Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 86. THSM


__ADS_3

Tepat sore hari, mobil yang di kendarai Juno dan Leinard sampai di markas Black Eagle. Anak buahnya yang berjaga di depan, segera membukakan pintu mobil Tuan Muda.


"Selamat datang, Tuan," sambut mereka dengan membungkukkan tubuhnya dengan hormat.


"Hemm, dimana dia?" Leinard bertanya dengan nada datar nya, pada bodyguard. Tampak dari wajah nya ia sedang menahan amarah. Tatapan nya yang tajam, membuat para bodyguard yang berdiri disana, bergidik ngeri. Karena


Mereka tahu, bagaimana sisi kejam seorang Leinard. Maka dari itu, jangan sekali-kali membangunkan singa yang tidur.


"Dia berada di penjara bawah tanah, Tuan." Jawab salah satu dari mereka. Leinard mengangguk, lalu melangkahkan kaki jenjang nya menuju ruangan itu. Begitupun dengan Juno, ia selalu mengikuti langkah Tuannya.


Tampak banyak sekali para bodyguard yang berjaga di sepanjang lorong yang menuju penjara bawah tanah. Salah satu pengawal, membuka pintu, Leinard langsung masuk ke dalam. Ia melihat Luna yang tak berdaya, dengan tubuhnya penuh dengan lebam dan luka. Karena para pengawal Leinard menyiksanya tanpa ampun.


"Bangunkan Dia!" perintah Leinard. Pengawal yang paling dekat dengan Luna, langsung mengambil air dingin di bak ember yang sudah disiapkan. Lalu menyiram Luna. Leinard tak mau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, apalagi wanita seperti Luna membuat ia jijik.


Gadis lemah itu langsung terbangun, ia tampak terkejut saat melihat siapa yang ada di depannya. Pria tampan, laki-laki pujaan yang sangat ia cintai.


"Leinard Sayang! Aku tahu kamu masih mencintaiku. Nyata nya, sekarang kamu berada disini. Sayang, tolong aku! Bawa aku pergi dari sini." Di sisa tenaga nya, Luna berbicara dengan percaya diri sekali. Juno yang mendengar itu, rasanya ingin muntah, dasar wanita tidak tahu malu.


Sedangkan Leinard yang mendengar itu, hanya tersenyum devil, omong kosong seperti apa ini? Pergi! Yah, kamu akan pergi ke neraka Luna!. Batin nya.


"Percaya diri sekali! Tidak tahukah kamu? Siapa yang membuat dirimu berada di ruangan spesial ini? Tentu saja AKU." Leinard menekan ucapan terakhir nya kepada wanita licik di depannya ini.


Deg...!


Mendengar itu, detak jantung Luna langsung berpacu dengan cepat. Tubuhnya pun gemetar, ia tak menyangka laki-laki yang begitu ia cintai memiliki sisi kejam seperti ini.

__ADS_1


"Bohong! Itu semua tidak benar kan?!. Yang menculik aku sahabat mu, Zeo yang brengsek itu." Teriaknya, sungguh Luna sangat shock mendengar kebenaran itu. Apalagi dari mulut Leinard langsung.


"Ha...ha...ha!" tawa mengerikan dari laki-laki tampan itu. Membuat semuanya menjadi takut, begitu pun dengan Luna. Yang melihat sisi kejam dari laki-laki ini.


"Kenapa? Kamu tidak mau sahabat ku yang menculik? Kamu mau aku yang melakukan itu?!" tanya Leinard datar. Luna yang mendengar itu, hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau berada di situasi seperti ini. Namun, apalah daya! nasi sudah menjadi bubur.


"Sayang! Ku mohon, lepaskan aku." Luna mengiba kepada Leinard. Ia yakin, dengan mengiba seperti ini, pasti Leinard akan melepaskan dirinya.


"Berhenti menyebutku dengan panggilan yang menggelikan itu! Apalagi dari mulut kotormu itu. Sungguh, aku tidak sudi sama sekali. Camkan itu..." Ujar Leinard marah, ia tak mau lagi berbicara hal yang tidak penting. Meskipun raganya ada disini, tapi tidak dengan hatinya! Ia terus memikirkan Istri dan juga anaknya.


Mengingat istrinya, yang diracuni wanita ular di depannya, sampai membuat putranya harus dilahirkan lebih awal membuat amarah Leinard naik ke ubun-ubun nya.


"Aku tahu, kamu tidak bodoh Luna. Pasti kamu bisa menerka sesuatu yang kamu lakukan, sampai membuat kamu berada disini."


Tubuh Luna tambah gemetar, saat mengingat lagi apa yang ia lakukan kepada Kaira istri Leinard. "Bagaimana, sudah mengingat nya dengan jelas? Kalau masih lupa, aku bisa membantumu untuk mengingat nya lagi? Kamu mau?" Leinard menyunggingkan smirk nya. Tangannya menengadah, meminta sesuatu kepada pengawalnya. Pengawal itu pun, langsung memberikan cambuk ke tangan Leinard.


Ctasss!


Ctasss!


Ctasss!


"Ahhh, a-am-pun...." suara pilu Luna, memohon ampun kepada laki -laki kejam itu.


"Masih bisa berbicara...?" bukannya mendengarkan ucapan Luna, Leinard tambah menjadi. Baginya suara rintihan Luna yang memohon seperti melodi yang amat merdu di telinganya.

__ADS_1


"T-tolong ... lepaskan aku"


Tanpa ampun, Leinard mencambuk tubuh Luna. Sampai noda daerah mengucurpun dari bekas cambukan itu, tidak menghentikan tindakan Leinard.


Melihat Luna sudah pingsan tak berdaya, Leinard menghentikan cambukan nya. "Lima menit lagi, siram tubuhnya dengan air garam ." Lalu Leinard pergi dari sana. Sedangkan Juno, dibuat geleng-geleng kepala mendengar ucapan Leinard. Luka Luna saja masih begitu basah.


"Kenapa tidak kamu bunuh saja Dia?" tanya Juno penasaran.


"Tidak semudah itu, aku masih ingin bermain-main dengannya. Biarkan Dia menikmati sisa hidupnya, lebih dari itu. Aku tidak akan membiarkan Dia mati dengan mudah, ada harga yang harus ia bayar tuntas." Balas nya sembari terus berjalan.


"Jangan terlalu lama, jangan sampai membuat istri kamu curiga. Sejauh ini kita masih bisa menutupi identitas kita. Tapi, jika terlalu sering keluar, lambat laun Istrimu akan curiga." Nasihat Juno pada sang sahabat, ia tak mau sampai rahasia mereka selama ini ketahuan.


"Hemm, Aku tahu itu. Kamu tenang saja, setelah Aku berhasil melumpuhkan musuhku, Aku akan benar-benar berhenti dari dunia hitam."


"Aku percaya itu."


Suara adzan maghrib berkumandang, dari handphone milik Leinard. Yah, karena kawasan mereka di daerah hutan, tak ada masjid dan musholla yang mengingatkan akan kewajiban mereka sebagai umat muslim, Leinard pun menyetel dari handphone genggam miliknya.


"Ayo sholat berjamaah! Aku mau membersihkan diri dulu. Tunggu lah di Aula, ajak para pengawal yang seiman untuk beribadah bersama." Titah Leinard.


"Baiklah. Sebelum itu, Akupun mau membersihkan diri juga." Mereka memasuki kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Yah, disana sudah tersedia kamar beserta perlengkapan mereka. Bukan cuma Leinard dan Juno! Sean dan Leon pun ada.


Setengah jam kemudian....


"Assalamualaikum Warahmatullah..." salam Leinard ke kanan dan kekiri. Tanda berakhirnya shalat jamaah yang mereka kerjakan. Lalu di lanjut dengan dzikir dan doa. Para pengawal sangat kagum dengan ketua mereka, bagaimana tidak? Bacaan surah yang lancar dan fasih, serta perubahan pada bos mereka dalam hal positif tentunya. Membuat mereka tambah terkagum-kagum.

__ADS_1


Selasai salaman, Leinard dan Juno pun mau pulang. "Kami pulang dulu, tetap awasi wanita itu. Aku tahu, dibelakangnya ada Xaron yang menolongnya. Pastikan laki-laki itu, tidak menemukan keberadaan nya."


*****.....*****


__ADS_2