
Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh, Leinard dan Kaira pamit. Agar sampai rumah tidak terlalu malam. Leinard pun kasihan kepada Kaira, pastinya istri kecilnya ini capek.
"Kay,,,kami pulang dulu yaa! " ujar Kaira pamit kepada Kanaya. Begitupun dengan teman-temannya, mereka pulang. Sebelum keluar kamar pengantin, para sahabat itu menyempatkan diri cupaka-cupiki dengan Kanaya. Lalu mereka turun kebawah, mengekor du belakang Kaira.
Leinard dan Leon sudah menanti kadatangan istri mereka. Zalfa pun sudah lelap dalam gendongan Deddy Leon. Tinggal pawang mereka yang tidak menampakkan batang hidungnya. Gimana mau melihat batang hidung istrinya! Orang memakai penutup wajah(cadar).
"Assalamualaikum Mas" salam Kaira kepada Suaminya saat ia sudah berada di samping Leinard.
"Sudah selesai pamitnya..?" tanya Leinard.
"Iya sudah selesai kok, kalau Mas Leinard sudah apa belom?" tanya Kaira lagi.
"Sudah kok, kami tadi barengan yang pamit." jawab Leinard.
"Yaudah kalau gitu! Kita langsung pulang saja." ajak Kaira kepada suaminya.
"Tapi gimana dengan Raina dan Alina? Kasian kan kalau mereka pulang sendiri. Ini sudah malam." tutur Zahra saat kedua sahabatnya itu akan beranjak pulang.
"Tidak apa-apa! Ini masih jam 09.48 wib!" kata Alina.
"Meskipun begitu, kalian ini perempuan loh! Takut kenapa-napa di jalan." seru Kaira. Kaira pun melihat ke arah sang Suami. Berharap Leinard akan memberikan solusi untuk kedua temannya.
Leinard yang mengerti dengan tatapan sang istri, akhirnya bersuara juga.
"Kalian dengar itu!" ucap Leinard melihat kearah dua laki-laki yang sedari tadi hanya diam saja, menyaksikan mereka.
Kedua pria itu mengernyitkan dahinya, menampakkan wajah keberatan dengan perkataan Tuannya. Padahal mah dalam hati! Bersorak gembira, Zeo dan Juno memberikan kode dengan gerakan matanya. Hanya mereka yang paham dengan kode itu.
"Baiklah...karena kalian memaksa! Aku akan mengantar gadis yang pelit ini." tunjuk Juno ke arah Raina. Raina yang merasa dirinya di jelek-jelekin, tak terima. Dia melototian matanya ke arah Juno.
"Awas tuh mata jatuh!" kata Juno tanpa dosa kepada Raina.
"Apa kamu bilang? Coba ulang!" pinta Raina geram kepada lelaki tak tahu terimakasih itu.
"Ayo cepetan! Kalau mau di anterin..." ajak Juno kepada Raina, Bukannya mengulang perkataan yang diinginkan Raina.
__ADS_1
"Kalau tidak ikhlas! Enggak usah di anterin." kata Raina ketus. Ia pun langsung berjalan, mendahului Juno. Para sahabat menggeleng-gelengkan kepala melihat Juno dan Raina, yang mana membuat hiburan tersendiri bagi mereka.
"Zeo, Kamu nganter Alina ya! Jangan sampai ada yang cacat sedikitpun. Awas! Aja yah, klau sampai temanku kenapa-napa." ancam Kaira kepada Zeo.
"Tenang aja, aku tidak akan melukai teman mu kok! Malah sebaliknya. Dia kan calon masa depan." ujar Zeo tersenyum cerah ke arah Alina.
Alina yang melihat itu, bukannya senang. Tapi malah bergidik ngeri. Yah, walaupun tidak bisa di pungkiri dia memiliki pahatan wajah yang sangat tampan. Tapi aura dingin yang memancar dalam diri Zeo lah, membuat Alina harus berfikir 1000×.
"Kenapa wajah kamu terkejut kayak begitu?" tanya Zeo kepada Alina.
"Tidak apa-apa." balas Alina, sebisa mungkin ia menahan gugup yang mendera.
"Yaudah ayo aku anterin pulang!" tutur Zeo. Alina hanya mengangguk kan kepalanya setuju. Dia tidak berani berkomentar apapun. Zeo berjalan ke luar hotel, Alina pun turut serta ikut.
'Kok orang ini serem banget ya! Dia memiliki badan yang tegap, seperti para pembunuh bayaran saja!" batin Alina.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak Nona, aku bukan seperti yang ada di dalam pikiranmu." kata Zeo. Dia mudah saja menebak pikiran perempuan di belakangnya. Yah, dia sempat menoleh tadi. Melihat ke arah Alina yang tampak tegang dan berfikir keras. Zeo pun kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil. Tiba-tiba saja Zeo menghentikan langkahnya lagi, sehingga membuat Alina yang tidak fokus ke depan bertabrakan dengan tubuh kekar Zeo.
"Astagfirullahal adzim,,,Mas kalau mau berhenti bilang-bilang dong." kata Alina kesal. Dahinya sakit sekali.
"Makanya jangan berfikiran yang jelek tentang suami masa depan kamu!" ujar Zeo percaya diri. Bukannya menjawab gerutuan Alina.
"Omongan itu do'a tahu, jadi berbicara yang baik-baik saja! Allah swt juga tahu kok. Kejadian yang tadi tidak di sengaja." kata Zeo.
"Yah tetap saja! Ngomong-ngomong itu punggung apa dinding beton?" tanya Alina karena dahinya yang tidak berhenti sakit.
"Enak aja bilang dinding, tubuh sempurna kayak gini di samain dengan dinding." ucap Zeo kesal.
"Terserah..!" Alina langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang. Zeo tersenyum melihat Alina yang marah seperti itu. Dia pun tidak mempermasalahkan Alina yang memilih duduk di jok belakang. Diapun segera masuk ke dalam mobil. Lalu menghidupkan mobil dan pergi meninggalkan hotel bintang lima itu.
*
*
*
__ADS_1
Wajah cantik Raina di tekuk, dia kesal sama orang didepannya. Dia segera masuk ke dalam mobil milik Juno, lalu tangannya akan membuka pintu mobil bagian belakang.
"Hai,,,ngapain kamu membuka pintu belakang?" tanya Juno kepada Raina.
"Emangnya kenapa?" tanya Raina balik.
"Dimana-mana kalau ada pertanyaan pasti di jawab! Bukan pertanyaan di balas pertanyaan. Ke kursi depan." titah Juno tidak terbantahkan. Dia menahan kesal karena Raina tidak menuruti perintahnya.
"Emangnya salah kalau duduk di belakang?"
"Salah, salah besar! Saya ini bukan supir kamu. Jadi pindah duduk kedepan atau berdebat disini sampai nanti." ancam Juno.
Raina jengkel, dia mencebikkan bibir mungilnya. Mau tidak mau, dia harus pindah ke depan. Dia sudah capek berdebat dengan Juno, Raina pun langsung membuka pintu mobil dengan kasar dan menutup nya kencang.
'Kucing kecil ini kalau lagi marah imut juga yah' batin Juno. Dia pun segera masuk dan mengemudikan mobilnya. Meninggalkan arena hotel mewah itu. Raina tidak berbicara sama sekali, dia kesal dengan Juno.
'emang yah, kalau sudah pada dasarnya tukang paksa. Tetap aja seperti itu, tidak berubah sama sekali.' batin Raina rasanya pengen sekali mengutarakan isi pikirannya. jika saja tadi bisa menolak untuk di anterin, dia lebih memilih pulang sendiri saja.
"kamu sariawan yah?" tanya Juno. dan pertanyaan itu sukses membuat Raina bingung. dia menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan yang konyol.
"Kamu kok ngelantur,,,Mana ada aku sariawan." ujar Raina sinis.
"habisnya kamu dari tadi diem aja!"
"capek yang mau ngomong sama orang pemaksa kayak kamu!"
"ohh,,,kalau gitu kamu harus jadi istri aku. tidak ada penolakan." kata Juno tegas.
"WHAT!" kata Raina terkejut.
*
*
*
__ADS_1
*
*****.....*****