
"Yaudah Mbok Imah, saya permisi dulu ke kamar." ujar Leon, lalu melenggang pergi meninggalkan mbok Imah yang kagum dengan perubahan sang majikan. Karena sebelum nikah dengan Zahra, temperamen Leon sangat buruk. Jauh dari sang pencipta dan juga sangat dingin dan kejam. Dia akan langsung menghukum pembantu yang salah meskipun sedikit saja, dia tidak pandang bulu walaupun yang salah seorang perempuan. Baginya sama saja.
Leon menaiki tangga tergesa-gesa. Ia sangat khawatir mendengar penjelasan dari Mbok Imah tadi. Sampai-sampai kaki jenjang nya melewati satu sampai dua anak tangga.
Ceklek....
Leon membuka pintu kamar mereka, ia langsung masuk ke dalam. Dia atas ranjang terbaring sang istri yang di peluk erat oleh putri semata wayang nya. Anaknya mengelus penuh kasih sayang rambut hitamblegam yang panjang milik Zahra, seolah-olah melimpahkan seluruh kasih sayang nya kepada ibu sambung nya. Zalfa bertindak seperti orang dewasa, meskipun umur nya masih berumur 4 tahun lebih 15 hari saja.
"Assalamualaikum...Deddy!" sapa Zalfa kecil, melihat Deddy nya baru pulang bekerja. Ia melepaskan pelukan dari sang ibu, bangun menghampiri ayah nya yang masih berdiri di ambang pintu. Lalu mencium punggung tangan Leon.
"Wa'alaikumsalam...Princess nya Deddy!" balas Leilon sambil membawa putrinya ke dalam gendongannya.
"Unya Sakit Deddy...!" beritahu Zalfa ke Deddy nya dengan sendu. Lalu tunjuk Afa mengarah ke ranjang, di mana sang istri terbaring dengan mata terpejam. Leon langsung melangkah kan kakinya menghampiri Zahra. Sang istri terlihat ada pergerakan, tanda ia bangun dari tidur nya.
Leon menurunkan Zalfa di ranjang terlebih dahulu, lalu dia ikut duduk di samping ranjang. Zahra tersenyum kearah sang suami, ia pun ingin bangun. Tapi di cegah oleh Leon. "Bunda berbaring aja, tidak usah bangun." ucap Leon. Zahra mengangguk pelan menyetujui ucapan sang suami. Lantas ia menarik tangan kanan Leon, membawa nya ke depan wajah nya. Zahra pun mengecup hangat punggung tangan sang suami penuh hormat.
"Sakit apa hem? Kenapa tadi tidak memberi tahu kalau bunda kurang sehat?" tanya Leon bertubi-tubi dari saking khawatirnya. Pertanyaan satunya aja belum di jawab, malah bertanya lagi.
"Satu-satu Yah kalau nanya!" sahut Zahra tersenyum jumawa, ia tak mau Leon terlalu khawatir dengan dirinya.
"Pertama Unya itu baik-baik saja, hanya pusing saja. Tapi sekarang sudah mendingan kok, karena melihat Ayah. Dan kedua...Ayah sudah makan apa belom?" tanya Zahra.
Leon yang gemas dengan Zahra, mencapit hidung sang istri. Zahra sok kuat di depan Leon, padahal ia tahu bahwa istrinya pura-pura kuat. "Honey! Aku itu lebih suka kamu ngandelin aku saja, dan bermanja-manja. Daripada bilang baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak." ucap Leo memberi pengertian dengan halus ke Zahra. Dia mau sang istri ketergantungan dengannya.
__ADS_1
"Yah, beneran bunda baik-baik saja kok. Jangan khawatir ya?" pinta Zahra ada sang suami.
"Bagaimana aku bisa tidak khawatir Yank! Kamu aja keadaannya gini." ucap Leon.
"Unya sudah makan belum Princess?" tanya Leon pada sang anak. Zalfa pun menggeleng, karena memang begitu adanya.
"Unya tadi langsung istirahat, Melewatkan makan siang nya Deddy." jawab Zalfa dengan sendu.
"Kok mukanya putri Bunda begitu! Bunda baik-baik saja Nak!" ujar Zahra sembari mengelus pundak kecil Afa yang berada tepat di sampingnya. Dia melihat wajah khawatir putri kecilnya ' Makasih ya Allah, engkau menghadirkan mereka di sisiku' batin Zahra.
"Yaudah kalau belum makan, mendingan kita makan bersama-sama!" putus Leon kepada keduanya. Wanita yang berbeda generasi itu mengangguk setuju.
Leon pun menurunkan putrinya terlebih dahulu dari ranjang. "Afa turun bareng bi Narsih aja ya." pinta Leon kepada putrinya, agar mau turun dengan pelayan ke meja makan.
"Okey Deddy...!" seru Zalfa. Ia pun beranjak ke luar dari kamar kedua orang tuanya. Di depan pintu kamar, bi Narsih sudah menanti nona kecil Afa.
Setelah kepergian Zalfa, Leon pun kembali duduk di samping Zahra yang sudah bersender di headboard. "Sayang, kamu beneran sudah tidak apa-apa?" tanya Leon lagi memastikan keadaan Zahra. Tiada bosan-bosannya dia bertanya, kesehatan Istrinya.
" Iya,,,Yah! Bunda bisa minta tolong ambilkan hijab instan di ruang ganti? Yang ada di samping paling kiri berwarna milo?" kata Zahra minta tolong.
"Dengan senang hati Yank! Kamu juga tidak perlu pakai minta tolong segala, kalau butuh sesuatu katakan saja. Hem!" Leon pun pergi ke walk in closet, untuk mengambil hijab Zahra. Setelah menemukan hijab yang di minta, dia langsung keluar dari ruang ganti. Ia berjalan ke arah sang istri, lalu memperlihatkan hijab yang di bawa.
"Bund...yang ini ya?" ucap Leon sembari mengangkat hijab itu agar terlihat.
__ADS_1
"Iya Ayah..." ia pun mengulurkan tangannya hendak mengambil hijab itu, tapi di tahan Leon.
"Biar Ayah aja Bund! Lagian ini cuma memakaikan saja, gampanglah." jawab Leon. Dengan telaten dirinya memasangkan kerudung sang istri.
"Sangat cantik!" puji Leon setelah memakaikan Zahra hijab. Sedangkan Zahra yang di puji jadi bulshing, senyum-senyum sendiri.
"Ciee,,,ada yang malu! Bunda-bunda kok bisa masih malu sama suami sendiri. Padahal mah, sudah faham luar dalam nya." ujar Leon frontal.
"Ihh Ayah, kok ngomong nya kayak gitu! Ini jadi mau makan apa tidak? Kasian Zalfa yang nunggu lama di bawah." kata Zahra salah tingkah.
"Iya-iya Bund..." sahut Leon pasrah. Ia pun berdiri, lalu menggendong Zahra ala bridal style. Zahra yang terkejut sontak memekik.
"Ay....yah..." suara cepreng Zahra mengisi kamar.
"Bunda kok teriak sih! Kalau nanti kuping aku budek gimana?" ucap Leon.
"Yaa,,,maaf Yah. Lagian sih mau gendong tidak bilang-bilang, Bunda kan jadi kaget." ujar Zahra manyun. Karena Leon yang bilang kalau dia budek gara-gara zahra. Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung turun ke bawah. Leon mendudukkan sang istri di kursi, wajah Zahra langsung berubah kayak menahan sesuatu. Yah, bau menyengat dari makanan yang tertata di meja menusuk ke hidungnya. Sampai-sampai perut nya sakit terasa di lilit, dia mual pengen muntah.
Baru saja Leon duduk di kursinya, ia sudah melihat Zahra berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang dekat dengan dapur. Leon pun lekas berdiri menyusul sang istri, yang sudah muntah-muntah.
"Hoeek...hoeek...hoeekw..." Zahra memuntahkan cairan bening saja. Karena dirinya belum makan apapun, sehingga perut nya kosong. Dengan telaten Leon memijat tengkuk sang istri yang tampak pucat. Setelah selesai muntah, Leon membasahi mulut sang istri dengan air untuk membersihkan sisa cairan yang di muntahkan Zahra.
"Jangan Ayah,,,emang nya tidak jijik?" tanya zahra pelan hampir tidak kedengaran.
__ADS_1
"Tidak kok bund, gimana sudah lebih baik? Atau mau muntah lagi?" tanya Leon sambil membenarkan hijab Zahra yang sedikit miring.
*****.....*****