Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 14. Pertumpahan bawahan dua Kubu


__ADS_3

"Mereka sudah ada di titik yang Anda mau Tuan," ujar bodyguard kepada atasannya.


"Bagus! Tikus-tikus bodoh itu, terkecoh. Biar saja mereka terus menunggu, sebelum aku memberi tahu selanjutnya." ujar Xaron. Ia tersenyum puas, rencananya berjalan lancar. Sebentar lagi dia yang akan menjadi pemilik tanaman kokain selebar 15 herktar itu. 'Bodyguard yang bisa di andalkan.' batinnya. Ia duduk di sofa panjang, yang ada di ruangan VVIP club malam, dia menghidupkan cerutu itu, lalu meng hembusankan nya ke udara. Para Wanita yang ia sewa, bergelanyut manja di kanan dan kiri tubuhnya. Sungguh buaya darat!.


"Kenapa mereka tidak ada pergerakan sama sekali? Ini lebih dari 5 menit." ujar Zeo, yang merasa ada kejanggalan.


"Aku berpikir hal yang sama denganmu." kali ini Sean setuju dengan pendapat Zeo. Mereka berkomunikasi satu sama lain menggunakan earphone yang terpasang di kuping masing-masing. Karen mereka yang menggunakan mobil sendiri-sendiri, kecuali Leinard dan Juno. Yah, mereka tak akan berpisah. Karena tangan kananya lah Juno.


Tinung...tinung...


Suara notifikasi dari handphone Leinard, ia mendapatkan pesan masuk dari bawahannya yang ada di Belgia. Anak cabang perusahaan nya mendapatkan masalah. Raut wajah Leinard langsung berubah, setelah dia membaca pesan itu.


"Dasar pedabah...!" amuk Leinard di dalam mobil. Juno yang melihat Leinard seperti itu, langsung memfokuskan dirinya ke Tuannya.


"Ada pengkhianat di perusahaan, dia memberitahu letak tanaman Kokain itu. Dan yang pasti data perusahaan juga bocor ke tanga 'Pedebah' itu" seketika aura iblis Leinard muncul. Tatapan mata yang tajam, siap untuk menikam mangsanya.


"Leon dan Zeo, bersiaplah kalian akan berangkat saat ini juga. Kalian urus pengkhianat itu." titah Leinard tak terbantahkan. Mereka yang mendapatkan mandat itu tak bisa menolak, kecuali melaksanakan tugas mereka dengan baik.


"Baiklah, kami akan pergi." ujar Zeo, tai tidak dengan Leon. Wajah penuh kekhawatiran langsung tercetak jelas di mukanya.


"Bagaimana dengan Zalfa? Aku tidak tega meninggalkannya." Leon langsung teringat sang buah hati. Dia enggan meninggal kan putri nya yang masih kecil.


"Bro, kamu tenang aja. Anak kamu kan sudah ada yang jagain, gue tahu kok kamu khawatir. Tapi mereka itu wanita baik-baik, nggak akan nyakitin Zalfa. Apa lagi dia udah manggil nya Bunda! So jangan khawatir begitu, gue bisa jamin kok." timpal Sean. Yah, dia tahu sedikit tentang persahabatan dan kebaikan gadis lima sekawan itu. Makanya, dia berani ngomong kayak gitu.


Tiada pilihan lain.....


"Oke, kami akan segera berangkat!" katanya. Kekhawatiran Leon terkikis, mendengar penuturan Sean tadi. 'Putriku ada di tangan gadis yang baik' batinnya memantapkan hati.


Menit berlalu, selesai berdiskusi Leon dan Zeo berangkat ke bandara. Mereka memakai jet pribadi milik Leinard. Sedangkan Leinard masih bergeming di tempatnya. Dia melihat mobil yang akan mengikuti Zeo dan Leon, dengan cakap ia langsung menghentikan. Menyuruh bodyguard nya untuk mencegah anak buah Xaron.

__ADS_1


"Kita harus memberikan Xaron pelajaran kecil! Agar dia tahu tempatnya. Dia sudah berani mengusik time Friend's kita. Ayo! Kita bersenang-senang." ujar Leinard mengintimidasi. Seakan siap menguliti musuhnya hidup-hidup.


"Dimana dia..?"


Juno yang mengerti, dengan pertanyaan sang Tuan.


"Dia berada di Club malam tuan, di jalan X. Club ternama di kota ini." ujar Juno. Kalau Bos nya sudah seperti ini, tak akan ada celah untuk mundur. Dia tak akan segan, untuk menabur air garam di atas luka yang menganga.


"Kesana..!" ucap nya tegas. Sean tak bisa menebak jalan fikiran Leinard, mengapa mereka tidak langsung menyerang markas nya saja! Mengapa harus menemui Xaron yang bermain ******.


"Menyenangkan bukan, jika seperti itu. Dia bermain dengan cara licik, lantas mengapa kita tidak!" ujar Leinard. Memperlihatkan senyuman mengerikan yang ia miliki. Mobil Leinard dan Sean, meninggalkan tempat itu. Sedangkan bodyguard mereka bertumpah darah dengan anak buah Xaron. Karena mereka mampu, pemimpin tak mau mengotori tangannya. Maka dari itu, ia pergi meninggalkan mereka.


Xaron yang bersenang-senang, merasa terganggu suara dering handphone nya. Lalu dia mengangkat panggilan masuk itu. Wajahnya seketika berubah, mendapat informasi itu.


"Brengsek...!" ujar nya. Ia meminta anak buah nya mundur. Karen mendengar berita kekalahan mereka. Dia tak mau ambil resiko, jika menambah anak buahnya.


Di salah satu kamar VVIP, Xaron akan memulai aksinya. Kepada para wanita yang ia bayar. Dua bodyguard Xaron menunggu di depan pintu, sehingga tak memungkinkan bagi Leinard masuk ke dalam. Ia melihat pelayan club itu membawa minuman yang di pesan oleh penghuni yang ada di dalam kamar. Tepat di depan kamar pelayan tidak langsung masuk ke dalam kamar. Di depan bodyguard itu ia membalikkan diri, di saat itu Sean berjalan menabrak pelayan. Untung saja tabrakan itu tidak menimbulkan apapun, terlebih kepada Sean yang merapikan nampan itu.


'Berhasil' ujarnya dalam hati. Melihat tugas dari Leinard. Sean berhasil menaruh kamera kecil tak terlihat di nampan itu. Ia pun melanjutkan jalan ke arah sofa yang di duduki Leinard dan Juno.


Setelah duduk, ia langsung mendapatkan tatapan tanya yang di layangkan Leinard.


"Beres..!" ucapanya lalu menengguk minuman vodka yang ada di meja. Ia berdiri mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja.


"Mau kemana?" tanya Juno, sang asisten mewakili pertanyaan yang bersemayam di dalam otak Leinard.


"Balik ke cafe gue, mau jemput Kanaya sama Kaira. Tadi kan, aku ninggalin mereka di sana." jawab Sean. Leinard yang mendengar nama Kaira di sebut, saat itu juga mengangkat bokongnya dari sofa lembut yang dia duduki.


"Aku ikut!" ucapnya tergesa-gesa. Wajah bahagia kentara dari dirinya. Sahabat pun melihat hal yang sama.

__ADS_1


"Makanya cepetan halalin, sebelum kamu di tikung." celetuk Juno.


Tanpa menanggapi ucapan Juno, Leinard melangkah meninggal kan mereka. Juno dan Sean mengekor di belakang mereka.


Menempuh perjalanan 17 menit, mereka sampai di parkiran cafe Loren'z. Dan benar saja para gadis masih di sana. Bercengkrama satu sama lainnya. Lantas Leinard turun dari mobil, diikuti Juno. Begitupun dengan Sean. Mereka berjalan ke arah para wanita berhijab syar'i itu.


"Assalamualaikum..." salam Sean.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh!" ucap mereka bersamaan, tak terkecuali si kecil Zalfa. Mereka masih berdiri di tempat. Tanpa kata apapun lagi, karena sekarang hampir isa, Sean langsung mengajak Kanaya pulang.


"Ayo pulang!" ajak Sean kepada Kanaya. Kanya yang mendengar itu, membeo di tempat.


"Di ajak tuh! Jangan diem di tempat aja. Sana pulang." ucap Zahra tersenyum.


Mendengar kata temannya, membuat Kanaya terasadar dari bengong nya.


"Iihhh, apaan sih Zahra, tidak boleh gitu tau."menampilkan wajah keselnya.


Mendengar kata Zahra, Sean langsung teringat Leon. Gadis kecil yang ceria itu, duduk di pangkuan Zahra dengan anteng. Ia mendekati Zahra, berjongkok agar tingginya sama dengan gadis mungil itu. Lalu mengelus pucuk kepala Zalfa.


"Sayang, tidak apa-apa kan Zalfa bobok sama Unya dulu. Deddy pergi sebentar, karena ada urusan pekerjaan mendadak. Mau kan?" kata Sean hati-hati, takut Zalfa tidak mau.


Zalfa yang mendengar itu, tersenyum lebar dan mengangguk patuh.


"Asyik, bobok sama Unya." dia begitu bahagia.


Zahra yang mendengar itu, tak bertanya apapun, pasalnya Sean mengkode dirinya agar mau. Zahra sih mau-mau saja, tapi dia kepo. 'kemana perginya ayah ana ini'. Batinnya bertanya.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2