Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 47. Berbaikan (Leinard&Kaira)


__ADS_3

Kaira yang melihat Keinard tertawa, memicingkan mata ke arahnya. "Mas Leinard fikir ini lucu, selingkuh lucu! Dasar suami tidak berperasaan." kata Kaira penuh emosi. Dia enggan melihat Leinard yang tidak menampakkan rasa bersalahnya, yang ada dia malah tertawa. 'Sebegitu senangkah Mas Leinard membuat aku menangis...?' batin Kaira bertanya-tanya dengan kelakuan Leinard.


Leinard yang mengerti istrinya marah besar, ia langsung berhenti tertawa. Ia megusap air mata yang lolos dari mata cantik milik sang istri. Kaira hendak menepis tangan Leinard, tapi kalah cepat. Karena Leinard menahan tangan Kaira yang satunya dengan cepat.


"Hei,,,Sayang!" panggil Leinard di tengah kegiatannya menghapus lelehan air mata. Kaira tak bergeming, ia tetap tidak memandang ke arah sang suami. Ia mengutuk Laura yang membuat Kaira salah paham.


"Nggak usah panggil seperti itu!" kata Kaira marah. Ia seakan enggan di panggil dang sebutan sama seperti wanita seksi yang memanggil 'sayang' kepada suaminya. Sedangkan Kaira sendiri kadang malu mau memanggil seperti itu, ehh tau-tau ada wanita yang tidak tahu malunya malah menyebut panggilan itu.


"Baby! Dengerin dulu penjelasan aku. Jangan berasumsi yang tidak-tidak." ujar Leinard dengan nada lembut.


"Berpikiran yang bukan-bukan! Katakan bagian mana yang membuat aku salah berfikir! Melihat suami berpelukan mesra denga wanita lain." sahut Kaira menggebu-gebu dengan nada kecewa. Melihat istrinya yang sangat marah, Leinard langsung memeluk erat tubuh sang istri. Sedangkan Kaira hanya diam saja, tidak memberikan respon apapun.


"Baby! Apa yang kamu lihat belum tentu benar, memang dia itu mantan pacar aku. Tapi aku tidak cinta sama dia, aku cintanya sama kamu saja. Aku tadi sudah menghindar ingin keluar dari ruangan aku. Tapi tiba-tiba saja, dia langsung memeluk aku. Aku shock tadi! kamu lihat kan tadi, aku tidak memberikan respon apapun." kata Leinard mencoba menjelaskan kejadian yang tadi.


Kaira tidak ada pergerakan sama sekali, dia hanya mendengar kan apa yang di katakan Leinard dengan seksama. Leinard yang merasa emosi Kaira sudah mendingan, ia melepaskan pelukan mereka. Lalu menatap dalam ke arah mata yang sembab karena menangis sedari tadi.


"Aku berani bersumpah! Sungguh apa yang kukatakan tadi itu benar adanya!" ujar Leinard meyakinkan Kaira.


"Tapi tetap saja, aku kecewa sama kamu Mas. Mas Leinard membiarkan wanita lain, yang bukan mahrom kamu memeluk tubuh kamu." kata Kaira kecewa. Akhirnya pawang Leinard ngomong juga, setelah sekian menit diam.


"Ya maaf Sayang! Aku benar-benar tidak menduga itu. Aku tidak tahu kalau dia mau memeluk aku kayak tadi." sanggah Leinard, ia takut Kaira tambah marah kepadanya. Dan mendiamkan Leinard, itu tidak boleh terjadi. Apapun itu, kesalahpahaman yangvterjadi harus segera selesai.


"Dan kamu juga, jangan berfikiran yang nethink! Aku tidak pernah bosan atau apapun itu. Hanya kamu yang aku cinta. So, jangan berfikiran yang aneh-aneh ya. Aku mana sempat selingkuh, tugas di kantor aja tidak kelar-kelar." ujar Leinard.

__ADS_1


"Oooh,,,jadi kalau tugas kamu selesai, Mas Leinard mau selingkuh begitu!" kata Kaira sembari memasang wajah garangnya. Dengan mata membulat sempurna.


"Ti-tidak juga Baby! Tuh kan fikirannya negatif mulu. Dangar ya Kaira Anastasya Habibullah! Leinard hanya cinta sama kamu, sama istrinya saja. Tidak ada yang namanya selingkuh ataupun istri ke-2 atau ke-3."


Kaira tersenyum mendengar perkataan Leinard, seketika hatinya luluh. "Iya maaf, aku enggak lagi-lagi main pergi aja. Nanti minta penjelasan dulu dan mencari tahu terlebih dahulu." kata Kaira mengaku salah.


"Nah tu pinter! Gimana mau ada istri lagi? Orang satu aja belum habis." canda Leinard.


"Mas...!" panggil Kaira tidak terima dengan perkataan sang suami. Ia mencubit keras dada bidang sang suami.


"Aduuh,,,Baby! Kamu kok tega banget sih nyubit suami sendiri." ucap Leinard sembari mengusap bekas cubitan Kaira yang tidak terasa sama sekali.


"Iyalah...kalau suami orang mah enggak bisa nyubit. Kan enggak boleh!" kata Kaira tertawa. Rasa cemburu yang tadi tidak terkendali kini surut sudah.


.


.


.


Sementara Juno di ruangannya, tidak bisa berfikir jernih saat mengingat Raina tambah membenci dirinya. Apalagi setelah Juno memaksakan kehendak kepada Raina.


"Kira-kira calon istri aku nantinya luluh enggak ya?" Juno jadi pesimis kepada diri sendiri.

__ADS_1


"Bismillah aja, siaap tahu nanti luluh!" ucapnya lagi memberikan semangat pada dirinya. Setelah kejadian Juno yang memaksa Raina menikah denganmu, sampai sekarang mereka tidak pernah bertemu. Meskipun begitu, Juno menempatkan bodyguard yang menjaga Raina dari jauh. Tanpa sepengetahuan wanita muda itu tentunya.


Drrrt...Drrrt...


Suara nada dering dari handphone Juno, pengawal yang di tempatkan untuk menjaga Calon istrinya. Juno langsung menggeser icon hijau yang bergambar handphone. Lalu ia menempelkan benda canggih itu ke telinganya.


"Hmm.." [Juno]


"Tuan! Nona Raina tidak keluar dari apartemen nya, sedari tadi pagi sampai sekarang." [pengawal]


"Baiklah, terus awasi! Jangan sampai calon istri saya kenapa-napa." [Juno]


"Siap Tuan, kami akan terus menjaga Nona Raina.!" [pengawal]


"Hmm..." lalu Juno menekan icon tombol po imerah, mengakhiri panggilan mereka. 'Kenapa dia tidak bekerja? Jangan-jangan dia sakit?' seketika Juno mengkhawatirkan Raina. Ia tidak bisa fokus mengerjakan berkas-berkas di depannya.


Tanpa berfikir dua kali, Juno merogoh kunci mobil. Ia akan berkunjung ke apartemen Raina, hatinya tidak tenang sebelum melihat keadaan calon istrinya. Ia pun pergi dari ruangannya menuju basement, dimana mobilnya terpekir disana. Sampai di sana ia langsung masuk ke dalam mobil BMW silver miliknya. Menuju apartemen milik Raina. Ya, gadis berhijab itu, hidup sebatang kara. Kedua orangtua Raina meninggal saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA. Beruntung ia memiliki sahabat yang rasa saudara. Mereka melewati hari-hari bersama.


Setelah menempuh perjalanan 17 menit, ia sampai di apartemen Raina. Juno lantas keluar dari mobil, menuju Lift naik ke lantai 12. Sekarang ia tepat berada di depan unit apartemen Raina. Ia sudah di beritahu oleh pengawal yang menjaga Raina, jadi Juno langsung tahu unit apartemen milik Raina.


Juno menekan bel apartemen Raina. Raina yang ditemani Alina, karena dirinya kurang enak badan. Alina lah, yang menjaga Raina sedari tadi. Memasak bubur untuk sahabat nya, dan memberi obat kepada Raina. mendengar ada yang bertamu sore-sore begini.


"Raina siapa yang bertamu? perasaan yang lainnya kan enggak bisa hadir kesini?" tanya Alina. Yang di tanya hanya menggeleng tidak tahu.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2