menyelesaikan masakannya.
Putri kecilnya turun di dampingi maid yang khusus menjaganya.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." sapa Zalfa kepada kedua orang tuanya yang sama-sama fokus dengan pekerjaannya masing-masing.
"Waalaikumsalam Princess..." jawab keduanya kompak. Afa pun melihat ke arah Zahra, anak kecil itu menghampiri dirinya.
"Unya masaknya belum selesai?" tanya Zalfa setelah di sampai di dapur.
"Alhamdulillah sudah selesai sayang." ucap Zahra sembari mencubit pelan kedua pipi gembul milik Zalfa.
"Yey,,,waktunya makan." ucapnya gembira.
"Yaudah yuk kemeja makan, sepertinya putri Unya sudah tak sabar lagi mau sarapan." ajak Zahra, di kedua tangannya sudah ada makanan. Tinggal membawa ke meja makan.
Melihat kedua orang yang di sayangi, menghampiri meja. Dia melipat koran yang di baca, lalu di letakkan kembali di tempat semula.
Afa pun dengan senang hati berjalan terlebih dahulu ke meja makan. Zahra meletakkan makanan itu di meja, Sementara Leon membawa putrinya duduk di kursi khusus si kecil. Setelah meletakkan makanan, Zahra langsung mengisi piring Leon terlebih dahulu. Lalu mengisi piring milik Zalfa. Sedangkan dia akan makan setelah selesai menyuapi Zalfa.
"Sayang baca do'a terlebih dahulu." suruh Zalfa. Dengan sudah Afa mengangkat kedua tangannya dan berdoa'a.
"Alloohumma Baarik Lanaa Fiimaa Razaqtanaa Waqinaa 'Adzaa Bannaar" Zalfa berdoa'a.
Leon menatap ke arah putrinya dengan takjub, dia bangga dengan putrinya. Terlebih dengan orang yang mengajari Zalfa yaitu istrinya.
Leon pun bergeser ke sebelah Zalfa, sehingga anak kecil itu berada di tengah-tengah orang tuanya. Zahra menyuapi Zalfa dengan telaten, begitupun dengan Leon. Dia tak mau kalah dia menyuapi sang istri penuh kelembutan dan kasih sayang.
Mbok yang melihat itu, tak kuasa menahan air mata. Melihat keluarga majikannya, yang tak pernah seperti ini sebelumnya. "Semoga kalian selalu bahagia." gumam Mbok penuh haru.
Selesai dengan acara makan sambil suap-suapan, saatnya mereka menjalani tugas masing-masing. Mereka siap untuk berangkat, sebelumnya mereka akan mengantar Zalfa dulu ke sekolahnya. Setelah mengantar putrinya, lalu dia mengantar Zahra ke rumah Kanaya.
"Mas disini aja, tidak usah turun. langsung ke kantor aja" pinta Zahra. Leon anggukkan kepalanya. Dia pun mencium punggung tangan Leon, dan sang suami mengecup kening istrinya penuh kasih sayang.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." balas Leon.
__ADS_1
dia pun turun dari mobil.
*****.....*****