
Zahra pun membalas pelukan dari suami nya tak kalah erat. Dia benar-benar bahagia, dengan kehadiran sang buah hati dalam perut nya.
Zalfa heran, kenapa kedua orang tuanya menangis sambil berpelukan? Apa jangan-jangan Bunda tidak punya dede bayi?. Dia pun menghampiri kedua orang tuanya. Manarik-narik ujung baju piyama yang di kenakan Zahra.
Mereka pun melepaskan pelukan, melihat kehadiran putri kecil yang tampak kebingungan. Zahra langsung berjongkok menyamakan tingginya dengan Zalfa.
"Unya Kenapa?" tanya si kecil khawatir. Melihat mata anaknya berkaca-kaca, Zahra malah tersenyum sembari menghapus lelehan bening yang meluncur tanpa diminta.
"Unya baik-baik saja Nak, Afa tahu enggak? Kenapa Deddy sama Bunda menangis?" tanya Zahra penuh kelembutan. Si kecil pun menggeleng tidak tahu. Melihat itu, Zahra tambah tersenyum lebar. Merasa lucu dengan tingkah laku putrinya.
"Makanya dengerin Bunda dulu ya, baru setelah itu Afa nangis atau bahagia. Bagaimana setuju?" ucap Zahra pada Zalfa memberikan pilihan. Yang sukses membuat si kecil berhenti menangis. Punggung tangannya yang kecil ia gunakan mengusap air matanya sendiri.
"Iya Unya, Afa dengerin kok." ujar Zalfa.
"Nah, begitu dong. Ini baru putri nya Bunda! Unya sama Deddy nangis karena bahagia. Di dalam perut Unya tumbuh dede bayi nya Afa, jadi karena itu kami menangis terharu sayang." tutur Zahra lembut. Membawa tangan mungil itu mengelus perutnya yang masih rata.
"Beneran Unya...?" tanya Zalfa antusias. Zahra mengangguk membenarkan pertanyaan Zalfa.
"iya Sayang...!" jawab Zahra sembari memeluk putrinya. Zahra hendak menggendong Zalfa, Leon yang melihat itu langsung menahan Zahra.
"Biar Deddy saja yang gendong Afa..." ujar Leon merentangkan tangan nya ingin mengambil alih, Namun yang di dapat gelengan dari sang putri.
"Loh kenapa Princess? Sama Deddy aja. Nanti kalau Afa minta gendong Unya, Adek bayi nya ketindih. Emang Afa enggak kasian sama dede bayi nya?" kata Leon memberikan pengertian kepada Zalfa.
"Ayah,,,! Ngomong nya kok gitu. Enggak kok sayang, dede bayi nya tidak akan kena tindih." celetuk Zahra langsung menyangkal perkataan Leon.
"Yaudah, sini sama Bunda lagi." pinta Zahra kembali. Zalfa pun langsung tidak mau. "Sama Deddy aja..." si kecil pun langsung menghambur ke dalam gendongan Ayah nya. Mereka kembali ke ranjang, untuk mengistirahatkan diri kembali.
__ADS_1
.
.
.
Sedangkan di pagi yang cerah ini, tampak para mua sibuk merias Raina di dalam apartemennya. "Nona udah cantik, jadi tidak usah tebal-tebal bedaknya. Atau anda punya requets untuk make up nya enggak?" tanya penata rias itu.
"Enggak usah yang menor-menor ya, yang natural aja." ucap Raina. Mua pun langsung mengaplikasikan bedak ke wajah Raina.
"Assalamualaikum..." Alina datang ke tempat Raina. Ia kasihan calon pengantin hanya ditemani para penata rias saja. Jadi dia yang kesini, karena yang lain tidak di izin kan suaminya kesini di karenakan hamil muda. Mereka menanti langsung di tempat akad. Tapi segala perlengkapannya sudah di seduakan para sahabat Juno, pengantin tidak di perkenankan mengeluarkan biaya sepeser pun oleh keempatnya. Berhubung Alina yang single, jadi dia yang bisa menemani keberangkatan Raina dari apartemen ke Masjid Ar- Raudhoh tempat acara akan di langsungkan.
Tak lupa pula puluhan bodyguard yang memakai Batik songket, yang akan mengawal Raina nantinya. Yah, mereka tidak memakai baju kerja nya agar tidak terlalu mencolok dan mengundang perhatian orang-orang sekitarnya.
Di masjid Ar-Raudhoh yang besar di tengah kota tampak ramai, karena acara akad akan di langsungkan. Dekorasi yang sangat indah mulai dari tempat para tamu masuk nantinya. Tamu undangan sudah berdataangan, begitu pun dengan para Sahabat sudah rapi dan bersiap untuk menyambut para tamu. Yah, mereka sendiri yang langsung menerima tamu undangan. Karena jumlah nya pun tidak terlalu banyak, hanya keluarga saja. Kecuali, Zeo yang tidak kelihatan batang hidung nya karena dia yang mnedampingi mempelai pria.
"Wah Tuan sangat beruntung, dia akan mempersunting gadis yang sangat cantik." ujar salah satu bodyguard yang melihat pengantin wanita berjalan ke mobil yang akan membawa mereka.
"Hush,,,kamu jangan mengagumi calon istri Tuan Juno, nanti kalau dia tahu kamu pasti kena hukuman!" ucap Salah satunya lagi, menimpali pembicaraan temannya. Mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing.
Begitu pun di kediaman mansion Juno, mobil pengantin pria sudah mulai beranjak satu persatu meninggalkan halaman mansion.
Setelah menempuh perjalanan 25 menit, mobil pengantin sampai bersamaan. Karena mereka janjian untuk sampai berbarengan.
Raina turun terlebih dahulu, dia dampingi Alina. Kaum hawa pun menghampiri mereka, menyambut suka cita sang mempelai wanita. Menggiring masuk ke dalam masjid, mereka duduk paling belakang. Agar nantinya tidak terlalu kelihatan calon suaminya.
"Aura-aura pengantin baru emang beda ya?" goda Kaira pada Raina. Sedangkan yang di goda hanya menunduk malu-malu.
__ADS_1
Sementara Juno di apit pula oleh keempat sahabat nya. "Seumur-umur gue tidak pernah segrogi ini." ucap Juno pelan.
"Yeah,,,Lebay lo! Giliran lagi deketin aja enggak grogi, malah saat menentukan kepemilikan keringat sampai ke mata kaki. Dasar payah!" ejek Zeo.
"Awas saja kalau kamu ya! Aku sumpahin enggak kelar-kelar ijab kabulnya." seru Juno kesal karena digoda tiada henti.
"Bro, ngapain coba ngurus si kutu kumpret Zeo. Mendingan kamu persiapin mental sekuat baja, agar nanti tidak salah sebut mempelai wanita." imbuh Leinard.
"Kalian sahabat aku enggak sih? Bukannya ngasi tips agar tidak salah, malahan di takut-takuti. Dasar teman sablek!" Juno pun mempercepat langkahnya menuju meja akad nikah. Disana sudah ada bapak penghulu yang menunggu dirinya.
Juno pun duduk bersila menghadap ke penghulu, kegugupan di wajah nya sangat kentara.
"Nak Juno, tidak usah terlalu grogi seperti itu, emang sudah lumrah kok bagi calon pengantin. Tapi sebisa mungkin, jangan sampai kegugupan itu malah merusak konsentrasi nak Juno." tutur pak penghulu menasehati Juno, sebelum memulai acara.
"Iya Pak..." sahut Juno sambil mencoba menghilangkan kegugupan yang melanda.
Bagaimana Nak Juno? Apakah anda sudah siap?" tanya pak penghulu lagi.
"Iya pak, insyaallah saya siap!" ucap Juno lugas. Acara pun di mulai, satu persatu sudah terlewati. Hingga sampai lah ke acara inti, yaitu akad nikah.
"Bismillahirrahmanirrahim...Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Juno Alief Fathulloh binti Imam Fathulloh dengan saudari Raina Amaliyah binti Hasan Basri yang di wakilkan kepada saya, dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang senilai 1 Milyar di bayar tunai.” ucap pak penghulu.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Raina Amaliyah binti Hasan Basri dengan mas kawin tersebut tunai.”
"Bagaimana para saksi?" tanya bapak penghulu.
"SAH...." saksi berucap serentak.
__ADS_1
*****.....*****