Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 46. Kamu Tega Mas!


__ADS_3

"Sayang kamu mau kemana?" tanya Laura saat melihat Leinard yang akan keluar dari ruangannya. Yang sepertinya ingin mengejar wanita berhijab itu. Ya ialah Laura! Kaira kan istrinya. Kamu aja yang kurang update!.


Mendengar panggilan itu, emosi Leinard tambah menggebu-gebu. "Tutup mulutmu sialan! Kamu tidak pantas memanggil ku seperti itu." ujar Leinard.


Lalu Leinard beralih menatap kepada Juno dengan tatapan tajam.


"Urus wanita gadungan ini!" perintah Leinard. Lantas ia benar-benar meninggalkan ruangannya. Dia berlari terburu-buru, menuju lift.


"Hei...wanita tidak tahu malu! Kamu masih berani ya menampakkan wajah mu di hadapan tuan. Setelah kamu bermain di belakangnya." kata Juno tidak kalah sarkas dan tegas dari Tuannya. Ia memang sebelas-duabelas sama Tuannya.


Laura tidak menjawab apapun perkataan Juno, ia malah menatap nyalang dan penuh keberanian kepada Juno.


Juno tak putus arang, ia tetap mengungkapkan apa yang ia ingin bicarakan kepada wanita seksi ini. "Kamu yang sudah memulai, dan kamu sekarang tidak tahu dirinya kembali. Benar-benar wanita murahan, jauhi Tuan saya Nona. Atau kamu mau melihat saya dalam versi iblis, maka lakukan niatmu!." kata Juno tidak kalah pedasnya dengan perkataan pertama.


Laura mengepalkan kedua tangannya, untuk menyalurkan emosi yang sudah memuncak di ubun-ubun. 'Lihat saja apa yang bisa aku lakukan! Jangan panggil namaku Laura Sebastian jika tidak bisa mengambil Leinard kembali.' kata Laura membatin. Ia pun melangkah keluar dengan emosi yang meledak-ledak.


"Aku harus menambah bodyguard untuk menjaga nyonya muda, jangan sampai wanita ular itu nekat." gumam Juno pada dirinya sendiri. Ia pun kali ke ruangannya dan mengerjakan tugas-tugasnya yang tidak pernah selesai.


.


.


.


Di dalam Lift, ia berusaha menetralkan emosinya. Kaira tidak ingin orang lain tahu, tentang apa yang ia rasakan saat ini. Yang di fikirkan olehnya 'apakah Mas Leinard selingkuh? Apakah dia bosan hidup denganku?' kata batin Kaira. Fikiran-fikiran negatif, seolah-olah berlalu-lalang dalam otaknya.


Ting....!


Pintu lift terbuka, Kaira mengusap air matanya.


Fyuh...

__ADS_1


Kaira menghembuskan nafas nya. Lalu ia melahkah keluar dari Lift. Leinard berlari mengejar Kaira, tapi kalah cepat. Sang istri sudah ada di Loby sedangkan dirinya baru memasuki Lift khusus petinggi itu.


Pak Lukman yang melihat Kaira turun lagi, merasa aneh. 'Secepat itu bertemu suaminya?' batin Pak Lukman.


"Sialan...!" desis Leinard menggeram penuh sesal dengan kejadian tadi. Ia meraup wajah nya kasar, hatinya terasa tercabik-cabik. Saat melihat Kaira menangis karenanya.


"Ku pastikan kamu membayar air mata istriku, wanita murahan...!" geram Leinard. Saat pintu lift terbuka, Leinard langsung melangkahkan kaki jenjangnya dengan langkah lebar. Menuju mobilnya. Ia memasuki Mobil mewah miliknya, Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan tidak macet dan sedikit lengang dari pengguna jalan, seakan mendukung Leinard untuk mengejar istrinya. Leinard terus menghubungi handphone Kaira, tapi tidak ada satupun panggilan itu dijawab oleh sang istri.


"Sepertinya dia benar-benar marah!" gumam Leinard pada dirinya sendiri.


"Sayang kamu di mana sih...?" tanya Leinard sendiri, jujur ia sangat khawatir kepada Kaira.


Sedangkan pak Lukman sudah memarkirkan mobil tepat di depan loby. "Makasi ya Pak Lukman" ujar Kaira.


"Sudah kewajiban saya nyonya, untuk mengantar ataupun menjemput anda." sahut Pak Lukman.


"Pak nanti tidak usah jemput saya, sepertinya saya akan pulang larut. Karena itu saya akan menginap disini saja." ujar Kaira lagi.


"Nanti saja saya kabarin suami saya!" sebelum turun Kaira mengganti cadar yang ia kenakan, dengan masker. Tentunya tidak terlihat oleh pak Lukman. Agar tidak ada yang tahu dia habis menangis.


"Assalamualaikum, pak!" salam Kaira.


Kaira pun membuka pintu mobil sendiri. Ia tidak memberikan pak Lukman untuk sekedar membuka pintu untuknya.


"Waalaikumsalam,,," jawab Pak Lukman, meskipun Kaira sudah berlalu di hadapannya.


Drrt...Drrt....


Handphone genggam milik Pak Lukman bergetar. Cepat-cepat pak Lukman menjawab panggilan dari Tuan muda. Lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Iya Tuan..." [pak Lukman]

__ADS_1


"Dimana istri saya...?" [Leinard]


"Nyonya berada di rumah sakit, Tuan!" [pak Lukman]


Tuuut....Tuuut....


Panggilan terputus. Yah, Leinard memutar panggilan sepihak. "Semoga aja mereka baik-baik saja, dan menyelesaikan masalah mereka dengan pemikiran yang dingin." harapan Pak Lukman kepada majikannya. Ia lantas menghidupkan mobil dan meninggalkan rumah sakit.


Beberapa menit berlalu, sekarang Kaira berada di dalam ruangannya. Ia duduk di kursi dan melepas masker yang di krnakan tafi. Lalu air matanya mengucur seakan tidak pernah surut. Malah sebaliknya, mengalir begitu deras, saat bayang-bayang suaminya yang berpelukan dengan wanita lain di depannya. Ia meluapkan emosi nya, dengan menangis tiada henti.


Sementara Leinard langsung mengudikan mobilnya ke rumah sakit. Hanya menempuh waktu 26 menit saja, dirinya sudah sampai di pelataran rumah sakit miliknya. Leinard turun , lalu bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Menuju ruang kerja sang istri. Di depan pintu ia lantas tidak masuk, ia mendengarkan ungkapan-ungkapan Kaira.


"Ya Allah...kok hati aku sesakit ini yah! Tega kamu Mas, katanya cinta. Tapi di belakang aku malah mendua." ujar Kaira di sela-sela tangisnya.


Leinard yang sudah tidak tahan melihat istrinya terus menangis, dia pun masuk ke dalam ruangan Kaira. Tapi Kaira tidak menyadari kehadiran Leinard karena saking fokus tenggelam dalam pemikirannya yang belum tentu benar.


"Assalamualaikum...sayang!" salam Leinard.


Deg....!


Kaira menganggkat wajah nya melihat sang suami yang berdiri tegak di depannya. Lalu Kaira menghapus air matanya. Ia memalingkan mukanya ke arah lain, asal jangan ke arah Leinard.


"Waalaikumsalam...." jawab Kaira, meskipun ia tak ingin berbicara denga suaminya. Dia wajib sekali membalas salam dari Leinard.


Karena Kaira yang tak ingin melihatnya, ia berjongkok di depan Kaira, untuk memyamakan tinggi mereka. Karena sang istri yang duduk di kursi.


"Ngapain Mas Leinard kesini? Bukannya mesra-mesraan sama cewek seksi itu. Aku tahu kamu sudah tidak mau lagi sama aku, makanya kamus selingkuh. Karen aku tidak se seksi selingkuhan kamu, sedangkan dia begitu cantik dan seksi. Kalau kamu bosan sama aku! Kamu bilang mas. Jangan bermain di belakang aku. Kamu tega sama aku Mas Leinard!" kata Kaira meluapkan emosinya. Ia tidak memberikan Leinard kesempatan berbicara.


Bukannya marah, justru Leinard malah terkekeh gelu dengan pemikiran Kaira. Dirinya aja sibuk bekerja, mana sempat mau selingkuh. Lagian Leinard tidak menginginkan wanita manapun, selain sang istri saja.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2