
Kaira, yang mendengar suaminya meminta maaf, semakin dibuat merasa bersalah. Padahal, yang salah disini adalah dirinya sendiri.
"Enggak, Mas Leinard. Kamu tidak salah sama sekali kok. Aku aja yang terlalu, kekanak-kanakan. Aku minta Maaf... Sudah membuat kamu marah!" Ucap Kaira tak kalah menyesal dari sang suami.
"Iya, Aku maafin kok! Cup...cup udah jangan nangis lagi, ya. Kasian dedek bayi nya kalau Mommy nya sedih, nanti dia ikutan sedih dong." Hibur Leinard pada istrinya.
"Aku juga mau minta maaf, karena tadi sudah kelepasan berbicara seperti itu. Jujur, Mas tidak suka kamu berbicara seperti itu. Dengarkan ini baik-baik, apapun yang terjadi kamu tetaplah istri Mas satu-satunya. Tidak ada Kaira yang lain, mengerti hmm?" Tutur Leinard lagi, ia menggenggam erat-erat kedua tangan wanitanya. Dia sangat-sangat mencintai Kaira.
'Malahan yang takut disini Aku Mas, bagaimana nanti, jika saat melahirkan ada kendala? Aku tidak mau, sampai kamu hidup dalam kehampaan yang mendalam.' Karena Kaira tahu, perjuangan wanita melahirkan tidak segampang itu, ia takut tak mampu menyelesaikan nya dengan baik. Kok Kaira jadi, pesimis kayak begini ya? Gara-gara apa cobak?.
Saat di rumah sakit, ketika ia bekerja terakhir kali, dirinya membantu dokter melahirkan. Namun, sayang nya sang ibu dan bayinya tidak dapat di selamatkan. Karena kejadian itulah, mampu membuat pikirin negatif muncul dalam benak Kaira.
"Hey, Sayang! Kok kamu melamun sih, Ada apa, hem?" tanya Leinard. Ia tahu, sang istrinya lagi tak baik-baik saja. Entah itu dilihat dari raut mukanya yang gelisah dan juga body lenguage nya yang mendukung. Sehingga membuat Leinard tambah yakin dengan persepsinya.
"Tidak apa-apa kok, Mas. Aku sama dedek bayi baik-baik saja, So suamiku yang tampan jangan khawatir." Ucapnya dengan senyum yang ia terbitkan. Namun, Leinard masih bisa menangkap guratan kesedihan dari senyum yang istrinya pancarkan. Ia pun tidak mau, memaksa Kaira untuk bercerita. Ia juga bisa mencari tahu sendiri nantinya. Yang terpenting sekarang istrinya merasa nyaman dan aman.
"Baiklah kalau gitu, lebih baik sekarang kita makan, hem." Ajak Leinard. Ia pun mulai duduk di bangkunya. Mengambil piring Kaira, lalu mengambilkan nasi secukupnya untuk istri tercinta.
"Loh,,,loh! Kok di ambilin sih, Mas? Enggak usah, aku bisa kok. Seharusnya itu, Aku yang melayani kamu seperti itu." Tutur Kaira pada sang suaminya. Yah, walaupun ini bukan kali pertamanya, ia mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari suaminya.
__ADS_1
Dengan gesit ia juga mengambil piring Leinard, menggenggamnya dengan erat, agar Leinard tak bisa merebut kembali piring putih itu. Leinard pun, tak kalah iseng. Ia sengaja menggoda Kaira, tangannya terulur ingin mengambil piring yang berada dalam genggaman istrinya. Saat tangan itu hampir menyentuh piring, suara lengkingan sang istrinya menghentikan pergerakannya.
"No, Mas! Aku aja yang ngambilin kamu makanan. Tidak ada penolakan!" serunya tidak terbantahkan.
"Empft...baiklah." Kata Leinard sembari menahan tawa. Lalu, ia mengangkat kedua tangannya keudara, tanda dirinya menyerah. Yah, dia tak akan mampu melawan kepada istrinya yang imut ini. Sedangkan sang suami, menahan kembali tawanya, agar tak meledak keluar begitu saja, karena istrinya yang saat ini sangat sensitif.
Kaira pun mulai melakukan tugasnya, tanpa menghiraukan maupun bertanya suaminya pengen makan lauk apa? ia hanya mengambilkan sesuai seleranya saja.
'Glek...banyak banget, Sayang! Mana bisa aku menghabiskan semuanya!' batinnya meronta-ronta, namun tak mampu ia keluarkan. Hanya bisa ia katakan didalam hatinya saja.
"Istri siapa sih ini? menggemaskan sekali." Kata Leinard untuk mrnghilangkan atensi Kaira terhadap makanan yang tersaji. Dan benar saja, apa yang ia pikirkan terjadi. Tetapi, tidak sesuai dengan harapan yang ia bayangkan. Yang ada di dalam benaknya, sang istri tersipu malu mendengar kata-katanya. Namun, pada realita nya tidak sama sekali.
"Emangnya, Mas Leinard udah lupa punya istri seperti aku? Yaudah kalau begitu, Aku akan ke rumah Bunda saja." Sungutnya kesal. Ia pikiran bisa-bisanya sang suami bertanya hal konyol seperti itu.
"Enggak begitu, Baby. Masa iya, Aku bisa lupa kalau punya istri secantik kamu. Tidak mungkin lah!" Sahut Leinard cepat, dengan penuh penegasan ia berbicara. Agar Kaira mengerti satu-satunya seorang pendamping yang ia inginkan.
"Dasar, si tukang gombal." Balasnya. Kaira pun memberikan piring yang sudah berisi penuh dengan makanan.
"Banyak sekali, Sayang!" Kata Leinard lesu, melihat piringnya yang hampir tak memiliki tempat.
__ADS_1
"Don't worry, Mas! Kita akan makan berdua kok." Jawab Kaira tersenyum ramah kearah sang suami. Mendengar itu, Leinard kbali bersemangat. Dengan cepat ia menyuruh Kaira pindah ke atas pangkuannya.
"Kalau begitu, Ayo! Cepat kesini. Aku sudah sangat lapar, Baby." Keluhnya, dengan menampakkan wajah memelas nya. Walaupun sebenarnya menurut Kaira, itu malah tambah aneh. Tapi tak apa, tanpa membantah ia mengikuti apa yang di katakan suaminya. Sebelum makan, Tak lupa mereka berdoa'a terlebih dahulu. Mereka pun makan bersama dengan lahap, setelah melewati berbagai drama sebelumnya.
*
*
*
Sementara itu di kediaman Leon...
"Huwek...Huweek..." Zahra terus memuntahkan isi perutnya. Meskipun yang keluar hanya cairan bening putih, dengan siaga Leon memijat tengkuk sang istrinya yang terlihat kepayahan mengeluarkan cairan itu.
Sedangkan Leon dibuat keheranan, pasalnya saat mantan istrinya dulu hamil, tidak seperti ini. Ia tahu semuanya, meskipun ia tampak tidak peduli. Padahal perut Zahra pun sudah lumayan besar, karena sudah memasuki bulan ke-5. Tapi, mengapa rasa mual-mual itu, belum hilang juga. Sungguh, dirinya tak sanggup melihat istrinya seperti ini.
Selesai Zahra menyeka sisa-sisa muntahan dari dalam mulutnya, lalu Zahra mematikan keran air westafel. Ia pun berbalik, menghadap ke arah sang suami yang setia menemaninya disaat-saat seperti, ia beruntung sekali memiliki suami yang memprioritas kan dirinya, padahal yang ia tahu Leon adalah orang yang super sibuk karena tuntutan pekerjaan nya.
Menyandarkan kepalanya di depan dada bidang milik Leon, Karena kepalanya pusing sekali. Terlebih lagi, sepertinya ia tidak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri. Leon yang paham dengan keadaan Zahra, mendekap erat tubuh mungil tak berdaya itu. Memberikan kekuatan untuk Ibu dari anak-anaknya.
__ADS_1
Zahra menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap suaminya. Aroma itu, memberikan ketenangan untuknya. Lama dengan posisi yang seperti itu, Leon pun membawa sang istrinya ke dalam gendongannya bak anak koala. Karena Zahra yang tak ingin berubah posisinya. Leon pun membawa Zahra keluar dari kamar mandi.
*****.....*****