
Setibanya di apartemen Alina, mereka segera menekan sandi pintu Alina. Yah, mereka sudah tahu password apartement sahabat nya ini. Kanaya dan Raina berjalan ke dalam.
"Raina, kok sepi ya? Mana calon pengantin nya? Apa jangan-jangan dia tidur ya?" tanya Kanaya, menerka nerka apa yang sahabat nya itu lakukan.
"Nggak mungkin deh, kalau dia tidur. Kita kan sudah bilang, kalau mau kesini." Pikir Raina, masa iya mereka di tinggal tidur siang.
"Hehe... Iya juga ya! Tapi mana anaknya?" tanya nya lagi, sembari mengedarkan pandangan ke segala arah. Dan tak lama kemudian, mereka berjalan ke arah dapur. Karena mendengar suara dari arah sana.
"Ohh, ternyata calon pengantin disini." Kata Raina berbisik, agar Alina tidak menyadari kedatangan mereka. Benar saja, Alina tengah fokus dengan minuman yang dia buat, untuk jamuan teman teman nya nanti.
Mereka mengendap ngendap, berjalan beriringan ke dapur. Saat melihat Alina yang sudah selesai dengan kegiatan nya,dengan bersama mereka mengucapakan salam.
"Assalamualaikum, calon pengantin!" salam mereka dari belakang, sengaja memang ingin mengagetkan Alina. Dan benar saja, gadis itu sampai terlonjak, dari saking kagetnya.
"Astaghfirullah... Dasar teman lukcnat!" umpat Alina, dari saking shock nya.
"Astagfirullah, Neng capen nggak boleh begitu! Nggak baik tahu berbicara seperti itu." Peringat Kanaya, sembari membawa nampan yang sudah di tata makanan dan minuman oleh Alina.
"Apaan capen capen?" tanya Alina judes dan kepo dengan kata yang baru saja dia dengar.
"Calon pengantin! Masa gitu aja nggak tahu sih. Lelet bener dah, kerja otak nya." Sindir Kanaya.
"Salam kami belum di jawab!" protes Raina.
"Waalaikumsalam, lagian ya kalian sih. ada ada saja kelakuan nya. Untung nggak mati di tempat aku, dari saking terkejut nya," dumel Alina, sembari mengerucut kan bibir nya, karen kesal sama mereka.
"Yeah! Nggak boleh gitu dong. Emang mau calon suami kamu, berdiri sendirian diatas pelaminan? Kan nggak? Nanti kalau di embat orang lain gimana? Gak rela juga kan...?" goda Raina, seraya menaik turunkan alisnya.
"Yaa, tidak rela lah. Ya kali jadi jomblo terus..." protes gadis itu. Mereka pun sama-sama keluar dari dapur, menuju ruang tamu. Untuk melanjutkan obrolan mereka. Emang, mereka akan menghabiskan waktu menemani sahabat nya ini, yang sebentar lagi akan menjadi istri orang.
Ketiga sahabat itu pun, terus saja bercengkrama! Ada saja yang mereka bicarakan.
__ADS_1
***
Di kamar yang begitu luas, sepasang suami istri itu berbaring mengistirahatkan diri. Apalagi, Kaira yang baru saja pulang dari rumah sakit. Membuat seorang Leinard begitu perhatian dan protektif banget kepada istrinya.
"Sayang," panggil Leinard yang tengah memeluk sang istri, sambil mengelus surai hitam nan panjang milik Kaira.
"Apa Mas? Kamu mau sesuatu? Atau butuh bantuan?" tanya Kaira bertubi-tubi.
"Haha... Haha... ! Ya nggak lah sayang! Mana mungkin Aku meminta bantuan kepadamu." Sahut Leinard sembari tertawa, mendengar kan beberapa pertanyaan yang di lontarkan istrinya.
"Terus, apa dong Mas? Kok nggak jelas gitu, ngeselin deh!" rajuk Kaira yang melihat Leinard terdiam beberapa detik. Ia tak sabar, ingin tahu apa yang akan di ucapkan suami nya.
"Emang nya kamu nggak tahu?" Leinard tambah membuat Kaira penasaran. Dengan polosnya, sang istri menggelengkan kepalanya.
"Ihh, sakit tahu..." protes Kaira, dengan kelakuan suaminya yang tiba-tiba menggigit pelan pipinya.
"Ngegemesin sih! Jadi di gigit kan." Sahutnya sembari tersenyum manis.
"Kok ngebelakangin aku, sih! Sini dulu. Iya deh, Iya. Aku kasih tahu. Hadap sini dulu," pinta nya sembari membalik Kaira seperti semula.
Kaira pun menurut, lalu tersenyum ke arah sang suami. Menatap kearah suaminya. "Sayang, kamu memang benar-benar tidak tahu? Soal... Zeo dan Alina?" bukan nya memberi tahu, malah mengajukan pertanyaan lagi.
"Ohh, Iya Mas. Aku tahu kok. Mereka mau married kan ya?" tutur nya setelah mengingat pembahasan yang lagi ramai di grub mereka.
"Terus..." Leinard ingin tahu kelanjutan nya.
"Mas, boleh ya aku dateng. Masa di acara penting sahabat ku nggak dateng? Apalagi Alina begitu mengharapkan aku dateng. Boleh ya!" ujar nya meminta izin kepada suaminya.
Leinard tampak berfikir, "Emang nya kamu sudah baik baik saja? Kalau iya, kita akan dateng. Tapi, kalau kamu merasa masih kurang sehat nggak usah ya..."
"Aku sehat kok. Sehat banget malah, aku kan tidak sakit mas," jawab Kaira cepat dengan binar bahagia. Dia akan memberikan kejutan untu sahabat nya.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan dateng ke acara mereka." Tak mungkin kan dia, tidak memberikan izin. Apalagi yang menikah adalah sahabat mereka.
"Yeay! Mas Leinard yang terbaik. Makasih banyak, Mas! " Sembari mencium sebelah pipi sang suami.
"Apa sih yang nggak buat istriku," sahutnya membangga kan dirinya sendiri.
"Tapi... Aku belum membeli kado buat mereka. Apalagi waktu nya sudah tinggal dua hari lagi. Kado apa ya yang cocok biat mereka? Terus, kapan kita akan membeli kado pernikahan untuk Alina?"
"Kamu tenang saja, Sayang. Biar Mas saja, yang menyiapkan semuanya. Kamu hanya perlu istirahat saja. Tidur gih..." suruh Leinard. Semakin memeluk istrinya, Kaira pun memejamkan matanya, dan tak lama kemudian mereka sama sama tertidur.
***
Dua hari berlalu...
Hari-hari berlalu, waktu yang dinanti-nanti kedua calon pengantin pun tiba. Pernikahan yang mewah dan megah, yang di selenggarakan Zeo di salah satu hotel bintang lima miliknya.
Sedangkan, Alina sudah sedari tadi di dandani Mua terkenal. "Mbak, make up nya yang tipis-tipis saja ya," pinta Alina yang kesekian kalinya.
"Iya, mbak. Saya akan melakukan sesuai permintaan mbaknya kok. Lagian ya, mbak udah cantik banget! Hanya perlu di poles sedikit saja." Balas nya, sembari tersenyum manis ke arah Alina.
"Makasih banyak, mbak." Ujar Alina.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar, dari kamar yang di tempati Alina. "Loh, siapa yang ketuk pintu nya mbak?" tanya Alina kepada wanita yang memoles wajah nya itu.
"Maaf mbak! Saya juga kurang tahu. Tidak apa-apa, biar pintu nya saya saja yang membuka." Ucap sang Mua menawarkan diri, agar Alina tak beranjak dari tempat nya.
"Emang nya nggak apa-apa, kalau mbak ny ayang membuka? Saya tidak enak loh, mbak." Alina merasa sungkan dengan penata rias itu, karena harus meminta bantuan nya.
"Ya, tidak apa-apa mbak. Lagian saya senang kok, bisa membantu anda. Nanti kan, kerepotan kalau semisal mbak Alina yang membuka pintu sendiri." Mua itu pun melangkah mendekati pintu.
__ADS_1
*****