
"Apa-apaan kamu! Main ngajak nikah segala. Yang ada aku tuh tidak mau nikah sama kamu, laki-laki yang arogant dan pemaksa." ujar Raina menggebu-gebu. Dia kesal sekali sama orang di sebelahnya ini.
Dia bungkam mendengar Raina kesal, tidak ada niat membalas ucapan wanita yang naik pitan itu. Dia lebih suka langsung tho the point dan tidak bertele-tele.
Juno menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi, karena hari sudah semakin larut. Sontak membuat Raina waspada dan memicingkan mata ke arah Juno.
"Ka-kamu ngapain menepikan mo-mobilnya?" ucap Raina was-was dengan pemikiran nya sendiri yang telah melanglang keman-mana.
"Emang kamu mikirnya apa?" tanya Juno balik, dia lebih suka melihat Raina yang marah-marah daripada diam seperti tadi.
"Ti-tidak ada..." katanya takut-takut.
"Kamu tenang aja! Enggak usah takut, aku cuma butuh jawaban kamu." tutur Juno kepada Raina. Diapun menghembuskan nafas nya kasar.
'Iya juga yah, aku terlalu paranoid!' pikir Raina. Dia pun mencoba sesantai mungkin.
"Jawaban apa?" tanya Raina polos.
Juno yang notabennya kurang banyak berbicara, menjadi kesal. Karena Raina yang tidak memperhatikan dirinya yang sedari tadi berbicara. Juno pun menatap ke arah Raina dengan tatapan mengintimidasi, hal itu mampu membuat nyali Raina menciut kembali.
"Maaf! Aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraan kamu kemana?" ucap Raina. Dia sebisa mungkin menekan emosinya sendiri, dia takut omongannya nanti membangun amarah si datar Juno. Sedikit banyak Raina tahu, jika dirinya terus membangkang maka tamatlah riwayatnya.
"Kamu benar-benar menguji kesabaran ku Raina Amaliyah!" sentak Juno.
Sentakan itu mampu membuat Raina sesak nafas, dia berusaha menahan air mata agar tidak menganak sungai. Di hidupnya baru kali ini ia mendapatkan bentakan. Terus yang mmebentak hanyalah orang asing baginya.
Juno melihat wajah pias Raina, ia pun merasa bersalah. "Maaf! Aku terbawa emosi." kata Juno. Raina di tambah deja vu, karena permintaan maaf dari Juno.
"Buka...!" kata sentak Raina setelah sadar dari keterkejutannya. Bukaannya membuka, Juno malah mengunci mobil.
__ADS_1
Melihat tingkah Juno, bukannya tambah meradang Raina lebih memilih istighfar.
"Astaghfirullahal azdim..." ucapnya beberapa kali, sampai ia bisa menetralkan nafas nya kembali. Apa yang dilakukan Raina tidak luput dari penglihatan Juno, itu tambah membuat nya yakin untuk memperistri Raina. Walau pun itu, dengan paksaan sekalipun. Dia tidak akan menyerah.
"Mau kamu apa..?" tanya Raina langsung.
"Menikahlah dengan ku..!" ujar Juno tegas.
"Anda yang benar saja, kita itu beda. Strata sosial kita beda, jadi tidak mungkin kan kita bersama. Kamu tampan dan mapan. Sedangkan saya jauh di bawah anda, pasti banyak gadis di luar sana yang akan menerima kamu jadi suaminya." ucap Raina yang mencari-cari alasan. Juno yang mendengar itu acuh, itu bukanlah masalah baginya. Asal Raina mau menerima dirinya menjadi suami.
"Aku tidak mau yang lain! Hatiku memilih dirimu. Cinta ataupun tidak, kamu harus jadi istrinku." sejurus doktrin yang dikeluarkan Juno.
Raina tersenyum mendangar kalimat dari Juno. "Maaf yah! Bukannya sok tahu atau gimana, takdir itu milik Allah swt. Kita tidak tahu, jodoh yang mana akan menghampiri kita terlebih dahulu. Entah itu kain kafan atau baju pengantin. Lagian juga, saya sudah punya calon." kilah Raina.
Diapun tersenyum penuh misteri, saat mendengar penuturan Raina. "Kamu tahu memang benar apa yang dikatakan barusan, tapi jangan membodohi ku Raina Amaliyah. Jangan fikir aku tidak tahu tentang dirimu, kalaupun kamu punya calon suami sekalipun. Maka ia akan berakhir di tanganku!" kata Juno tersenyum smirk. Membuat siapa saja takut.
"Memang kamu fikir siapa, malaikat maut bukan! Jangan mengancam sesuatu yang tidak kamu ketahui." tantang Raina.
"Anda manusia apa iblis?" tanya Raina yang sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini.
"Menurutmu gimana? Kamu tidak ada pilihan lain. Hanya satu jawabanmu Raina! Menerima pinanganku." kata Juno lagi, dia tidak merubah nada suaranya menjadi lebih lembut. Melainkan mempertahankan nada dingin dan datar. Agar Raina menjawab sesuai dengan keinginannya.
"Bagaimana...?" tanya Juno lagi.
"Kasih aku waktu untuk berfikir..!" pinta Raina.
"Tidak ada waktu, iya tau tidak. Ingat! Hanya iya jawabanmu." kata Juno menekankan kembali.
"Jika begitu, kenapa bertanya lagi." kesal Raina yang merasa tidak ada pilihan lain.
__ADS_1
"Good girl, pilihan yang tepat." ucap Juno. Akhirnya dia memenangkan perdebatan masa depan ini. Dia bersorak gembira.
Sementara, di lain tempat. Zeo dan Alina tampak nyambung, pembicaraan mereka searah dan mengasyikkan. Sepanjang jalan mereka bercerita, sehingga jalan terasa sangat singkat. Zeo pun tiba, di apartemen Alina. Lalu Alina turun, dari mobil. "Makasi yah, mau mengantar saya pulang!" kata Alina tersenyum menawan. Membuat Zeo terpaku dengan senyuman itu.
"Pak...pak!..." panggil Alina. Karena Zeo yang tidak mendengarkan dirinya.
"Hah...!" Zeo tersentak dari lamunannya.
"Saya pulang dulu...!" ujar Zeo dan langsung pergi meninggalkan Alina sendiri.
"Aneh...!" gumamnya. Dia pun masuk kedalam apartemennya.
Sedangkan di lain sisi, Leinard baru saja mematikan mesin mobilnya. Dia melihat istrinya tertidur pulas. Dia tersenyum merekah melihat kecantikan istrinya, yang hanya dapat dilihat olehnya.
"Kamubtahu sayang, aku besyukur banget sama Allah swt. Karena mengirim bidadari kedalam kehidupanku, yang tidak pernah terbayangkan dalam benakku." gumam Keinard bahagia. Dia pun turun dari mobil, dan pergi ke sisi Kaira.
Dia pun membuka pintu mobil hati-hati, agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu istrinya. Dia pun mengangkat tubuh Kaira ala bridel style, dan membawanya masuk kedalam rumah.
Saat di tengah menapaki tangga, Kaira ada pergerakan. Kelopak mata indah itu mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan cahaya lampu. Dia pun sadar berada dalam gendongan sang suami.
"Mas...turunin aku! Berat loh." kata Kaira yang kasian kepada Leinard yang menggendong dirinya.
"Diam sayang,,,atau kita jatuh bersama! Tidak berat sama sekali kok." ujar Leinard.
"jangan ngomong seperti itu..." pinta Kaira.
"Iya...iya! Diam okey." Kaira pun mengeratkan rangkulan tangannya di leher Leinard. Saat di depan pintu, Kaira pun membuka suaranya kembali.
"Mas turunin disini aja, aku kan sudah bangun." pinta Kaira lagi. Leinard menuruti perkataan Istrinya, dia menurunkan Kaira tepat didepan pintu.
__ADS_1
Kaira memutar kenop pintu kamar mereka, lalu masuk kedalam. "Mas mau mandi duluan apa aku?" tanya Kaira setelah masuk di dalam kamar. Dia langsung menuju meja rias dan melepaskan jarum pentul yang ia pakai.
*****.....*****