Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 61.


__ADS_3

Melihat Sean dan Kanaya keluar dari ruangannya Alina, mereka semua lantas berdiri menghampiri Sean dan juga Kanaya. Wajah-wajah cemas, terpampang semua di raut muka para sahabat Alina. Tak terkecuali juga dengan Zeo.


"Kay, Bagaimana keadaan Alina? Dia baik-baik saja kan? Jawab Kay...jangan diem aja." ujar Kaira mendesak memberondong Kanaya dengan berbagai pertanyaan.


"Sabar-sabar Kai,,,Alhamdulillah Alina sudah melewati masa kritisnya kok. Kita berdo'a saja, supaya Alina cepat siuman. Dia juga akan di pindah kan ke ruang inap. Jadi kamu tenang ya, jangan sampai lupa pada diri sendiri dan calon keponakan aku. Kamu harus jaga kesehatan juga! " nasihat Kanaya yang melihat Kanaya semrawut. Mereka sama-sama khawatir kok, tapi Kaira sangat merasa bersalah. Kerena dirinya Alina terbaring di brangkar rumah sakit.


"Alhamdulillah..." ucap mereka serentak bersyukur. Karena Alina sudah melewati masa kritisnya. Mendengar apa yang di katakan Kanaya dan Sean perasaan mereka terasa sedikit lega.


"Dengar kan Yank, teman kamu itu baik-baik saja. Ada Allah SWT kok, so! Pasrahkan semua kepadanya. Kita kan sudah berusaha." ucap Leinard pada sang istri. Agar Kaira jangan terus-terusan merasa bersalah.


"Alina kan sudah di tangani, sekarang tinggal bersih-bersih dan sholat. Kita melewatkan shalat dzuhur, loh!" ucap Zahra kepada teman-temannya mengingatkan.


"Iya, kasian juga nih pengantin baru. Kesini sama gaun pengantinnya." ujar Kanaya menggoda Raina. Guna mencairkan suasana.


"Iya juga yah, hari pertama jadi suami-istri langsung ke rumah sakit." ucap Leinard ikut nimbrung mencairkan suasana yang melow.


Sedangkan yang digoda menunduk malu. "Ihhh, apaan cobak? Kalian dari tadi kerjanya ngegoda aku terus. Ini kan urgent, mangkanya sandal aja enggak makek!" ujar Raina bergerutu. Sontak saja, mereka melihat ke bawah. Benar saja, kaki Raina memang benar tak memakai alas, hanya kaos kaki jempol berwarna kulit itu yang menutupi kaki polosnya.


Mereka semua menertawai Raina yang lupa dengan sandalnya. Raina jadi salah tingkah, karena itu. "Mas, kok kamu ikut ngetawain aku...!" kata Raina kesal yang melihat Juno tertawa terus-menerus.


"Hahaha,,,,habisnya kamu lucu sih!" sahut Juno menahan tawa nya. Kan enggak bagus, kalau Raina ngambek kan. Masa iya, belum genap satu hari jadi suami-istri di ambekin. Kan enggak lucu!.


"Auu ahh!" ujar Raina ngambek, ia berjalan terlebih dahulu. Setelah beberapa langkah, ia kemudian berbalik.


"Kenapa?" tanya Juno yang berapa tepat di belakang Raina.


"Lupa enggak bawa baju ganti, apa pulang aja ya Mas?" tanya Raina.


"Yaelah elu mah, tenang aja lagi. Aku ada kok baju ganti, nanti pakai punya ku aja." sahut Kaira.


"Siaap,,,makasi bestie!" ucap Zahra tersenyum.

__ADS_1


"Kayak sama siapa aja! Kita ini Saudara tahu. Jadi, berhenti bilang terima kasih. Okey..." ujar Kanaya.


"Okey-okey,,,nyonya Sean." goda Raina. Kaum wanita pun mengikuti Kaira, sedangkan para pejantan ikut keruangan Leinard. Yah, dia memiliki ruangan pribadi. Maka dari itu, Leon dan Juno ikut keruangan Leinard untuk membersihkan diri karena mereka akan melaksanakan ibadah shalat.


Beda halnya dengan dua pasangan yang sama-sama memliki profesi dokter itu, mereka pun masuk ke ruangan Sean. Di sana pun mereka berbenah diri menyucikan dari hadast besar maupun kecil.


"Ayo Yank, kita ke ruangan aku. Biar aja Zeo disini." ajak Sean pada sang istri. Kanaya hanya mengangguk-angguk kan kepala nya pelan. Sean pun melihat temannya yang masih setia duduk sedari tadi, dengan tampang yang awut-awutan.


Dia menepuk pundak temannya, memberikan kekuatan. Melihat wajah Zeo yang penuh ke khawatiran. "Bro, dia sudah bisa melewati masa kritis nya. Jadi, kamu jangan terlalu khawatir. Kita hanya menunggu Alina sadar kok! Berdo'a aja, supaya dia cepat siuman.


"Yaudah kami pergi dulu, membersihkan diri yah. Oh iya lupa! Urus tuh muka, biar tidak kayak pakaian lecek belum di setrika." ujar Sean melihat temannya yang selalu memperhatikan penampilannya itu. Tapi, tak berlaku untuk saat ini.


Entah kapan Zeo menaruh hati pada teman istrinya itu? Ia pun bingung, sedangkan saat bersama ataupun ada pertemuan dengannya dia tak pernah mengeluarkan tanda-tanda seorang laki-laki yang jatuh cinta. Yang ia tahu, Zeo biasa saja. Hanya minta di kenalkan, itupun dengan maksud berteman! Itulah yang bisa Sean tangkap dari Zeo.


"Hmm, Iya makasih ya." ucap Zeo mendongak melirik ke arah Sean. Yah, benar sekali. Zeo sekarang tidak peduli dengan apapun, yang ia pedulikan hanya keselamatan Alina saja. Ia pun merasa aneh, mengapa rasa khawatir itu tertanam kuat di benaknya. Padahal yang Zeo ketahui, dia tak pernah seperti ini sebelumnya.


.


.


.


"Kira-kira mereka masih lama enggak ya?" tanya Kaira kepada Zahra yang sudah sama-sama mengenakan mukenah. Yah, mereka sabar menunggu Sean dan Kanaya yang tidak terlihat batang hidung nya sampai sekarang.


"Iya, mereka enggak muncul-muncul sampai sekarang. Padahal ini sudah di penghujung loh waktunya." timpal Zahra terus melihat ke arah pintu musholla, menanti pasangan yang tak kunjung datang.


"Mungkin mereka belum selesai, tunggu sebentar lagi aja." kata Kaira.


Leinard yang mendengar itu, Ia langsung mengambil benda pipih nan canggih yang berwarna hitam berlogo apel di gigit. Ia mencari nama sahabat nya itu di layar handphone nya, dan melakukan panggilan.


Drttt....

__ADS_1


Nada getar dari handphone Sean, melihat nama Leinard di sana. Ia pun langsung menggulir gagang telepon yang berwarna hijau.


[Leinard] "Cepetan kalian ke sini! Jangan biarkan kami menunggu." semprot Leinard langsung kepada Sean.


[Sean] "Okey-okey,,,OTW..." sahut nya.


"Yank,,,ayo buruan! Mereka udah nunggu dari tadi. Kasian kalau mereka menunggu lebih lama lagi." ajak Sean.


"iya! Ayo Mas,,," jawab Kanaya. Ia mengambil mukenah nya di atas meja, dan langsung berjalan.


Selang berapa menit, akhirnya mereka sampai di musholla.


Kaira yang melihat kedatangan mereka pun merasa lega. "Alhamdulillah! Akhirnya mereka datang juga." ucap nya.


Mereka pun menghampiri sahabat nya, Sean menuju Leinard dan Leon. Kanaya pun menghampiri Kaira dan Zahra.


Sean yang melihat temannya menatap tajam ke arahnya, hanya tersenyum pepsodent tak merasa bersalah.


Lain halnya dengan Kanaya, dia merasa bersalah banget. Membuat teman-temannya menunggu.


"Maaf ya...membuat kalian menunggu." kata Kanaya tak enak hati kepada teman-temannya.


"Tidak apa-apa kok! Yang penting kan kamu sekarang disini. Kita bisa langsung memulai shalat nya." jawab Zahra pada Kanaya.


"Iya bener, biar tidak tambah memakan waktu." ujar Kaira.


Leon pun berdiri melakukan iqomat terlebih dahulu. Diikuti oleh semua nya berdiri. Leinard yang akan mengimami shalat mereka. Ia pun berdiri di tempat imam shalat.


"Allahuakbar...."


Shalat pun di mulai dengan ikhlas dan khusyuk. Yah, para pejantan itu beruntung. Memiliki istri-istri sholehah. Mampu mengajak mereka kembali ke jalan yang benar.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2