
Zeo menutup majalah yang di bacanya sedari tadi, lalu berdiri dengan pandangan mata yang terus menatap istrinya.
"M-mas Zeo mau apa?" tanya Alina dengan degupan jantung yang mulai tidak normal.
"Memang nya kenapa, hmm? Kamu tidak lupa kan, Sayang! Malam ini malam apa?" tanya Zeo dengan nada sensual di samping telinga istrinya. Membuat Alina sangat gugup. Momen pertama dirinya yang begitu dekat, eh salah! Sangat dekat dengan lawan jenisnya yang tak lain suaminya sendiri. Membuat keringat dingin menyerang Alina saat ini.
"M-malam jumat, Mas." Jawab Alina dengan polos nya.
"Good girl, kamu tahu kan sunah apa yang dilakukan saat malam jumat?" Zeo bertanya lagi, dengan posisi yang sama.
Alina mengangguk pelan. "Yah, membaca surah Al-Kahfi." Mendengar jawaban sang istri yang teramat polos, membuat Zeo lemas dan menjatuhkan kepalanya di bahu Alina.
Bukannya tidak paham kemana maksud suaminya, dia tahu betul. Alina hanya ingin menghilangkan kegugupan nya, dan mengalihkan pembicaraan mereka. Tapi, saat melihat Zeo yang tampak tidak bersemangat membuat Alina kasihan. Fia tahu kebutuhan sang suami.
"Kenapa Mas Zeo hilang semangat seperti itu? Padahal,,,tadi Alina kan ingin ngajak Mas Zeo sholat sunah dulu, baru ngerjain ibadah yang lain." Ucap Alina pelan.
Mendengar itu, Zeo terlampau sangat senang. Dirinya pun berpuluh-puluh ribu kali lebih semangat. Tanpa kata lagi, Zeo langsung menggandeng tangan Alina masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu kembali.
****
Zahra terbangun dari tidurnya, karen dirinya merasa kehausan. Diraba nya tempat sang suami yang terasa dingin. Berarti, suaminya sudah lama meninggalkan tempat nya. Melihat air yang di teko habis, Zahra pun turun untuk mengambil air minum kebawah.
Setelah minum, rasa kantuknya pun hilang. Dai pun membuatkan kopi, untuk suaminya. Beberapa saat kemudian, kopi nya pun sudah jadi. Zahra membawa kopi itu keruang kerja Leon.
Tampak pintu ruang kerja yang tidak tertutup, Zahra pun langsung menerobos masuk.
__ADS_1
Deg!
Langkah kakinya terpaku, melihat Suaminya dengan wanita lain di ruang kerjanya, dengan pelayan baru yang tak lain Farah.
Dilihat dari tempat nya Zahra, Leon tampak memeluk dengan intim pelayan barunya itu. Karena memang posisi nya Leon, yang membelakangi dirinya.
Farah yang melihat istri majikannya yang melihat itu, membuat Zahra tambah panas, dan memberikan senyuman meremehkan dan menantang. 'Suami lo akan menjadi milik gue, dan bertekuk lutut denganku.'
Bohong hati Zahra tidak sakit melihat itu, namun air mata yang meganak sungai di kedua mata indahnya dia tahan. Agar tidak terlihat lemah, di hadapan bibit pelakor dalam rumah tangganya.
Leon melihat bayangan istrinya dari pantulan kaca.
Deg!
Dengan lekas dia mendorong tubuh pelayan yang tidak tahu diri itu, yang tiba-tiba kesandung dan jatuh kepangkuan nya. Tubuh farah pun terhempas dengan keras ke lantai yang begitu dingin. Tanpa mempedulikan Farah, Leon langsung berdiri dan menghampiri Zahra yang mematung di tempat nya.
Zahra pun menampilkan senyuman manisnya. "Aku tadi terbangun karena haus, Mas. Karen udah nggak ngantuk lagi, aku buatkan kamu kopi." Sahut Zahra sembari menatap mata hitam pekat milik Leon.
Leon megambil kopi yang dibawa Zahra untuknya. Leon melihat tatapan Zahra yang terus melihat pelayan baru di kediaman nya itu, dan melihat kearah nya. Dia yang paham dengan maksud sang istri, tangan kekar nan lebar itu merengkuh pinggang Zahra dengan mesra, lalu menghadap kearah Farah yang masih duduk di lantai.
"Sayang... Kamu jangan salah paham, ya! Tadi aku melanjutkan pekerjaan ku yang tertunda, itu saja. Dan aku tidak tahu, kenapa dia bisa masuk kesini dan membawakan aku kopi. Aku sudah menyuruh dia keluar, tapi malah tersandung dan ... "
"Nggak apa-apa kok, Mas! Aku paham." Seka Zahra yang tidak mau mendengar kelanjutan dari ucapan Leon.
"Tapi... Aku tidak mau ada wanita yang menyentuh kamu lagi," ujar Zahra sembari memeluk mesra suaminya. Dia pun menyunggingkan senyum peringatan kepada pelayan yang tidak tahu batasan itu.
__ADS_1
Cup!
Dengan sengaja Zahra memberikan ciuman di pipi Leon, karena memberi tahu kepada Farah. Laki-laki yang tampan ini hanya miliknya seorang, tidak ada celah bagi pelakor untuk merebut Leon darinya.
Leon yang mendapat sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan, jadi termangu di tempatnya. Selama dia menikah, sang istri jarang sekali berinisiatif untuk melakukan hal seperti ini.
"Sayang..." kata Leon pelan. Fia begitu bahagia sekali, apalagi melihat sisi lain dari istrinya.
"Lagi, hmm? Tapi Sayang, kita tak boleh melakukan nya disini. Apalagi ada wanita yang belum bersuami, kasihan dia. Lebih baik, kita lanjutkan dikamar saja, ya." Tutur Zahra panjang lebar. Padahal dia tahu, Leon memanggil namanya karena shock.
"Kamu benar sekali, my wife." Leon dan Zahra pun melenggang pergi, dari ruang kerjanya.
Farah yang merasa di sindir dan dipermalukan, menjadi sangat membenci Zahra. "Awas saja wanita sialan, aku akan merebut suami kamu. Argh..." Farah mengepalkan tanganya erat-erat, dia sangat marah.
Sesampai nya di dalam kamar, Zahra melepaskan tangan nya yang di genggam erat sang suami. Dia tidak suka, ralat! Zahra sangat tidak suka suaminya disentuh wanita lain.
"Sayang!" panggil Leon yang melihat wajah kesal sang istri. Apalagi karena hormon kehamilan Zahra, membuat dia lebih sensitif.
"Kenapa, Mas? Kenapa mbak Farah bisa duduk dengan nyaman dan memelum kamu seperti itu?" tanya Zahra dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Sayang... Aku kan sudah bilang tadi, aku tidak tahu sama sekali, dan kejadiannya pun begitu cepat." Kata Leon dengan pelan. Memang begitu faktanya, wanita itu tiba-tiba muncul dan masuk begitu saja, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Beneran...? Atau jangan-jangan kamu memang mau berpaling dati aku. Karena aku sudah seperti ini, badan tak seindah waktu itu, dan karena perutku buncit?" tanya Zahra, dia jadi insecure saat melihat body Farah tadi.
"Hei... Sayang kamu berbicara apa sih! Aa yang otak cantik kamu pikirkan, sehingga berpikiran seperti itu?" tanya Leon tidak suka mendengar ucapan Istrinya.
__ADS_1
"Karena aku udah gendut...!" akunya dengan lirih, disertai isak tangis Zahra. Leon merengkuh tubuh sang istri, dan membawa Zahra dalam pelukannya yang hangat.
"Baby, dengarkan ini baik-baik ya! aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Di mataku kamulah wanita yang paling cantik. Seperti apapun kamu, tetap saja aku sangat mencintai kamu, karena kamu Zahra-ku. Tidak ada yang lain. Lagian ya, kata siapa kamu gendut, itu tidak benar. Malah kamu tambah seksi dan menggoda dengan perut buncit seperti ini. Aku akan membuat perut indah ini buncit terus..." ujar Leon diiringi gelak tawanya.