Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 19. Ketahuan (Leon&Zahra)


__ADS_3

Sampai di taman kota, Leon memarkirkan sepeda di tempat parkiran roda dua. Sedangkan di parkiran roda empat ada Sean yang memarkirkan mobilnya.


Kanaya melihat ke arah luar, tak sengaja iya melihat orang yang ia sayangi berboncengan dengan lawan jenis di parkiran roda dua.


'Kayaknya aku kenal orang itu' batinnya. Karena posisi Zahra yang membelakangi Kanaya.


"Kenapa?" tanya Sean.


"Kayak nya orang itu enggak asing deh?" tunjuk Kanaya ke arah parkiran. Sean melihat ke arah yang di tunjuk Kanaya. Mereka memperhatikan orang itu bersama-sama.


"Zahra,,,,Leon." ucap mereka bersamaan. Saat orang yang di sebut itu berjalan beriringan dengan tautan tangan yang tak lepas, sedangkan Zalfa berada di gendongan sang Deddy. Mereka berdua buru-buru keluar mengikuti Leon dan Zahra.


Leon mengedarkan pandangannya mencari bangku kosong di taman, dia menemukan bangku dekat dengan pohon. Mereka berjalan ke arah bangku. Dia mendudukkan Zalfa di bangku, diikuti oleh Zahra. Dia tahu sepertinya ada orang yang mengikuti, dia takut musuhnya. Tentu saja di harus berjaga-jaga, dia bersama orang yang di cintai dan sayangi, orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Ia melihat sekitarnya, malah menemukan Sean dan wanita yang berjalan ke arahnya.


"Assalamualaikum Bestie, putri kecil" salam Kanaya langsung duduk di tempat Leon. Dirinya sungguh tak sabar, untuk mencecar Sahabatnya ini dengan banyak pertanyaan. Tentang apa yang ia lihat tadi, sedangkan Zahra duduk dengan tenang melebarkan senyumannya. Menampilkan deretan gigi yang rapi.


"Zah, kamu bisa jelasin ini kan semua, jiwa kepo gue meronta-ronta dari tadi tau enggak! Dari pertama lihat kamu jalan bareng sama Dia." ucap Kanaya tidak sabaran. Sedangkan Sean dan Leon pergi meninggalkan mereka berbicara. Kaum laki-laki itu memilih membeli makanan dan minuman. Sembari berbincang ria juga, tapi ala kaum Adam ya.


Fyuh.....


Hembusan nafas Zahra ringan, namun bibirnya tak kehilangan senyum menawannya. Membuat dirinya semakin cantik. Lesung pipi yang tercetak di pipi kanan dan kirinya menambah kecantikan dirinya yang alami, membuat orang tak bisa berpaling.


"Iih, malah senyam-senyum sendiri. Cepetan!" Kanaya di buat tak sabar melihat ekspresi sahabatnya seperti itu. Ia semakin menaruh rasa curiga kepada Zahra. Bahwa sahabatnya itu, berpacaran. Padahal mereka tau, agama mereka melarang hal itu.


"Tatapan kamu Kay, bikin aku enggak nyaman tahu. Oke-oke! Aku ceritain, pasang mental sekuat baja yah!" gurau Zahra. Ia malah ingin menggoda sahabatnya ini, biar tambah kepo. Wajah kepo sahabtnya, membuat kebahagiaan tersendiri baginya.


"Dari tadi juga itu-itu aja,,,buruan ihh!" Zahra terekekeh geli melihat kelakuan temannya yang satu ini. Ia tak habis pikir dengan tingkah Kanaya yang seperti ini.


"Aku...udah nikah sama Mas Leon, kemarin kami melangsungkan acara pernikahan kami." kata Zahra tenang.


"WHAT!!!" Kanaya memekik mendengar penuturan Zahra. Zalfa langsung melihat ke arah Bunda dan aunty Kay, mendengar teriakan tadi. Zahra yang melihat Zalfa bingung, segera ia menghapus kebingungan itu.

__ADS_1


"Enggak apa-apa sayang, main lagi gih. Tuh kasian temannya di tinggal." tunjuk Zahra kepada teman sebaya Zalfa yang ia temui di taman.


"Gue bingung aja gitu, kamu nikah sesingkat itu, padahal yang aku tahu, pertemuan kalian hanya di cafenya Raina kan? Dan lagi kamu enggak ngundang kami. Kamu itu anggep kami bestie enggak sih?" ujar Kanaya dengan wajah kecewa. Zahra yang melihat wajah kecewa temannya jadi enggak enak hati.


"Ma-maaf, tapi ini beneran di luar dugaan, kemarin pagi-pagi dia sudah ada aja, di depan pintu apartemen aku, sebelumnya dia sudah bilang suruh siap-siap. Yah cuma gitu aja,,,pas aku buka pintu kaget juga, tapi dia maksa banget buat nikah sama aku. Aku iyain aja, aku enggak bisa melihat wajah kecewa Zalfa." Zahra menceritakan kronologi pernikahannya yang super singkat. Jadi mau ngundang pun enggak bisa, karena emang tidak ada persiapan sama sekali.


"Yaudah di maafin, dan maaf juga yah, udah berpikir yang aneh-aneh. Tapi kalian itu kayak suami istri beneran pas lengket banget gitu, emang udah sedekat itu? Kalian udah ayang-ayangan yaah, hayoo ngaku? Buktinya aja sudah kayak perangko," kata Kanaya sembari memperagakan tangannya seperti orang berciuman. Zahra yang di tanya seperti itu, rona merah langsung aja muncul ke permukaan wajahnya.


"Udah, jangan nanya kayak gitu, enggak baik tahu." ujarnya, malu banget dia sama Kanaya. Di lain sisi, Sean pun sama. Tidak habis pikir sama temannya yang satu ini, kalau sudah berkeinginan itu,,,yah harus itu juga.


"Benar-benar gila kamu Bro!" terus ia pun sama, teringat dengan nasibnya yang tak jauh beda, mencintai orang tapi belum memiliki. Dia pun bertekad mendapatkan Kanaya.


Menit berlalu, perbincangan mereka semakin tak terasa sampai memakan waktu setengah jam. Zahra pun dibuat cemas, karena sang suami tak kunjung datang.


"Kemana sih mereka? Kok belum balik ya Kay?" tanya Zahra.


"Iya nih, mereka lama banget ya. Bilangnya aja tadi cuma beli makanan, tapi kok lama banget." Zahra dan Kanaya celingak-celinguk mencari penampakan Leon dan Sean.


"Udah lama ya nunggunya? Emang sengaja sih, biar kalian ada waktu ngobrol." kata Leon.


"Lumayan lama Mas," ujar Zahra.


"Sayang mendingan kita pulang aja yuk, nanti makannya di restaurant aja. Gimana mau yah?" kata Leon lagi.


"Iya mas, Afa pulang yuk sayang. Kapan-kapan main lagi." mendengar panggilan Bundanya, Zalfa berlari kecil mendekat ke arah orang dewasa itu.


"Jangan lari-lari sayang," peringat Leon kepada putrinya.


Zalfa hanya nyengir saja mendapat peringatan Deddynya. "Enggak kenceng-kenceng kok Ded," ujar Zalfa.


Hup...!

__ADS_1


Zahra menangkap tubuh kevin putrinya.


"Kay, Mas Sean kami pulang duluan ya. Ayo Mas, Assalamualaikum." salam Zahra, mereka berlalu di depan anak cucu Adam yang berbeda jenis itu. Sementara Leon dibuat kesel, ia tak terima Zahra memanggil sebutan 'mas' tadi.


'Apa bedanya Sean sama aku kalau gitu...' batinnya bergemuruh tak suka. Istri pun tak peka melihat perubahan mimik muka sang suami. Leon pun tambah kesal di buatnya.


'Punya istri kok enggak peka sama sekali! Cari tahu kek, lihat aja sayang entar malem pembalasanku. Ku pastikan kamu enggak bisa jalan' pikirnya.


'Mas Sean kok diem aja sih, niat banget nyuekin aku. Emang aku salah apa yaa' tanya Zahra di batinnya.


"Unya Afa lapar, mau makan." kata Zalfa membuyarkan pikiran Zahra.


"Iya sayang kita makan, tunggu sebentar ya. Enggak apa-apa kan nunggu." Afa hanya mengangguk saja.


Sean duduk di sebelah Kanaya, Kanaya langsung menggeser tubuhnya. Biar tidak terlalu dekat dengan Sean. Ia memberikan bungkus makanan yang di beli tadi.


"Apa?" tanya Kanaya.


"Makanan, emang apa lagi?" jawab Sean.


"Iya tahu, maksudnya mau buat apa?" tanya Kanaya judes.


"Kamu ini sebenarnya sekolah lulus, apa enggak? Kalau di kasi makanan itu, tandanya suruh di makan, bukan di tanyain." kata Sean tak kalah judesnya. Tetap ya, dia tidak mau kalah sama Kanaya.


"Saya ini lulusan terbaik tau pak, iya tahu saya ini makanan. Kalau tidak ikhlas ngasik, mendingan enggak usah," ujar Kanaya mencebikkan bibirnya.


"Aku ikhlas kok, apalagi buat ngehalalin kamu, malah ikhlas banget," akunya.


"idih, pagi-pagi udah ngegombal anak perawan orang," cibir Kanaya, tetapi di dalam hati berbunga-bunga. Dag dig dug ser,,,gimana gitu.


"Daripada kamu kesel mulu, mendingan kita makan aku beli bubur itu tadi," ucap Sean mengalah. Daripada terus berlanjut, tidak akan ada Ujungnya.

__ADS_1


*****....*****


__ADS_2