Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 16. Pernikahan Istant Zahra & Leon


__ADS_3

Leinard dan Abba berangkat ke masjid, sedangkan Kaira dan Umma masih berkutat di dapur. Sesekali Umma fatimah menggoda putrinya. Membuat Kaira malu tak terkira.


Zahra mengajak putri kecilnya bersih-bersih dulu, sebelum shalat isa. Zahra membawa tubuh mungil itu masuk ke kamar mandi, membersihkan dengan telaten. Zalfa yang mendapat perlakuan itu, sungguh bahagia. Selesai mandi Zahra memakaikan baju yang dia beli tadi.


Drrttt...Drrttt....


Getar suara dari dering handphone genggam Zahra, yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Zahra mengambil handphone itu.


"Nomor tidak di kenal." gumamnya sendiri. Takut ada suatu hal yang penting, Zahra segera menekan gagang handphone yang berwarna hijau.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh, maaf! Dengan siapa?" tanyanya.


Leon yang mendengar suara lembut Zahra, hatinya terasa damai. Dia girang bukan main. Tapi Leon tetap mempertahankan wajah dinginnya. Walau sebenarnya Zahra tak akan tahu, dirinya kan tak melihat Leon. Detik berlalu, si penelfon tetap tak bersuara. Membuat Zahra berfikir, bahwa si penelfon orang iseng saja.


"Kalau anda tak bersuara, saya akan memutus panggilan ini!"


"Baiklah,,,saya Leon! Deddy anak yang sama kamu itu!" kata Leon. Ia mengalihkan menjadi video call. Zahra menerima panggilan itu, terpampanglah wajah tampan Leon yang memenuhi layar ponsel. Zahra tertegun melihat wajah Deddy Zalfa, satu kata dari dirinya tampan. Terasa dari kekagumannya dia langsung menyerahkan ponsel itu ke Zalfa.


"Assalamualaikum Deddy nya Afa," ujar gadis itu ceria. Dengan wajah yang sudah cantik, di kasi bedak baby. Sedangkan Zahra pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya sendiri, Zahra memberikan waktu berdua untuk mereka ngobrol.


"Wa'alaikumsalam sayang, kamu gimana kabarnya sama Unya? Zalfa enggak nakal kan sayang?" [Leon]


"Alhamdulillah baik Deddy, sama Unya Afa juga. Afa tidak nakal, Deddy...Afa pengen Unya." katanya penuh harap kepada sang Deddy.


"Baiklah, kalau anak Deddy pengen Unya. Nanti Unya akan jadi milik Afa!" tanpa berfikir dua kali lagi, Leon langsung mengiyakan permintaan putri nya.


"Makasih Deddy,,,,Muach." seru Zalfa kegirangan. Sedangkan Zahra di buat melongo, dengan jawaban aneh yang di berikan Deddy Zalfa.


"Sayang shalat yuk, udah itu kita makan dan belajar! Gimana mau kan?" ajak Zahra penuh kelembutan. Zalfa mengangguk tersenyum lebar. Sambungan telepon yang belum mati, membuat Leon mendengar itu. Dia tersenyum lebar 'Zalfa memang tidak salah pilih' batinnya. Ia tersenyum jumawa.

__ADS_1


Di lain sisi, Leinard dan Abba sudah pulang dari masjid di dekat rumah Kaira. Leinard tidak di perkenankan pulang, sebelum makan malam. Mereka duduk di ruang keluarga, sembari berbincang.


"Ooh,,,namanya nak Leinard ya, kenal sama Kaira di mana Nak?" tanya Abba.


"Saya pasien Kaira Ba, saya kenal putri Abba di sana." ujar Leinard, sebenarnya tidak bohong sih! Tapi masa iya dia bercerita semuanya. Bisa-bisa di tolak dirinya sama Abba.


"Sebenarnya, saya juga ada perlu sama Abba. Saya ingin mebicarakan niatan saya berkunjung kemari" kata Leinard sopan. Umma datang ke ruang keluarga, memberi tahu saatnya makan malam.


"Abba, Nak Leinard! Sebaiknya kita makan malam dulu. Obrolannya di lanjut nanti aja." ucap Umma fatimah. Umma pergi terlebih dahulu ke dapur, di sana sudah ada Kaira yang menata makanan di meja.


"Nak, kita makan dulu aja yah! Nanti baru di omongin lagi." ujar Abba sembari menepuk bahu Leinard. Lalu beranjak pergi ke dapur. Leinard pun ikut berdiri dan berjalan di belakang Abba.


Setelah satu minggu lamanya, sampai saat ini. Leo tidak memberikan kabar kepada Zalfa. Hanya hari pertama kepergian saja, dia memberikan kabar. Membuat Zalfa bersedih. Zahra terus menghibur putri kecil itu, agar tidak bersedih lagi.


"Sayang afa tidak boleh sedih, Deddy sayang banget sama Afa. Makanya Deddy bekerja keras, sampai ke luar kota! Supaya nanti bisa ngebahagiain Afa. Enggak boleh sedih lagi ya." tutur Zahra menasihati Zalfa. Mereka duduk di bangku taman, sembari melanjutkan makan ice cream lagi.


Ternyata di belakang mereka ada orang, yang menjadi topik pembicaraan mereka. Dia menyuruh asistenya untuk tak bersuara, agar tidak mengganggu mereka. Keinginan Leon tambah bulat, untuk menjadikan Zahra istrinya. Walaupun ia tak mencintai Zahra sama sekali, demi kebahagiaan putrinya dia akan menikahi Zahra.


Double Z langsung menoleh ke arah suara, mereka terkejut. Dimana sang Deddy sudah berdiri disana dengan senyuman lebar.


"Deddy tidak di ajak makan ice cream nya?" sembari mendekat ke arah mereka. Leon duduk di samping Zalfa.


"Mereka seperti keluarga saja!" ujar asisten Vano. Dia merupakan orang kepercayaan Leon, yang menangani perusahaannya. Vano pergi dari tempat itu, ia takut jadi pengganggu waktu sang Boss.


Zahra yang notaben nya tidak pernah dekat sama lawan jenis, jadi grogi dan dingin. Apalagi pemisah mereka hanya Zalfa, Membuat detak jantung tak karya saja.


"Deddy..! Afa kangen sama Deddy. Jangan pergi lagi!" kata si kecil sembari memeluk Deddy, menghilangkan kerinduaanya kepada sang Deddy.


"Wah, Princess Deddy cantik banget pakek kerudung. Jadi tambah cantik sayang! Sayang Deddy sama Mbok Imah kesini, tidak kangen sama dia." tunjuk Leon kepada wanita paruh baya itu, yang memiliki umur 52 tahun.

__ADS_1


"Cantik kan Afa, ini Unya yang beliin. Afa rindu kok sama Mbok." Zalfa di bantu turun dari bangku, dia langsung berlari kepada pengasuhnya. Mbok Imah, yang merawat Zalfa dari umur 10 hari dari kelahirannya.


Mereka tinggal berdua di taman, membuat Leon mempunyai kesempatan berbicara kepada Zahra.


"Kamu apa kabar..?" basa-basi Leon. Sejujurnya dia tak tahu, mau memulai kata-kata darimana.


"Alhamdulillah, saya baik!" jawab Zahra, sedangkan ia mati-matian menekan groginya supaya hilang.


"Ooh gitu, Emm...gimana kalau besok kita nikah! Zalfa juga sudah sayang kan sama kamu?" sungguh Leon bukan lelaki yang romantis, apalagi berbelit-belit. Ia langsung to the point aja.


"Anda tidak lagi bercanda kan? Bagaimana mungkin kita menikah? Cinta aja enggak. Apalagi baru ketemu satu kali, sebelumnya tidak kenal sama sekali." Kata Zahra, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki ini.


"Kamu tidak ada kesempatan menolak Zahra Khoirunisa! Pilihan mu cuma satu, mau menikah dengan ku" ujarnya penuh penekanan. Supaya Zahra tidak menolak. Leona lalu berdiri.


"Besok kita akan menikah!" final Leon lantas pergi dari sana.


"Hah? Hai....tunggu. Takdirmu kah ini ya Rabb untuk hamba?" gumamnya.


Keesokan harinya, waktu yang di tunggu Leon tiba. Tapi tidak dengan Zahra, dia cemas, takut dan di penuhi pikiran-pikiran lainnya. Tepat jam 6 pagi, Leon sudah berdiri di depan pintu apartemen Zahra. Leon mengetuk pintu, keluarlah Zahra dari balik pintu. Dia mengenakan gamis putih senada dengan hijabnya. Terbilang sangat sederhana, namun tak mengurangi kecantikannya. Leon di buat terpukau olehnya. Merek akan melangsungkan pernikahan di masjid yang dekat dengan apartemen Zahra, hanya 200 meter dari sini.


Segala keperluan yang Leon butuhkan sudah di urus oleh Vano, baik dari berkas sampai dengan tempat. Mereka tak mengundang siapapun, termasuk sahabatnya. Hanya wali dari Zahra, pak penghulu dan para saksi yang tak lain bawahan Leon saja.


Zahra duduk di samping Zalfa dan Mbok imah serta para maid wanita. Di belakang dengan jarak lima meter dari kaum laki-laki.


Mereka duduk dengan khidmat, mendengarkan khutbah nikah yang di bawakan penghulu. Setelah selesai khutbah mereka masuk ke acara ini yaitu ijab kabul.


"Bismillahirrahmanirrahim...Ankahtuka wazawwjtuka makhtubataka binti Zahra Khoirunisa alal mahri majmuet min 'adawat alsala." ucap pak penghulu.


"Qabiltu nikahha watazwijaha bil mahril madzkur haalan." jawab Leon dalam satu tarik an nafas. Akhirnya ia melepas masa duda nya. Dengan mempersunting Zahra, yang sekarang sah menjadi istrinya. Di belakang Zahra menangis haru, status nya sekarang berubah. Sudah menjadi istri Leon Sanu Adipati.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2