Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 98. THSM


__ADS_3

Dunia terasa milik berdua, pasangan halal itu lebih lengket dari perangko. Zeo tak mau jauh-jauh dari Istrinya.


"Mas, Zeo...!" panggil Alina yang membawa baju setelan formal milik sang suami. Ya, sekarang katanya Zeo akan bekerja, tapi yang Alina lihat. Suaminya masih nyaman bergelung di bawah selimut.


Alina meletakkan baju Zeo di tepi ranjang, lalu dia duduk di samping suaminya. "Mas... Ayo bangun! Katanya mau bekerja, nanti telat loh. " Alina membangunkan Zeo, menepuk-nepuk pundak kekar sang suami.


Zeo menggeliat, tapi tak mau bangun.


"Sepuluh menit lagi ya, Sayang! Tapi, sama kamu ya!" Zeo menawar pada sang Istri, agar dia di biarkan tidur lebih lama, dan Alina ikut ke kantornya. Sungguh dirinya masih ngantuk sekali. Apalagi mereka yang teurs begadang tiap hari, sampai tembus dini hari membuat dia tak kuasa menahan rasa kantuk, membuat dia tidur lebih lama. Namun, harapan nya untuk melanjutkan tidur nya, harus pupus karena Alina tidak membiarkan itu. Karena dia mengganggu suaminya.


Zeo sendiri heran dengan istrinya, padahal mereka sama-sama terjaga, tapi Alina tak mengeluh akan rasa kantuk sama sekali. Yang ia tahu, istrinya masih mengerjakan sholat malam. Pagi-pagi sekali Alina sudah memasak sarapan pagi mereka, dan Alina selalu tampil cantik. Seperti yang sekarang, wangi parfum yang sangat manis menguar ke indra penciuman nya. Beda dengan dirinya, yang baru bangun tidur dan badan bau. Tepat sekali dia memperistri Alina, yang pandai dalam segala hal.


"Haish! Udah dari tadi tawar menawar, emang disini buka pasar?" tanya Alina berbisik di samping telinga suaminya. Zeo yang mendengar ucapan sang Istri hanya tersenyum lebar. Istrinya memang tidak dapat di tebak, selalu saja bisa membuat mulut nya tidak bisa berkata-kata lagi.


"Bukan begitu, Sayang! Aku kan ngantuk banget gara-gara begadang sama kamu." Jawab Zeo serak, khas orang bangun tidur.


"Ck! Yaudah besok-besok nggak usah begadang lagi ya!" kata Alina lagi dengan lembut, bibir manis nya pun menerbitkan senyuman, yang membuat dirinya terlihat berkali-kali lebih cantik. Namun, terdengar sangat mengerikan di telinga Zeo. Di dalam hati, Alina sudah menghitung jawaban dari suaminya. 'Satu... Du..." tuh kan, belum selesai Alina dengan hitungan nya, Zeo sudah menjawab.


"Bukannya begitu, Sayang! Aku sangat kuat begadang kok!" sanggah Zeo cepat. Enak saja mereka tidak mau begadang lagi, bisa-bisa frustasi dirinya.


"Kalau begitu bangun, Mas Zeo! Kasian tahu karyawan kamu kehilangan Bos nya. Apalagi, Bos mereka kerjaan nya hanya bermalas-malasan saja di rumah." Tukas wanita cantik itu.


"Ck! Enak saja bermalas-malasan!" decak Zeo tidak terima, karena dirinya di sebut pria malas. Yang nyatanya tidak sama sekali.

__ADS_1


"Kan bener!" sahut Alina sembari tangan cantik nya menggoda Zeo. Bermain-main di dada bidang suaminya. Menulis abstrak di sana, membuat Zeo kegelian.


Mata yang tadinya sangat ngantuk itu, terbuka dengan lebar. Karena kelakuan istrinya. Dia menangkap tangan mungil Alina, lalu mencium nya bertubi-tubi. "Ya, nggak lah. Aku kan bekerja keras untuk membuat kan penerus! Jadi bagian mana yang membuat otak kecil mu berpikiran seperti itu, Sayang?" tanya Zeo dengan tatapanyang begiti dalam.


Gluk!


Alina di buat sesah menelan saliva nya sendiri, karena tatapan mematikan dari suaminya.


Pluk!


Lagi-lagi, Alina di buat malu dengan ucapan tanpa filter suaminya. Sehingga membuat dia mati gaya. "Loh, kok di pukul! Aku minta jawaban nya!" kata Zeo menggoda sang istri yang sudah merona.


Tanpa menjawab ucapan Zeo, Alina sudah ngacir keluar dari kamar mereka. Zeo yang melihat itu, tertawa terbahak-bahak.


*****


"Kamu sakit, hmm? Mendingan tidak usah berangkat ke rumah sakit ya!" lagi dan lagi Kanaya di berondong dengan berbagai pertanyaan dari suaminya. Padahal dia merasa baik-baik saja.


"Nggak, Bi. Aku harus menjawab berapa kali lagi, supaya kamu percaya!" sahut Kanaya. Hari ini, sabarnya terasa sangat tipis, tetapi sang suami tidak memahami itu. Memang kepalanya terasa pusing, tapi Kanaya tidak mau meninggalkan kewajiban nya. Apalagi nanti, dia harus melakukan cek up untuk pasien nya. Dia masih bisa kok menahan nya.


"Bukan begitu, Sayang! Aku hanya khawatir sama kamu. Kalau kamu merasa kurang enak badan, bilang ya!" ujar Sean dengan wajah yang terlihat khawatir. Dirinya tahu, Kanaya menahan rasa sakit nya. Tadi pagi saja, Istrinya muntah-muntah. Namun, Kanaya tidak mau di periksa karena cuma masuk angin biasa. Sean pun, melipat gandakan rasa sabar nya, meski rasa cemas akan kesehatan istri terlalu dominan.


"Iya, makasih ya Abi. Tapi beneran kok, aku tidak sakit parah. Cuma pusing dikit doang, entar juga sembuh." Ucap Kanaya sambil tangannya merapikan kerah baju Sean.

__ADS_1


"Kan ada suami pak dokter, jadi, aku tidak perlu khawatir cuma gara-gara sakit kepala, pasti suamiku akan memeriksa nya. Aku bosan, kalau harus berdiam diri dirumah saja." Tutur Kanaya dengan bibir yang manyun. Karena sedari tadi Sean tak mengizinkan nya.


"Yaudah, nanti kalau ada apa-apa bilang ya! Jangan paksain untuk ngecek pasien nanti, kalau kamu aja kurang fit." Ucap Sean akhirnya pasrah. Karen sang istri yang keras kepala.


"Hmm,,, makasih Abi. Sayang deh, jadinya!"


Cup!


Kanaya memberikan kecupan, di pipi kanan Sean. "Pandai sekali mengambil hati," lalu dia pun menggandeng tangan istrinya turun ke bawah.


*****


Kaira mengantar Leinard, sampai teras rumah.


"Deddy, jangan lupa ya! Urusan nya harus benar-benar kelar. Aku nggak mau, kalau kamu berurusan dengan dunia bawah tanah." Kaira memperingati Leinard kembali. Ya, sang suami sudah bercerita tentang nya pada sang istri. Bagaimana kehidupan nya sebelum bertemu Kaira, dan menjadi ketua mafia yang paling ditakuti di dunia bawah tanah. Tanpa terkecuali, kini tak ada lagi hal yang dia tutup-tutupi dari Kaira. Cukup satu kali dia membuat sang Istri kecewa, dia tak mau lagi.


"Iya, Mommy cantik. Aku akan mengakhiri semuanya," sahut Leinard dengan senyum lebar nya. Kaira pun memeluk tubuh sang suami dengan erat. "Kamu pasti bisa, Sayang!" kata Kaira menyalurkan kekuatan untuk suaminya dari pelukan mereka.


"Kami menunggumu," ujar nya lagi, sebelum mengecup punggung tangan suaminya yang akan pergi bekerja, Leinard pun mencium kening Kaira tak kalah hangat nya. Juno pun, membuka kan pintu untuk Tuannya.


"Ya, kamu hati-hati di rumah ya! Jangan keluar tanpa pengawalan." Leinard berucap lagi, sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam mobil.


" Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam...


__ADS_2