
"Hah...?" Seketika Kaira tidak dapat berpikir lagi. Lamaran dadakan macam apa ini!.
Sungguh ia sangat terkejut. Niat yang di utarakan Leinard itu membuat dunia nya seketika terhenti. Tidak ada angin, ataupun hujan, tiba-tiba Ia dilamar. Bahkan nama orang di depannya saja Ia tidak tahu. Jika seperti ini, Dia harus bagaimana?. Kaira tak menanggapi sama sekali perkataan Leinard barusan.
"Daripada kita bahas yang itu, lebih baik saya membersihkan dan mengobati luka Anda." Kata Kaira, kali ia mengangkat wajah nya danenatap lawan bicaranya. Sangat canggung rasanya, ia ingin Orang di sebelahnya ini cepat keluar dari ruangannya.
"Emangnya kenapa? Kita kan bahas masa depan. Masa iya, harus di tunda-tunda." kata Leinard sekena nya. Mood nya langsung rusak, karena Kaira yang mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Y-yaa, tempat nya aja kurang pas. Inikan rumah sakit! Jadi tahu lah tujuan orang kesini itu berobat. Bukan untuk melamar anak orang." ucap Kaira gugup. Ia merasa ruangannya sangat dingin, padahal AC di ruangan itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Sampai-sampai tangannya dingin sekali. Tangan yang bergetar dari saking groginya, ia tambah mengetatkan pegangan pada tas yang ada di pangkuannya. Supaya Leinard tidak menyadari dirinya yang begitu gugup.
Karena begitu peka dengan keadaan, Leinard mengetahui pergerakan sekecil apapun yang di lakukan Kaira. Ia mengulum senyum di bibir seksinya. Menikmati kelakuan Kaira, yang semakin menambah kadar kegemasannya.
"Jadi....kalau Aku melamar langsung kerumah mu, Kamu mau yaa?" tanyanya to the point. Leinard sangat percaya diri, karena ia tahu Kaira tak memiliki seseorang yang spesial di hidupnya. Kecuali keluarga. Leinard meminta asistennya untuk mencari tahu tentang Kaira, bagaimana kehidupan nya dengan waktu satu jam saja. Dan berkas yang ia inginkan harus valid, nggak boleh ada yang ketinggalan sekecil apapun itu.
"Hmm...bisa jadi Iya. Bisa jiga tidak!" jawab Kaira sekenanya.
"Kok jawabannya dua, Aku itu minta jawaban hanya satu! Dan Aku nggak kenal penolakan Nona Kaira Anastasya" dengan memperlihatkan senyuman devil nya. Untuk mempertegas apa yang ia ucapkan. Kaira yang melihat senyuman itu bergidik ngeri.
"Anda kok kayak nya maksa ya? Saya memang tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Anda. Karena saya tak berhak, ada Orang yang lebih berhak memberikan Anda jawaban. Yaitu kedua orang tua saya. TUAN!" Kaira memang sengaja menekan kan kata terakhir, agar Leinard tahu bahwa mereka berbeda. Dia orang yang sangat kaya dan terpandang, sedangkan dirinya hanya orang biasa nan sederhana.
"Baiklah kalau seperti itu, Aku mengerti!" Leinard mengalah. Namun bukan dirinya mundur untuk niat awal, yang ingin miliki Gadis bercadar di sampingnya. Tapi ia akan mendekati calon mertuanya saja, karena itu lebih mudah menurutnya.
"Ini jadi yaa lukanya di obatin? Kalau nggak jadi saya mau ngecek pasien aja ke ruangannya!" Kaira yang sudah kesal membuat ia taksabaran. Baradu kata dengan Leinard membuat dirinya kesal, apalagi orang ini tidak mau kalah sama siapapun. Walaupun itu seorang wanita, tetapi argumennya lah yang harus diterima.
__ADS_1
'Dasar cowok nyebelin...!' Kaira membatin. Kaira yang lemah lembut, seketika hilang jika itu menyangkut Leinard. Dirinya yang tak pernah seperti itu, membuat ia jadi pengumpat. Namun hanya dalam hati saja. Sungguh Dia begitu takut, kalau sampai kalimat itu terdengar oleh orang di samping nya ini.
"Jadilah! Kalau nanti saya kenapa-napa! Kamu mau bertanggung jawab?. Makanya cepetan obati luka saya, jangan mengumpati orang sembarangan." kata Leinard datar tanpa ekspresi.
Kaira menggeser tubuhnya sedikit, supaya tambah dekat dengan Leinard. Ia meminta Leinard membuka kancing kemeja nya sendiri. Leinard menuruti apa yang di ucapkan Kaira kepadanya.
Mommy Ranty dan sang adik berjalan di koridor rumah sakit, sang adik menggendong putri kecil nya. Yaitu Kalila. Kalila mngidap penyakit usus buntu di umur tujuh tahun. Vania ingin anaknya cepat sembuh, ia tak tahan melihat putri kecilnya kesakitan seperti ini.
Mereka terus menyusuri koridor. Sampai mereka bertemu dengan suster Kanaya.
"Suster," kata Mommy Ranty menghentikan langkah kaki perawat cantik itu.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kanaya. Kepada pemilik rumah sakit tempat ia bekerja dengan sahabatnya. Dia tahu, jika sampai nyonya besar datang ke rumah sakit. Pasti keluarganya yang kenapa-napa.
"Saya mau cari dokter Kaira suster, keponakan saya sakit. Dia ada di mana ya suster?" tanya Ranty. Dialah ibu dari Leinard. Wanita yang sangat Leinard cintai di dunia ini.
"Mari saya antar keruanganya, Nyonya." ucap Kanaya lagi.
"Baiklah, makasi ya suster" kata Mommy Ranty menampakkan senyuman manisnya.
Mereka berjalan menuju pintu lift, beriringan sembari bercengkrama kecil.
Sedangkan Kaira, dilanda keragu-raguan. Pasal nya ia harus menurunkan kemeja yang menutupi bahu Leinard.
__ADS_1
"Turunkan saja!" titahnya. Duduk membelakangi Kaira. Perlahan tangan Kaira mengudara. Memegang kerah kemeja Leinard. Menurunkan kemeja itu, tampaklah luka kain yang penuh darah. Darah yang udah kering.
Kaira membuka perekat di perban, tampak lah luka bekas tembakan di bahu itu. Luka yang sedikit menganga. Ia menaruh bekas pernan itu kedalam tempat sampah.
"Kenapa tidak diganti tadi malam perbannya? Kalau punya luka itu, harus diperhatikan biar tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan." omel Kaira kepada pasien nya.
"Tidak ada orang yang bisa membantu ku, untuk mengganti perban itu. Kalau saja ada, tidak mungkin Aku sampai di ruangan ini." kilah Leinard. Karena ia hanya ingin Kaira saja yang mengganti perbannya. Kaira menasihati pasiennya sembari membersihkan menyeluruh luka itu. Mengambil kain kasa yang ia taruh di meja. Membalut luka dengan perban baru. Selang beberapa menit luka sudah tertutup pernah dengan sempurna.
Kaira kembali membernarkan kemeja yang ia turunkan tadi. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar-lebar. Leinard dan Kaira mendengar pintu terbuka, sontak saja mereka melihat ke arah pintu. Mereka sama-sama terkejut.
"Boy, kamu ngapain disini?" tanya sang Mommy. Leinard speclees mendapati Mommy ada di depannya. Dia tidak pulang karena takut Mommy nya khawatir. Malah orang yang dihindari sekarang berdiri kokoh di depannya.
"Ngelamar Mom! Mom sendiri ngapain disini? Sama tante lagi...kok tuan putrinya uncle pucat, sakit Mom?"
"Boy bilang apa tadi!" tanya Mommy lagi.
"Mom ngapain kesini?"
"Bukan yang itu..yang lain!"
"Melamar Mom."
"Boy, apa yang kamu katakan itu benaran! Jangan malu-maluin yaa. Ngelamar buntut orang kok di rumah sakit! Sudah tak mampu nyewa restaurant mewah yaa." ujar Mommy sama putranya. Dia bahagia mendengar anaknya melamar gadis di depannya. Ia langsung jatuh hati, pada wanita depannya itu.
__ADS_1
"Yang benar saja Mom!" Leinard kesal mendengar perkataan terakhir Mommynya. Masa Iya dirinya tidak mampu, bukan itu yang ia permasalahkan. Melainkan diterima apa tidak dirinya. Sedari tadi Kaira dan Kanaya hanya melempar pandangan saja. Kaira bangun dari sofa, ia mempersilahkan tamunya masuk.
........