Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 31. Nyonya Muda Mahmud


__ADS_3

Di depan pintu utama, banyak para maid yang berjejer. Akan menyambut kedatangan tuan dan istrinya. Begitu pun dengan para bodyguard yang mengenakan baju hitam, mereka berbaris mengisi kanan dan kiri jalan sampai di gerbang hitam sejauh mata memandang.


Salah satu pengawal, membuka pintu mobil tuannya. Leinard keluar dari mobil, berjalan ke arah pintu sebelahnya. Dimana tempat sang istri duduk.


'Kenapa banyak banget penjaga? Emang mas Leinard mau ketemu siapa? Katanya mau pulang ke rumah, tapi kok berhenti di sini. Sepenting itukah dia, sampai penjagaannya seperti ini' pertanyaan demi pertanyaan, berlalu lalang di otak nya.


"Sayang, ayo turun." titah Leinard, setelah ia membuka pintu mobil. Kaira menggelengkan kepala.


"Mas, katanya mau pulang ke rumah! Tapi kok ke sini?" tanya Kaira bingung.


Leinard menangkupkan kedua tangannya di pipi Kaira yang tertutup cadar, ia tersenyum cerah mendengar pertanyaan yang konyol menurutnya.


"Dengerin mas, itu rumah kamu! Rumah kita." jawab Leinard lembut.


Kaira di buat tak percaya, beneran bangunan yang seperti istana itu milik mereka! Mimpi apa dia? Sampai bisa memiliki hunian yang seperti itu. Melihat Kaira bengong, Leinard menggenggam tangan istrinya. Agar keluar dari mobil, tapi sang istri tetap dengan pendiriannya. Yaitu menggelengkan kepalanya kembali.


Leinard tahu, sebenarnya Kaira malu kepada para pengawal yang berdiri tegak di setiap bagiannya. Lantas ia memerintah kepada seluruh bodyguard yang ada.


"Pengawal berbalik!" titahnya tegas para pengawal pun, serentak membalikkan badannya.


"Udah enggak usah malu, ayo!" ajak Leinard. Sedangkan Kaira di buat tercengang berkali-kali. Bagaimana tidak, ini kali pertama dirinya mendengar nada tegas tak terbantahkan, selain dingin ternyata suaminya tukang memerintah seenaknya.


Sedangkan para maid mengalami hal yang sama dengan Kaira, baru pertama ini mereka melihat sisi lembut dari tuan mafia yang dingin itu.


Kaira akhirnya keluar dari mobil, berjalan beriringan dengan suaminya ke arah pintu utama. Para maid membungkukkan badan mereka, menyambut kedatangan nyonya Muda.


"Selamat datang, tuan dan nyonya." sambut pelayan yang menginjak usia lanjut. Dia adalah bi Ammy, kepala pelayan di mansion ini.


"Iya, terimakasih bi. Tidak usah membungkukkan badan, seharusnya aku yang melakukan hal itu." Kaira merasa dirinya kurang sopan kepada pembantunya itu.

__ADS_1


"Bi turuti seperti keinginan nyonya, buat dirinya senyaman mungkin." gaje Leinard.


"Bi saya Kaira." ucapnya mengulurkan tangan. Tapi bi Ammy tak bergeming, Leinard memberi kode bi Ammy. Supaya menerima uluran tangan Kaira.


Bi Ammy mengulurkan tangannya, di sambut dengan tangan Kaira. Ia lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Panggil Kaira aja bi, tak usah pakek nyonya. Kai lebih suka di panggil nama aja." ujarnya.


'Hati memang tak pernah salah memilih.' batinnya melihat interaksi Kaira dan bi Ammy.


"Sayang, kamu laper apa belum?" tanya Leinard sembari menarik pinggang sang istri agar mendekat kepadanya.


"Kai belum laper mas! Mendingan kita istirahat aja. Katanya besok mas juga kerja kan!" kata Kaira. Leinard lantas mengangguk setuju, tapi dengan pemikiran yang berbeda. Istrinya ngajak istirahat, malah dirinya ngajak sebaliknya yaitu bercocok tanam.


"Baiklah! Ayo." ajaknya penuh semangat. Mereka berjalan ke arah lift, yang akan membawa mereka ke lantai tiga. Dimana letak kamar tuan muda berada. Kaira benar-benar takjub dengan kecanggihan dan kemewahan mansion ini, tapi hanya ia pendam di dalam hati.


Kaira terlalu polos, ia tak merasakan keanehan tingkah suaminya. Leinard tak melepas kan tangannya di pinggang sang istri barang sedikit pun. Mereka masuk ke dalam kamar yang sangat luas. Leinard memeluk Kaira dari belakang, lantas tangannya merayap ke atas. Dimana cadar bertengger indah menutupi rupa ayu Kaira.


"Sayang kita ibadah yuk." bisiknya lembut di kuping Kaira. Membuat sang empu langsung merinding.


"Ibadah apa? Kan tadi udah shalat dzuhur." ucapnya pura-pura tak mengerti. Leinard bukanlah orang yang mudah ditipu.


"Sayang, nolak suami dosa loh!" kalimat yang paling ampuh untuk meruntuhkan segala pertahanan Kaira. Mendengar ucapan itu, Kaira lantas mengangguk setuju.


'Yes!' batin Leinard girang tak ada duanya.


"Mas jangan lupa berdoa'a!" peringat Kaira pada suaminya, tanpa membuang-buang waktu lagi. Dia segera membopong tubuh Kaira ke ranjang king size miliknya yang akan menjadi tempat mereka memadu kasih.


"Allahuakbar...Allahuakbar." suara adzan dikumandang kan. Dua sejoli yang masih tertidur nyenyak akibat pertempuran tadi. Kaira terbangun mendengar adzan ashar sampai ke telinganya, lalu membaca do'a bangun tidur.

__ADS_1


"Alhamdulillah," syukurnya lalu beranjak membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah 15 menit, ia selesai dengan acara mandinya. Lantas Kaira megenakan pakaian rumahan yaitu baju daster kesayangan kaum ibu-ibu.


Kaira menghampiri Leinard yang masih terlelap.


"Mas bangun! Waktu ashar sudah tiba. Waktunya shalat yuk." kata Kaira berbisik di telinga suaminya. Bukannya bangun, Leinard melingkarkan tangannya erat di pinggul kecil Kaira.


"Mas ihh, di suruh bangun! Kok malah meluk." rengek nya. Mendengar suara rengekan Kaira, Leinard membuka kedua bola matanya lebar-lebar.


Leinard bangun, ia menampilkan wajah bahagia. "Tunggu mas, kita shalat bareng." tutur Leinard. Meskipun suara bacaan alquran nya, tidak sebagus Kaira. Dia tetap mengimami sang istri.


"Iya mas, Kai akan tunggu!." ucapnya tersenyum manis. Leinard mengecup singkat kening Kaira, sebelum dia ke kamar mandi memulai ritualnya.


Kaira melihat suaminya mementingkan selimut, segera ia mengalihkan tatapannya yang semula melihat ke arah Leinard. Dia melihat ke arah manapun, asal jangan ke arah Leinard. Kerena pikirnya Leinard tak mengenakan apapun, meskipun itu suaminya dia begitu malu.


"Kenapa mengalihkan tatapan mu?" tanya Leinard.


"Emm,,,tidak apa-apa." ujarnya. Mana mungkin ia bilang 'aku malu! Melihat tubuh gagah mu mas! kan enggak mungkin banget!' batinnya. Neliha respon Kaira tang seperti itu, ia tambah memamerkan tubuhnya. Kaira spontan memejamkan mata. Leinard mengenggam kedua tangan istrinya, lalu di arahkan mengelus dada bidang miliknya.


"Sungguh..." goda Leinard.


"I-iya ma-s." ucap Kaira tergagap.


"Kalau gitu, lihat mas!" perintah nya.


"Tidak mau..."


"Buka sayang!" paksa Leinard kepada Kaira. Sang istri menuruti apa yang suaminya katakan. 'Oh,,,ternyata pakek celana." pikirnya.


"Gimana? Emang kamu mau melihat tubuh Mas lagi?" ujarnya tambah gencar menggoda Kaira, karena dia suka melihat wajah merona milik istrinya.

__ADS_1


"Ihh,,,mas Leinard nyebelin!" kata Kaira sembari menjewer bagian perut, yang tak mengenakan apapun.


"Iya,,,ita maaf!" kata Leinard, ia berlalu le arah kamar mandi. Takut kena semprot sang istri, karena sudah menjahili Kaira. Sedangkan Kaira senyum-senyum sendiri, sambil mempersiapkan alat shalat dia dan kang suami.


__ADS_2