Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 9. Masih kedatangan Tamu


__ADS_3

Kaira tak enak hati, Mereka melihat dirinya duduk bersebelahan dengan laki-laki yang bukan mahromnya. Kaira tersenyum canggung berjalan ke arah pintu.


"Silahkan masuk," ujarnya. Mereka beranjak menuju sofa yang diduduki Leinard. Mengbil tempat masing-masing. Sedangkan double K masih berdiri. Mommy Ranty duduk di sebelah Leinard. Ia langsung menjewer telinga anaknya itu. Mereka yang melihat bos nya di jewer, hanya mampu mengulum senyuman saja. Karena tak mungkin ia ketawa, bisa mampus jika itu benar-benar mereka lakukan.


"Adu-duh...sakit Mi." Leinard mengaduh kesakitan karena ulah Mommy nya yang tak ia sangka-sangka.


"Biarin! Anak bandel emang harus di jewer. Biar kuping kamu bisa kembali normal." omel Mommy Ranty. Kalila yang melihat itu, hanya terkikik geli. Uncle nya terlihat lucu.


"Iya-iya! Leinard akan pulang. Lepasin dulu tangan Mommy!. Malu-maluin anak aja, tuh kan! diliatin sama mereka. Mommy sih," jawab Leinard mengelus-ngelus kuping nya yang merah. Perih terasa, tapi tak mungkin sekali ia memaki Mom Ratu nya itu. Ia sangat menyayangi dan menghormati sang Mommy.


"Kai, kamu kok bisa bareng sama pak bos? Terus mau ngelamar lagi! Gitu yaa, sama sahabat sendiri. Mulai rahasia-rahasiaan. Entar aku bilangin nih sama Raina, Zahra dan Karin aja, biar mereka yang tanya sama Umma dan Abba." kata Kanaya berbisik di sebelah kuping kanan Kaira. Karena persahabatan mereka kayak saudara, tidak ada rahasia diantara lima sekawan itu. Mereka pun manggil kedua orang tua Kaira dengan sebutan Umma dan Abba.


"Aku juga nggak tahu sama sekali, Dia kesini itu datang berobat. Dia pasien dadakan Aku yang di jalan. Yang Aku ceritain itu lo. Orang membuat Aku kesel banget, Nah tu Orangnya." ujar Kaira. Menunjuk dengan dagu nya yang tertutup cadar.


"Oooh gitu! Kalau begitu aku ke luar dulu yaa." kat Kanaya, Dia pamit undur diri dari ruangannya Kaira. Kanaya meninggalkan ruangan itu, ia memainkan benda canggih nan pipih yang ada di gengngamannya. Tanpa melihat ia terus saja berjalan. Dan tiba-tiba,


Duk...awww


Kaira menambrak tubuh seseorang di depannya. Ia meringis kesakitan, bokong nya mencium lantai rumah sakit yang keras. Sampai membuat nyilu. Handphone di genggamannya terlempar bersamaan dengan dirinya yang jatuh.


"Makanya! Kalau jalan itu lihat pakai mata! Bukan pakai kaki!" sarkas seseorang yang menjulang tinggi di depannya. Bukannya ngebantuin Kanaya, tapi malah memaki.


"Iya tahu saya yang salah, berjalan sembari memainkan handphone. Tapi setidaknya bantuin kek, tapi taunya malah di maki. Dasar tidak punya hati!" kata Kanaya kesal.


"Apa kata kamu?"

__ADS_1


Deg!


Suara yang begitu familiar, seseorang yang selalu saja memarahi dirinya. Baik itu hanya kesalahan kecil sekalipun. Kanaya mendongak kan kepala nya, melihat orang yang bertanya.


'Ya Allah, mati aku. Berbicara sebelum melihat siapa orangnya' batin Kanaya. Ternyata banteng bertanduk di depannya. Kanaya berdiri, membenarkan hijabnya yang miring.


"Ma-maaf Pak..!" cicit Kanaya menundukkan kepalanya. Sean menyeringai mendapati perawat cantik ini takut.


"Baiklah! Kamu harus membersihkan ruang kerja saya. Maka saya memaafkan kesalahan kamu, yang telah menabrak saya. Gimana?" pinta Sean kepada Kanaya.


"Kan ada pak petugas bersih-bersih. Kenapa harus saya?." tanya nya.


"Kamu mau di maaf kan, apa tidak? Kalau tidak mau, tidak akan saya maafkan!" Sean memaksa Kanaya. Di mana lagi ia akan mendapatkan momen seperti ini. Jadi, Sean tak akan melewatkan hal ini.


"Baik pak." ujar Kanaya. Ia tak memiliki pilihan lain, selain menerima perintah atasannya. Sean berlalu dari hadapan Kanaya. Ia melanjutkan langkah kaki jenjang nya ke dalam ruangan Kaira. Karena ia tahu di sana ada ibu dari Leinard.


"Tuh kan! Mom jadi lupa mau apa kemari? Gara-gara kamu ini boy. Mom melupakan keponakan cantik ini jadinya." sembari melihat ke arah Kalila yang masih tertawa sampai-sampai matanya berair.


"Begini dokter, putri saya ini mengidap penyakit usus buntu. Saya ingin Kalila secepatnya mendapatkan penangan yang baik. Agar nantinya tidak berakibat fatal untuk anak saya." kata Vania menjelaskan maksud kedatangan menemui Kaira.


Tangan Kaira mengelus pucuk kepala putri kecil itu. Dia iba melihat gadis kecil ini, begitu kuat dan sabar gadis ini. Dalam keadaan sakit pun ia mampu tertawa lebar tanpa ada beban apapun.


"Saya akan melakukan rontgen, agar bisa mengambil tindakan. Saya juga harus konsultasi sama dokter spesialis bedah." ujar Kaira.


"Saya tunggu kabarnya yaa dok, " kata Vania kepada Kaira.

__ADS_1


"Iya mbak! Saya akan sesegera mungkin memberikan kabar, Dan melakukan penanganan secepat mungkin untuk Kalila." katanya lagi.


"Boy, kamu jujur aja sama Mommy! Sebenarnya kamu kesini lagi ngapain? Kamu tidak kenapa-napa kan? Mommy tidak mau tahu! Kamu harus pulang kerumah utama! Tidak ada bantahan apapun." kalau sudah begini, tidak mungkin Leinard menolak.


"Mom...sejak kapan Leinard bisa berbohong, kalau Mommy tidak percaya tanya aja sama Dia." Leinard mengalihkan pandangannya ke arah Kaira. Kaira yang namanya di sebut jadi kikuk sendiri. Pasalnya memang perkataan Leinard tadi itu benar, tapi Dia juga kesini kan berobat.


"Sayangnya ya Mom, Dia ngegantung Leinard. Dia tidak memberikan jawaban yang pasti!" Leinard berbisik kepada Mommy nya.


Ranty yang mendengar itu lantas menertawai anaknya.


Hufft..hufft....


Ternyata ada juga orang yang bisa nge ghosting anaknya. Padahal anaknya begitu ideal, baik dari fisik maupun finansial.


"Dia nolak kamu? Kamu sih pakek acara Lamaranny di rumah sakit. Ditolak kan, coba aja lebih romantis. Pasti di terima, dasar nggak modal." Mom Ranty pun ikut berbisik ke putranya. Ia begitu penasaran kenapa anaknya ini bisa di tolak seorang wanita. Padahal dalam kamus anaknya, makhluk yang namanya wanita tak akan mampu menolak pesona anak semata wayang nya itu.


"Nggak usah di ceritain di sini juga, dong Mi!" ujar Leinard tetap berbisik. Dia tak mau sampai orang yang di ceritain ke Mommy nya mendengar.


"Yaudah, ayo kita pulang." kata Mommy Ranty.


"Dok, makasi yah. Kalau ada info, telephone ke nomer yang ada di kartu nama ini saja. Kami pamit dulu yaa, apa yang dikatakan anak kami tolong dipikirkan lagi ya dok!" Ucap Ranty. Kaira mengambil kartu na yang di sodorkan Mommy Ranty kepadanya.


"Makasi ya bu, telah mempercayakan perawatan keponakan Anda kepada saya." kata Kaira. Menampilkan senyuman yang tak terlihat itu. Tapi Mom Ranty bisa melihat pergerakan raut wajah dokter di depannya ini. Ia pun tersenyum dengan ramah juga.


'Calon menantu ku' batin nya kegirangan. Mom Ranty pun ikut mengklaim Kaira menantunya.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2