Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 44. Mengantarkan makan siang


__ADS_3

Tapi Leinard tak beranjak di tempatnya sedikitpun, dia lebih memilih memandangi wajah ayu Kaira dari pantulan cermin.


Kaira yang ditatap seintens itu, menjadi salah tingkah.


"Ehmm...Ehmm...!" Kaira pura-pura terbatuk-batuk.


Leinard yang melihat itu, terkekeh geli. Padahal bukan hanya ini dia memandangi istrinya sedalam itu.


"Mas Leinard kok tidak pergi ke kamar mandi? Nanti tambah malam loh." peringat Kaira kepada sang suami.


""Tidak apa-apa malam sayang! Kalau kedinginan kan ada kamu yang menghangati aku!" ujar Leinard.


Kaira menatap horor kepada Suaminya. "Bisa-bisanya kamu mengarah ke sana terus sih mas!" Kaira geleng-geleng kepala atas kelakuan suaminya ini.


"Tapi kamu suka kan? Aku itu mesumnya cuma sama kamu kok sayang! Emang salah mesum sama istri sendiri. Yang salah itu, saat aku mesum sama istri orang." Kata Leinard jujur.


"Hoo,,,sadar ya! Kalau mesumnya kebangetan. Awas aja ya! Kalau sampai macam-macam. Aku akan cincang belut kamu." ancam Kaira.


"Aku enggak macam-macam sayang. Cuma satu macam aja! Yaitu kamu." Leinard pun belajar lebih mendekat kearah Kaira. Lalu mendekap tubuh kecil itu dari belakang. Kaira melebarkan senyumannya. Pipinya merah merona, karena kata-kata suaminya.


"Gombal..." cibir Kaira sembari tatapan mereka terpaut lewat pantulan cermin di depannya.


"Itu beneran loh sayang! Aku orang yang tidak pandai dalam menggombal, apalagi bermain kata-kata yang membuat kamu meleleh. Aku itu serius! Tulus dari hati aku yang paling dalam. Hanya nama kamu yang tertanam disana." tutur Leinard.


"Yaudah yuk kita bersih-bersih, tidak usah mandi. Karena sudah larut banget," kata Kaira.


"Okey tuan putri, ayo buruan! Biar cepat istirahat." ajak Leinard ke kamar mandi. Seperti yang di katakan, mereka hanya sakit gigi, dan memakai sabun wajah saja. Lalu berwudhu, setelah itu keluar dari kamar mandi. Menuju walk in colset untuk berganti pakaian tidur. Selesai berganti baju, lalu Kaira mengambil sapu lidi sebesar genggaman tangan yang berada di pojok ruangan itu. Dia mengibas-ngibaskan tempat tidur, sementara Leinard duduk di sofa menunggu Kaira yang selesai membersihkan tempat tidur.


Dia pun kembali meletakkan sapu lidi di tempat semula, lalu menghampiri Leinard.


"Ayo segera tidur..." pinta Kaira sembari mengulurkan tangannya kepada Leinard. Saat ia berdiri menjulang di depan sang suami.

__ADS_1


Malam berlalu, sekarang matahari sudah menampakkan diri. Sudah sedari tadi Kaira berkutat di dapur untuk membuat sarapan pagi ini, sedangkan suami memilih olahraga pagi. Dia lari pagi di sekitar mansion yang memiliki halaman sangat luas. Usai berolahraga, dia pun masuk ke dalam rumah. Leinard melihat istrinya yang fokus dengan kegiatannya.


"Sayang kamu semakin cantik kalau seperti itu!" gumam Leinard pada dirinya sendiri.


"Samperin atuh Den.." ujar bibi, yang melihat tuannya memandangi istrinya. Leinard tidak terkejut dengan kedatangan bibi di belakangnya. Karena dia sudah tahu.


"Tidak bik, aku langsung ke kamar aja. Mau siap-siap juga pergi ke kantor." kata Leinard. Dia pergi meninggalkan bibi yang masih berdiri di tempatnya.


Saat Leinard masuk ke dalam kamar, dia sudah melihat handuk yang disiapkan oleh Kaira. Lengkap dengan baju kerjanya. Serta tarunan kamar yangs selalu rapi.


"Wanita yang suka kebersihan.." gumam Leinard mengedarkan pandangannya melihat kamar yang bersih dan rapi.


Dia segera berjalan ke kamar mandi, setelah mencomot handuk yang telah disiapkan Kaira. Hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, Leinard selesai membersihkan diri. Kaira yang selesai menata sarapan pagi di meja makan, dia pun bergegas pergi ke kamar mereka. Untuk melihat suaminya.


Dia masuk bertepatan dengan Leinard yang mengancingkan kemejanya, Kaira langsung menghampiri Leinard. Lalu mengambil alih pekerjaan yang dilakukan sang suami. Dia menyelesaikan tiga kancing teratas kemeja yang belum diselesaikan itu.


"Mana dasinya..." punya Kaira mengadahkan tangan meminta dasi. Leinard memberikan dasi kepada Kaira. Dia lantas memasang dasi di kerah kemeja Leinard dengan baik.


"Makasi sayang!" kata Leinard tulus. Dia menggandeng tangan istrinya dan turun bersama-sama ke meja makan. Di tangan kirinya memegang tas kerja.


Sampai di meja makan, Leinard melepaskan tautan tangan mereka. Lalu menarik kursi, menyuruh Kaira duduk di situ.


Kaira tersenyum manis, menanggapi perhatian Leinard kepadanya. "Thank you, ya mas." kata Kaira.


"You are welcome Darling." kata Leinard sembari mengerlingkan sebelah matanya.


"Ihh,,,mas Leinard genit." kata Kaira terkekeh. Lalu dia mengambil piring kosong dan mengisi dengan makanan yang akan di santap suaminya. Mereka makan tanpa bersuara, hanya ada suara dentingan sendok yang bertemu dengan piring. Selasai sarapan Leinard pun langsung berangkat. Kaira membersihkan meja makan, namun Leinard tidak menghendaki apa yang akan di lakukan Istrinya.


"Baby! Biar bibi aja. Mendingan kamu anter aku." ucap Leinard. Dia mengenggam kembali tangan Kaira, lalu mereka berjalan ke arah pintu utama.


"Mas nanti aku mau bawain makan siang boleh enggak?" tanya Kaira.

__ADS_1


"Kamu kok malah bertanya sih sayang, boleh dong. Malahan aku senang banget, kalau kamu datang kesana." kata Leinard semangat.


"Udah dari kantor nanti, aku langsung ke rumah sakit ya Mas. Aku dapet shift siang" seru Kaira.


"Iya, kamu hati-hati ya sayang kalau nanti ke kantor." kata Leinard.


"Siaap...Bapak Negara!" ujar Kaira sembari memberikan hormat kepada sang suami. Seperti bawahan yang memberikan hormat kepada Komandannya.


"Yaudah aku berangkat dulu ya sayang." kata Leinard. Kaira mencium punggung tangan suaminya penuh hormat, Sang suami pun tidak kalah pamor. Dia mendarat kan sebuah ciuman perpisahan di kening sang Istri.


"Assalamualaikum Bidadari ku!" salam Leinard, sebelum ia benar-benar masuk ke dalam mobil. Dia sempat mencuri ciuman di pipi Kaira yang tertutup cadar.


"Waalaikumsalam..." jawab Kaira.


Jam makan siang tiba, Kaira sedari tadi sibuk memasak. Dia memilih menu yang sangat sederhana, untuk makan siang. Tapi ada kendala, saat dirinya mencium bau bawang. Dia mual, mencium bau menyengat dari bawang itu. Perutnya sakit, seperti dililit.


Hoeek...Hoeek...


Kaira segera pergi ke kamar mandi dekat dapur. Dia memuntahkan cairan bening.


"Nyonya! Kamu tidak apa-apa?" tanya Bibi. Dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Tidak apa-apa bik, palingan ini masuk angin. Jangan bilang sama Tuan ya bik, nanti Kai tidak di bolehin kerja." pinta Kaira setelah dia keluar kamar mandi.


"Iya Nyonya! Bibi tidak akan bilang." kata bibik pasrah.


"Bik bisa minta tolong enggak?"


"Boleh atuh Nyonya! Minta bantuin apa emangnya?" tanya Bibik.


"Naruh makanan ke kotak makan bik. Aku mau siap-siap dulu." bibi segera melakukan tugasnya, dia menaruh makan siang itu di kotak makan berwarna hitam. Lengkap dengan air mineral.

__ADS_1


__ADS_2