Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 96. THSM


__ADS_3

 Setelah kepergian Leinard ke kantor, Kaira pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Dia kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat sunah Dhuha.


Selesai sholat, Kaira melihat keberadaan sang putra yang masih tertidur begitu nyenyak. Dia pun mengambil kitab suci Al-quran untuk ia baca sambil menanti putranya bangun. Suara merdu Kaira pun mengisi seluruh ruangan, begitu indah dan menyejukkan.


Drrttt...


Dering ponsel mengalihkan Kaira yang tengah fokus membaca alquran, ia pun menutup kitab suci al-quran yang ia baca dengan diakhiri bacaan tashdiq. Lalu, Kaira menaruh ke tempat nya kembali, barulah dia mengambil handphone milik Leinard di atas nakas.


"Loh, ponsel Mas Leinard ternyata ketinggalan. Banyak sekali panggilan tak terjawab." Gumam Kaira setelah mengecek laman panggilan.


Drrttt...


Ponsel itu kembali berdering, karena takut ada hal yang sangat penting, Kaira pun menerima panggilan masuk itu.


"Halo, Tuan Leinard. Maaf saya menggangu Anda, tapi ini harus saya sampaikan kabar ini kepada anda. Tuan Gelelo, tidak menerima pembatalan pengiriman wanita-wanita malam itu, dia merasa rugi dan tersinggung karena Anda yang tiba-tiba menghentikan nya." Salah satu anak buah kepercayaan Leinard memberi tahu keadaan sebenarnya yang terjadi. Karena memang jika dia menelfon Leinard tidak mau basa basi, karena itu dia mengatakan nya dengan jelas dan singkat.


"A-apa kata anda? Pengiriman wanita malam?" tanya Kaira lagi untuk memperjelas pendengaran nya. Dia takut salah mendengar.


Deg...!


"Anda Nyonya Muda?" tanya orang kepercayaan Leinard di markas nya. Dia sudah salah, dengan memberi tahu ini.


"Iya benar, itu saya. Bisa anda ulangi apa yang anda katakan tadi!" pinta Kaira, dia berusaha menahan air matanya setelah mengetahui kenyataan lain dari kehidupan Leinard.


"Mohon maaf, Nyonya! Seperti nya panggilan ini harus saya tutup, karena ada pekerjaan mendesak." Ujar orang di seberang sana berkilah. Mana mungkin dia berani mengatakan itu lagi, dia tidak amu mendapatkan masalah besar. Walaupun pada kenyataan nya dia akan mendapat kan masalah.


Kaira berbalik, dan melihat sang suami yang berdiri di ambang pintu kamar mereka.

__ADS_1


Tes!


Tes!


Luruh lah air mata Kaira, menatap penuh kekecewaan kepada Leinard. Sedangkan suami yang melihat istrinya berlinang air mata sangat heran, perasaan sebelum dia berangkat ke kantor Kaira baik-baik saja nan ceria. Tapi sekarang Kaira menangis, dan dia tidak tahu penyebab nya apa?.


"Sayang kamu kenapa? Kok menangis? Ada apa, hmm? Siapa yang sudah membuatkamu seperti ini?" tanya Leinard memegang kedua pundak kecil Kaira yahh bergetar karena isak tangis nya.


"Sayang, jawab Mas!" pinta Leinard kepada istrinya yang bungkam saja.


Setelah isak tangis Kaira reda, barulah dia berbicara dengan suaminya. "Mas Leinard pengen tahu, yang membuat Kaira seperti ini, laki-laki yang ada. di depan Kaira." Jawab Kaira, lalu menghempas kedua tangan Leinard yang memegang kedua bahunya.


Leinard di buat heran dengan jawaban Kaira. "Aku sangat kecewa sama Mas Leinard," ucap Kaira lagi, lalu benar-benar pergi dari hadapan sang Suami setelah memberikan ponsel Leinard.


Sungguh, dia tak kuasa untuk menahan air matanya, setelah mengetahui itu. Dia butuh ruang sendiri, untuk menenangkan diri dan hatinya yang sakit, karena suaminya tidak percaya dan jujur kepadanya.


Langkah kecil Kaira, kalah dengan langkah lebar Leinard. Dia berhasil menghentikan Kaira, dan memeluk nya erat. Tetapi, Kaira menolak dengan keras, terbukti dengan istrinya memberontak di dalam pelukan nya.


"Sayang, Maksud kamu apa?" tanya Leinard yang masih memeluk Kaira dengan erat.


"Maksud aku apa? Apa setidak berarti itu aku di dalam kehidupan Mas Leinard?" tanya Kaira lagi, kedu pasang mata mereka bersitatap. Leinard bisa melihat kekecewaan yang ada di dalam mata istrinya.


"Hei, sayang! Maksud kamu apa? Kenapa kamu berbicara ngelantur seperti ini?" Leinard bertanya lagi. Karena memang dirinya yang tidak tahu maksud dari pertanyaan-pertanyaan Kaira dari tadi.


"Kenapa Mas Leinard tidak jujur sama aku, tentang kehidupan masalalu Mas Leinard. Atau jangan-jangan, sebenarnya bukan masa lalu, karena Mas sering melakukan nya sampai sekarang? Jawab aku Mas! Apa maksud wanita malam yang di perjual belikan?" tanya Kaira pada akhirnya dengan nada yang sudah sedikit tinggi.


Jika saja Leinard jujur kepadanya, dan membuat hidup mereka tidak seperti sekarang ini. Dai tidak apa-apa sama sekali. Dia kuat dengan kehidupan sangat sederhana sekalipun, tapi tidak dengan urusan hati. Sungguh dia akan sangat rapuh dengan itu.

__ADS_1


Deg!


Leinard terkejut denga ucapan terakhir istrinya. Dimana wanitanya itu tahu, padahal dia sangat berhati-hati dan menutup rapat tentang kehidupan dunia bawah tanah yang dia jalani. Sekarang pun, dia sudah jarang sekali melakukan transaksi gelap seperti itu.


"Sayang, kamu jangan salah paham dulu. Aku bisa jelasin semuanya, itu tidak seperti yang kamu bayangkan." Kata Leinard penuh dengan nada permohonan, agar Kaira mau mendengar kan penjelasan nya.


"Apa Mas? Setelah aku tanya dari orang lain, baru kamu mau berkata jujur, Mas! Jika saja aku tidak mendengar langsung seperti ini, kamu tidak akan jujur begitu?" karena terbawa emosi, Kaira meninggikan suaranya di depan sang suami.


"Sayang, maafkan aku!" pinta Leinard menggenggam erat tangan Kaira, namun sang istri melepaskan tautan tangan mereka dan pergi dari hadapan Leinard.


"**** ... Siapa yang memberi tahu istriku!" gumam Leinard penuh dengan amarah.


Oek... Oek... Oek...


Karena suara keras Leinard, Baby Athaf pun terjaga dan langsung menangis begitu kencang.


"Astaghfirullah..." Leinard beristighfar untuk meredam amarah nya. Dia pun langsung menggendong putranya yang menangis.


"Cup! Cup! sayang, maafkan Deddy ya. Jangan nangis lagi, Deddy sungguh minta maaf." Tutur Leinard begitu lembut. Meskipun hatinya masih marah, dia berusaha meredam itu semua.


Leinard berusaha membuat Baby Athaf berhenti menangis, Namun sang putra tak mau berhenti. Leinard pun membawa anaknya keluar, mencari keberadaan istrinya. Tetapi, Leinard tidak menemukan Kaira, untung saja tangis Putranya tidak sekencang tadi.


"Bi Darmi, kamu lihat nyonya Kaira tidak?" Leinard bertanya saat berpapasan dengan asisten rumah tangganya.


"Iya Tuan, tadi saya lihat nyonya masuk ke dalam kamar tamu yang ada di lantai satu." Sahut Bi Darmi sopan.


"Baiklah terimakasih, Bik!" lalu Leinard pergi dari hadapan Bi Darmi. Dia menapaki anak tangga satu persatu dengan putranya.

__ADS_1


"Son, kamu harus membantu Deddy untuk membujuk Mommy, agar tidak marah lagi sama Deddy. Deddy tahu salah, makanya minta maafkan." Leinard mengajak putranya berbicara meskipun dia tahu Athaf tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.


*****....*****


__ADS_2