Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 24. Pengajuan Surat Cuti Kerja


__ADS_3

Selesai mencoba gaun pengantin, Kaira dan Leinard langsung pulang. Sebelumnya dia sudah ngajak Kaira makan siang dulu, tapi Kaira tidak mau. Dia hanya pengen cepat pulang untuk kembali ke rumah sakit.


"Maaf ya mas, aku bukannya tidak mau di ajak makan siang! Tapi harus cepetan ke rumah sakit. Ada pekerjaan yang harus aku selesain dulu, sebelum ngambil cuti." jelas Kaira kepada Leinard. Dirinya merasa tak enak hati, karena menolak ajakan makan siang dari Leinard.


"Iya tidak apa-apa, lain waktu aja!" jawab Leinard pelan.


"Iya mas,,," balas Kaira. Mobil pun kembali sunyi, hanya terdengar sura mesin mobil, sesekali juga terdengar suara klakson. Rasa canggung menyelimuti mereka, biasanya Leinard paling pandai saat menggoda. Namun keahlian yang satu itu, tak pernah ia perlihatkan di depan Kaira. Mobil yang di kendarai Leinard dan Kaira sampai di pelataran rumah Kaira.


"Kai, setelah ini kita tak akan bertemu lagi! Kita akan bertemu saat hari pernikahan saja. Kamu jaga diri baik-baik, kalau keluar jangan lupa ngasih kabar, aky takut kamu kenapa-napa nanti." Leinard mengutarakan kekhawatiran yang datang padanya.


"Iya mas, makasi sudah khawatir sama aku. In syaa Allah, aku bisa jaga diri dengan baik. Mas jangan terlalu khawatir kan ada Allah swt." ujarnya sembari tersenyum, meskipun tertutupi cadar. Tapi Leinard bisa menangkap senyuman tulus milik Kaira.


"Iya,,," balas Leinard pasrah.


"Mas Leinard mau mampir dulu? Apa langsung balik aja?" tanya Kaira.


"Aku langsung balik aja, aku harus pergi ke kantor dulu dan nyelesain beberapa pekerjaan. Sebelum ngambil cuti juga!" balas Leinard.


"Ooh, mas Leinard belum cuti juga. Yaudah kalau gitu, mas ke kantor aja." kata Kaira sembari membuka seatbelt.


Leinard merasa dirinya di usir oleh Kaira kerena di suruh ke kantor. Padahal kan niat si wanita baik, tapi si pria malah salah mengartikan. 'Untung cinta, kalau enggak ku kasi makan sama binatang peliharaanku' ujar Leinard di dalam hati. Kaira sudah membuat mood Leinard kurang bagus.


"Aku bisa kok, tidak bekerja. Tanpa harus cuti dulu, aku kan boss di kantor. Siapa yang akan berani pecat aku," kata Leinard angkuh. Kaira yang melihat sifat angkuh Leinard, memutar bola matanya jengah.


'Apa aku salah bicara ya? Kok raut wajah nya tiba-tiba nyeremmin gitu' pikir Kaira.


"Mas, kamu juga harus mengajukan surat cuti. Pemimpin itu wajib memberi kan contoh yang baik kepada karyawannya. Kalau aku salah bicara maaf, aku nyuruh kamu balik, supaya perkejaan kamu juga cepetan selesai. Jadi saat nikah nanti, pekerjaan sudah selesai." kata Kaira.


Mendengar kata Kaira barusan, Leinard tersenyum tipis. Membuat Kaira tak bisa melihat senyuman singkat itu. 'Jadi seperti itu' batin Leinard. Tapi dia gengsi dong yang mau bilang, kenapa raut wajahnya tiba-tiba berubah.


"Enaknya ngambil cuti berapa hari?" tanya Leinard mengalihkan pembicaraan. Agar Kaira berhenti dari rasa kurang enak hatinya.


"Satu minggu aja! Gimana mau enggak?" tanya Kaira lagi.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, aku nurut kamu aja. Mau ngambil berapapun." balas Leinard pelan.


"Aku turun dulu yah, kan mau ke rumah sakit. Biar tidak terlalu malam kalau pulang." ucap Kaira sembari turun dari mobil.


"Hati-hati nanti ya!" balas Leinard. Meskipun dia telah menyiapkan pengawal untuk Kaira, hatinya masih tetap tidak tenang. Karena dia begitu banyak memiliki musuh.


"Aku masuk dulu ya mas,,,Assalamualaikum!" salam Kaira mengakhiri pertemuannya dengan Leinard.


"Waalaikumsalam..." jawab Leinard. Dia lalu menghidupkan mobil meninggalkan rumah Kaira.


Tiga puluh menit berlalu, Leinard sampai di kantornya. Dia menaiki lift khusus presdir, untuk membawa dirinya ke lantai 60. Karena di sana letak ruang kerjanya. Sebelum dia masuk ke dalam ruang kerja, dia berpapasan dengan Juno.


"Kamu bawa berkas-berkas yang harus saya tandatangani ke ruangan saya sekarang." titah nya kepada sang asisten.


"Baik Tuan!" balas Juno.


'Hari bahagia bos segera datang nih, tumben dia semangat untuk bekerja. Biasanya dia kan tukang nyuruh-nyuruh' batin Juno.


"Ngapain bengong? Kamu lagi ngatain saya ya?" tandas Leinard kepada Juno, dan sayangnya memang benar.


"Baiklah, hari ini mood saya bagus. Jadi terserah kamu saja, yang penting bawa semua pekerjaan ke meja kerja saya. Atau kamu mau saya pindah kerja ke timur-timur sana!" ancam Leinard. Wajah tampan Juno langsung pias, mendengar perkataan Leinard.


"Tidak tuan, saya bekerja disini saja." balas Juno, dan segera berlalu di hadapan bos nya. Leinard pun begitu, dia segera beranjak ke ruang kerjanya yang super luas dan mewah.


Leinard duduk di kursi kebesarannya, dengan hati yang berbunga-bunga, karena perhatian kecil yang Kaira berikan tadi. Dia terlihat seperti ABG yang pertama kali merasakan jatuh cinta. Dulu dia tak pernah seperti ini, hanya karena Kaira, dirinya terus tersenyum seperti orang gila. Orang yang di kenal dengan senyuman mahal dan irit berbicara, sekarang tidak lagi ketika dengan wanita satu itu.


Juno datang dengan setumpuk berkas ke ruangan Leinard. Biasanya pria itu langsung nyeprot sang asisten, karena memberikan berkas-berkas sebegitu banyak nya. Tai tidak sekarang, malah dia begitu antusias dengan pekerjaannya.


"Awal yang baik," puji Juno.


"Taruh di meja saya, segera kamu pergi dari sini." usir Juno kepada asistennya. Juno menaruh tumpukan berkas di meja, dia langsung ke luar ruangan sang boss.


"Dasar bos tidak ada akhlak, habis manis sepah di buang." maki Juno setelah di luar ruangan Leinard. Ia pun segera pergi ke ruangannya, karena ada banyak pekerjaan yang menanti di sana.

__ADS_1


Begitupun juga dengan Kaira, dia berkutik dengan jurnal pasien dan laporan-laporan yang harus dia berikan kepada atasannya. Sekaligus memberikan amanah untuk Kanaya yang akan menggantikan dirinya, merawat pasien yang akan dia tinggal satu minggu kedepan.


Tok...tok...tok...


Kanaya mengetuk pintu ruangan sahabatnya itu.


"Masuk..!" suruh Kaira dari dalam,


'biasanya Kanaya kalau kesini main nerobos aja. Tumben tuh anak meningkat sopan santunnya' batin Kaira. Malah ia tersenyum geli, melihat kelakuan Kanaya. Beda aja gitu rasanya. Kanaya masuk sembari tersenyum hangat. Dia duduk di depan Kaira, sembari menaik turunkan alisnya. Dia menggoda calon pengantin itu.


"Apaan sih! Enggak jelas banget tahu." ujar Kaira yang merasa aneh dengan tingkah Kanaya.


"Calon manten,,,!" ucap nya tertawa geli, menggoda Kaira.


"Tuh kan! Tambah enggak jelas. Aku nyuruh kamu kesini itu, mau ngasih jurnal pasien aku. Bukan untuk ngegoda aku kayak gitu. Aku malu...!" ujar Kaira.


"Iya-iya! Maaf ya. Tapi aku seneng banget, mendengar kamu mau nikah. Aku ikut bahagia untuk kamu." kata Kanaya tulus.


"Makasi ya Kay! Udah ah jangan di bahas mulu, aku mau ke ruangan pimpinan dulu. Buat ajuin surat cuti sama ngasih laporan ini." sembari berdiri ia memperlihatkan beberapa laporan yang sudah ia kerjakan tadi. Kanaya juga ikut berdiri, mereka keluar bersama-sama dari ruang kerja Kaira.


"Akhirnya berkas-berkas ini selesai, aku pengen cepat pulang. Aku sudah tidak sabar nunggu hari pernikahanku" gumam Leinard.


Juno yang duduk di sofa, mendengar gumaman Leinard jadi geleng-geleng kepala. Bos kejamnya jika sudah bucin seperti ini kayak kerbau di cucuk hidungnya.


"Kalau urusan nikah aja semangat, giliran yang kerja aja kayak orang tersiksa!" celetuk Juno tanpa dosa.


"Kamu beneran minta pindah, aku mau pulang aja. Enggak mau ngeladenin orang datar kayak kamu." ujar Leinard berdiri.


"Oh iya! Jangan lupa datang ke hari pernikahan aku, ajak juga yang lain. Kalian tidak dapat kartu undangan, nama kalian tidak muat di kartu itu." kata Leinard datar dan tegas.


"Bos yang benar saja, mau ngelawak? Apa mau bilang tidak mampu beli kartu undangan?" ucap Juno tertawa terbahak-bahak. Juno merasa Leinard benar-benar lucu hari ini.


'Apa gini efek nya orang mau nikah ya?' tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Di ruangannya Kaira sudah merasa lega, dia sudah menyerahkan tugas dan surat cuti nya. Dia membersihkan ruangannya sebentar dan bergegas pulang.


*****.....*****


__ADS_2