
"Tuan,,,Kenapa tidak bermain-main dulu? Kurang seru!" kata Juno menilai permainan boss nya yang kurang mengasikkan baginya. Ini kali pertama dia tak menyiksa mangsanya sebelum ajal datang.
"Tutup mulut mu! Aku tak mau lagi bermain seperti itu. Aku ingin cepat menyelesaikan masalah anak cabang dan langsung pulang. Kau tahu! Aku begitu merindukan pujaan hatiku." ujar Leinard dengan datar, sedatar papan triplek...hahaha.
Mendengar Tuannya bucin, Juno menahan tawa sekuat mungkin. Agar tak meledak di depan Leinard. "Aku jadi kepengen merasakannya!" seloroh Juno dengan yakin. Dia kagum dengan Leinard yang berubah seperti itu, setidaknya hati nurani yang dimiliki boss nya terlihat. Meskipun itu hanya secuil saja.
Leinard tak mengindahkan pembicaraan Juno, dia abai akan keinginan seketarisnya. Karena ia tak bisa fokus, fokusnya untuk saat ini hanya Kaira dan Kaira saja.
"Jangan mengulur waktu lagi, kita harus lekas ke atas. Berhenti berbicara yang konyol." lantas Leinard berjalan ke luar terlebih dahulu dari markas. Sedangkan Juno di buat melongo, dia tidak mendapatkan tanggapan apapun saat isi hatinya diutarakan.
"Dasar bos dingin! Hanya mementingkan diri sendiri." umpatnya.
"Aku mendengarnya brengsek!" tanpa membalikkan badan Leinard berbicara. Juno nyengir mendapat bentakan dari Tuannya.
Leinard dan Juno berjalan ke arah ruangannya. Ruang kerja yang mewah dan rapi, lebih kecil dari ruangannya yang berada di perusahaan induk.
"Adakan rapat!" perintah Leinard setelah dia berhasil mendaratkan bokongnya dengan sempurna di kursi kebanggaan nya.
"Baiklah tuan." Juno langsung beranjak dari tempatnya, tanpa berbicara lagi. Semua akan sama sesuai dengan yang diinginkan boss nya.
Sudah seminggu dari kepergiaan suaminya, sampai sekarang Kaira tak mendapatkan kabar apapun. Di telepon saja tidak, apalagi di chat. "Sesibuk itu kah dirimu?" gumam Kaira bermonolog pada dirinya sendiri. Dia merasa bosan di mansion, walaupun banyak para maid dan pengawal. Itu tetap tidak bisa menghilangkan kejenuhan yang ada pada dirinya.
Kaira mengambil benda pipih miliknya, ia mengetik sesuatu di laman chat nya. Ya...Dia akan mengundang sahabatnya aja ke rumahnya.
"Assalamualaikum bestie, lagi sibuk enggak? Kalau tidak, main ke rumah dong! Aku kangen sama kalian." dia langsung mengirim chat di grup kaum hawa.
Temannya segera menanggapi chat dari Kaira "okey" balasan yang di terima si pengirim.
Setengah jam berlalu, sampai sekarang belum ada tanda-tanda sahabatnya datang. Dia menata jamuan untuk teman-temannya yang mungkin dalam perjalanan menuju rumahnya.
__ADS_1
Di meja panjang, ruang makan. Sudah tertata begitu banyak makanan yang menggugah selera dari makanan berat sampai ringan di atas nampan yang terletak di meja. Jika teman-temannya datang, dia tinggal menjamu saja.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh..." salam mereka dengan kompak dari depan. mereka masuk karena pintu rumah yang tidak terkunci dan sedikit terbuka.
Kaira menghentikan kegiatannya, dia langsung ke depan. Disana sudah ada Kanaya, Raina, dan Liana. Sedangkan Zahra izin tidak bisa datang, karena dia harus menjemput putri nya.
Mereka berpelukan, lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Buset! Rumah lo gede banget. Gue kira salah masuk!" ucap Raina.
"Hahaha...rumah suami gue kali neng." jawab Kaira.
"Tetep aja! Lo kan bininya. Jadi apa yang milik suami jadi milik istri, beda lagi kalau milik istri. Malah suami tidak punya hak." kata Raina lagi.
"Ish,,,cerewet lu." timpal Kanaya menanggapi.
"Wlek,,,biarin. Orang punya gue." ujar Raina tak mau kalah.
"Kalian ini yah, enggak dimana-mana selalu seperti itu. Daripada ngoceh tidak jelas, mendingan kita ngisi raga dulu. Supaya tenaga kalian bertambah, nanti di lanjut lagi tidak apa-apa kok." kata Liana tanpa dosa.
Ketiga sahabat itu menggelengkan kepala, mereka tak habis pikir dengan kelakuan absurd Liana. "Ini anak ya,,,enggak jelas banget. Pasti urusan perut no satu." kata Kanaya
"Biarin..."
"Liana bener, aku sudah nyiapain banyak sekali makan. Jadi, let's go kita makan." Kaira mengajak para bestie itu menuju meja makan.
Dengan semangat 45, Liana berjalan ke arah meja, mendahului si tuan rumah. Maklum dia wanita yang ngirit, kalau mau beli makanan enak dia berfikir dua kali. Teman-temannya memaklumi itu, malah mereka senang Liana yang apa adanya.
Sore tiba, ketiga sahabat itu undur diri untuk pulang dan melakukan pekerjaannya masing-masing.
__ADS_1
"Kai kami pulang dulu ya,,,kamu baik-baik." ucap Kanaya sembari melepas pelukannya. Di susul Raina dan Liana melakukan hal yang sama.
"Oh iya teman-teman! Insyaa Allah minggu depan aku nikah." kata Kanya memberitahu sahabatnya. Kedua sahabatnya terkejut mendengar itu, tapi tidak dengan Kaira. Karena dirinya sudah tahu perihal itu.
"Hah...?" kata yang keluar dari Raina dan Liana bersamaan.
"Alhamdulillah,,,akhirnya sahabat ku ini akan jadi istri juga." dia bersyukur banget dengan apa yang di dengar.
"Yey,,,bukannya bahagia malah terkejut. Kalian ini teman gue nggak sih?" tanya Kanaya.
"Bukan seperti itu, Kamu sih ngasi infonya cepet banget! Mana lagi yang kami ketahui loenkan anti banget sama yang namanya cowok." kata Liana.
"Hehehe,,,iya juga sih. Tapi ingat kalian semua wajib dateng." Ujar Kanaya tak menerima penolakan.
"Siaap calon manten." balas Raina. Mereka tertawa bahagia.
Jam menunjukkan pukul 9.30 Tapi Kaira enggan beranjak dari balkon. Terpaan angin malam mengenai rambut hitam legam yang tak mengenakan hijab. Membuat rambut yang menjutai kebawah bergerak se arah angin.
Drieet,
Suara pintu kamar terbuka, setelah seminggu pergi tanpa kabar. Dia bisa menapaki lantai kamarnya kembali. Dia mencari sosok yang sangat ia rindukan, dalam sepekan ini hanya tentang dirinya yang mengisi otak Leinard.
Pintu balkon sedikit terbuka, dia menaruh jas mahalnya di sofa tunggal yang ada di kamar itu. Leinard berjalan ke arah balkon, saat di ambang pintu dia menghentikan langkah kakinya. Mendengar ocehan sang istri yang memaki dirinya.
"Mas Leinard,,,benar-benar sibuk banget ya! Sampai-sampai lupa ngasi kabar. Dasar laki-laki tidak peka! Istri di rumah risau, tapi tak memberikan kabar" monolog Kaira pada dirinya sendiri.
"Dia tidak tahu apa kalau istrinya rindu! Apa jangan-jangan mas Leinard punya istri lain ya? Tidak-tidak! Kai lo itu harus berfikir positif, laki lo itu kerja buat nafkahin lo." Kaira mengetuk-ngetuk kepalanya, dia tak habis fikir kok bisa kepikiran hal-hal seperti itu.
"Astaghfirullahal adzim.." Kaira istigfar.
__ADS_1
Seketika senyum terbit di bibir Leinard sirna, mendengar kata-kata terakhir Kaira. Sesaat dia di buat bahagia, bersamaan dengan itu pula Leinard di buat jengkel. Dia merengkuh tubuh Kaira dari belakang.
"Hilangkan pemikiran itu sayang! Hanya kamu satu-satunta istriku." Ucap Leinard mencium pipi kanan Kaira. Dia tersentak saat ada orang yang memeluknya dari belakang. Tapi itu hanya sesaat, karena dia hafal dengan parfum manly milik Leinard. Dan bau mint yang menguar dari sang suami.