Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 74. THsM


__ADS_3

Maaf benget ya, Aku baru up. Saolnya masih sibuk dengan tugas kampus, praktikum, UAS. Jadi, sekali lagi, Aku minta maaf readers🙏.


Selamat membaca, jangan lupa kritik dan sarannya ya! Agar kedepannya bisa lebih baik lagi.


*****


Zeo pun mengambil gelas yang di sodorkan Alina kepadanya. Ia mulai meneguk minuman itu sampai habis tak bersisa. "Terima kasih," ucap nya sambil tersenyum. Merasa lega, hati Zeo saat mendengar jawaban Alina. Dia tak lagi dihantui perasaan cemas dan rasa ingin tahu nya tentang tanggapan calon wanitanya.


"Iyaa..." lirihnya jawaban Alina. Setelah itu pun, tak ada lagi pembicaraan. Mereka sama-sama diam, ruangan yang tadi heboh karena kelakuan Zeo kini sunyi kembali.


"Ehm, Kamu kan sudah menerima Aku kan? Terus untuk selanjutnya gimana?" Tanya Zeo supaya Alina melihat ke arahnya. Dan benar saja, wanita cantik itu menatap Zeo dengan mengernyitkan alisnya. Cepat sekali!! Batinnya menjerit, ketika mendengar ucapan Zeo tadi.


"H-hah? Kok cepat sekali? Emang kamu tidak sibuk?" Tanya Alina dengan wajah kagetnya. Yang benar saja! Emang Dia juga pengen sih, menikah. Tapi, apa harus secepat itu! Batinnya menjerit dalam hati.


"Kenapa? Kok respon Kamu seperti itu? Kamu terpaksa ya, nerima Aku jadi calon suami Kamu?" Tanya Zeo tiba-tiba sendu, melihat wajah Alina yang kaget seperti itu. Tidak enaknya, Hati Alina. Karena melihat wajah sendu Zeo, karena dirinya sendiri.


"B-bukan seperti itu, hanya saja ini terlalu cepat. Emangnya kamu tidak sibuk? Padahal Kamu aja baru nyampek, loh. Aku tidak mau ya, nanti acara kita akan menghambat pekerjaan kamu, Mas." Ujar Alina, m3coba memberikan pengertian kepada laki-laki yang akan menjadi Suaminya ini.


Mendesirnya hati Zeo, mendengar panggilan 'Mas' dari mulut Wanitanya langsung. Terasa ribuan kupu-kupu, terbang dan menggelitik perutnya. Sungguh, ia suka dengan panggilan barusan dari Alina.


"Tidak, kok. Akan Aku pastikan! Acara kita tidak akan menggangu pekerjaan Aku sama sekali. Jadi, bagaimana?" Tanya Zeo kekeuh, ia mau mendengar jawaban langsung dari mulut Alina.

__ADS_1


"Alina, Kalau untuk kebaikan! Lebih cepat malah tambah bagus, Loh. Emangnya, Kamu tidak mau cepat-cepat nikah sama Aku? Atau ada hal yang lain." Tanya Zeo lagi, dengan nada yang masih sama, yaitu nada lembut.


"Tidak seperti itu, Mas. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh, kalau seperti itu, mana mungkin Aku menerima kamu. Aku mau kok nikah sama Kamu, ya...waktunya terserah kamu juga. Takutnya kalau Aku yang nentuin, nantinya bentrokan sama pekerjaan kamu. Aku tidak mau itu, terjadi." Tutur Alina panjang lebar, Supaya Zeo tidak berpikiran yang tidak-tidak lagi. Insya Allah, ia siap lahir batin kok! Tadi, hanya karena terkejut saja. Sehingga ekspresinya seperti itu.


"Yaudah kalau begitu, Berarti kamu setuju dengan waktu yang Aku tentukan nantinya?" Tanya Zeo, lagi dan lagi memastikan.


"Iya, Aku ngikut sama keputusan Mas Zeo saja. Gimana baiknya." Pasrahnya Alina kepada keputusan Zeo nantinya.


Bahagianya hati Zeo, dengan sikap Alina yang seperti itu. 'Memang tidak salah pilih Aku, semoga Dia yang menjadi Wanita dunia dan akhirat ku.' Batin Zeo, sembari menatap ke arah Alina.


Alina jadi salah tingkah di tempatnya, di tatap sedemikian intensnya oleh Zeo. "Mas..." panggil Alina, agar Zeo berhenti melirik ke arahnya.


"Kenapa, hmm?" dengan senyuman menawan, Zeo masih tak mengalihkan pandangannya dari iras cantik milik Alina.


"Iya,,,,Iya, Aku tidak akan menatap kamu lagi seperti itu. Tapi, jika kita sudah menikah! Tidak akan mengalihkan pandangan dari wajah kamu seharian." Ucap Zeo enteng, Ia tak malu berbicara seperti itu. Walaupun disana, bukan hanya mereka berdua, melainkan ada asisten Kevin yang menjadi obat nyamuk di tengah-tengah mereka.


Kedua bola mata Alina membulat sempurna, mendengar ucapan Zeo yang tidak tahu tempat sama sekali. Sedangkan dirinya, di buat malu. Sampai-sampai wajah nya merah merona, malu dengan dua laki-laki yang duduk di depannya ini.


"Emm, Mas! Karena kamu sudah tahu jawabannya, mendingan kalian pulang dulu deh." Ucap Alina, menebalkan wajahnya dengan mereka berdua. Kalau mereka terus disini, bisa-bisa pembicaraan mereka meluber kemana-mana, dan Alina tidak menginginkan itu. Cukup, sampai disini!!. Pikir Alina.


"Kamu ngusir, Aku?" tanya Zeo tak percaya, dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu, Mas Zeo! Kamu kan baru datang bepergian kan! Pastinya capek. Mendingan Mas Zeo, pulang istrirahat begitu." Ujar Alina, meluruskan pemikiran Zeo yang beranggapan diusir dari apartemen nya. Meskipun niat yang sebenarnya seperti itu.


"Iya, Tuan. Apa yang diucapkan, calon istri Anda benar. " Timpal Kevin, menyetujui ucapan calon nyonya nya. Sebenarnya, ia pun sangat lelah, tapi mau bagaimana lagi, Jika Tuannya sudah memberikan titah seperti ini. Mau tidak mau, Ia melakukan apa yang di perintahkan Zeo padanya. Meskipun dirinya sendiri begitu lelah.


"Kamu..!" Ucap Zeo dengan tangan yang mengepal, tidak terima. Karena Kevin, yang mendukung ucapan Alina. Jujur, kalau boleh sekarang pun ia mau nikah saja sama Alina. Sungguh berat sekali, rasanya ia akan pulang dan kembali ke mansionnya.


"Yaudah, deh!" Akhirnya jawaban itu yang keluar dari mulut Zeo, dengan nada sendunya.


"Kapan-kapan aja, Mas! Kalau Kamu mau main kesini lagi. Kasian tahu, sama teman Kamu, wajahnya kelihatan sudah lelah banget." Ujar Alina lembut, meskipun Ia sendiri tidak tahu. Kapan-kapan itu, entah kapan tepatnya.


"Baiklah, Kalau gitu Aku pulang dulu." Ucap Zeo lagi. Ia pun segera berdiri, dari tempat duduknya. Begitu pun dengan asisten Kevin, Dia ikut berdiri juga.


Alina berdiri, mengantar kepergian mereka sampai di depan pintu apartemen miliknya. "Aku pulang dulu, ya." Ucapnya lagi. Sekarang ia sudah berhadapan langsung dengan Alina yang berada di ambang pintu.


"Iya, Mas. Hati-hati ya, dijalan. Jangan ngebut-ngebut! Dan juga istirahat yang cukup." Omel Alina tanpa sadar, begitu perhatian dengan Zeo.


Sedangkan Zeo, hanya senyum-senyum bahagia. Karena mendapat kan perhatian dari Alina, seperti istri sungguhan saja. Mengingat itu, rasa-rasanya Zeo tak sabar lagi, ingin segera menjabat tangan walinya Alina untuk menjadikannya istri sah dari Zeo.


"Assalamualaikum,,," Salam Zeo, ia lebih cepat memilih untuk pulang, agar pikirannya tidak berubah dan menculik Alina, lalu ia bawa ke Bapak Penghulu.


"Waalaikumsalam,,," jawab Alina lembut. Dengan senyuman manisnya. Kedua laki-laki itu pun beranjak, dari apartemen Alina. Wanita itu pun menutup kembali pintunya. Leganya hati Alina, setelah mengatakan apa yang ia pikirkan akhir-akhir ini.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2