Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 64. Yakin dengan pilihannya


__ADS_3

"Alhamdulillah, kamu sudah bangun?" ungakap Zeo bahagia, dari saking bahagianya ia tak sadar memegang tangan Alina yang tidak di infus.


Mereka yang mendengar Alina bangun, sontak menghampiri sang sahabat. Sedangkan Juno, memanggil dokter agar memeriksa keadaan Alina.


"Hei-hei...jangan pegang-pegang!" ujar Zahra bersungut, melihat tangan temannya di pegang.


Alina yang masih lemah tak sadar, dengan tangan lancang Zeo yang menggenggam tangannya erat. Begitu pun juga dengan Zeo, sampai tak tahu, ternyata tangannya main sosor saja.


"Hehehe,,,,maaf kelepasan!" ucap Zero sembari melepas tangannya.


"Dasar ngeles,,,bilang aja cari kesempatan dalam kesempitan." ujar Leon memanas-manasi sang istri.


Sedangkan, Zeo di buat melongo karena ucapan Leon. Bukan membantu dirinya, agar tidak kena amuk para betina yang menatap horor ke arahnya, malah semakin memberikan gas di atas api yang menyala.


"Dasar teman enggak jelas!" cibir Zeo .


Zahra langsung memelintir kuping sang suami, ia kesal dengan kelakuan Zeo, tapi di lampiaskan ke suaminya.


"Bund, kok malah aku yang di kena jewer!" sungut Leon tak terima.


"Emang Deddy mau aku jewer kuping teman kamu? lagian siapa suruh manas-manasin!" ucap Zahra penuh penekanan. Ia kesal dengan sang suami, bisa-bisanya bercanda di saat seperti ini.


Wah, parah kalau singa betina nya sudah ke luar taring. Lantas Leon segera menggeleng-gelengkan kepala nya, tanda tak mau. Jangan sampai ia di amuk lagi, bisa turun drastis wibawanya di depan teman-teman nya.


"Sudah-sudah, kalian apa-paan sih! Teman sakit, tapi kalian malah bercanda." ujar Zeo keras.


Seketika mereka langsung diam, membuat ruangan itu sepi. Leinard sedari tadi hanya diam dan menonton saja.


"Alina, apa bagaimana perasaan kamu? Mana yang sakit?" tanya Kaira pada sahabatnya penuh kelembutan.


Yang di tanya hanya menggeleng lemah, tanda ia tidak apa-apa , ia tak mampu berbicara. Namun, senyum di bibir nya tak lekang sedikit pun. Agar sahabatnya tidak telalu khawatir dengan keadaannya.


Ceklek...


Sean dan Kanaya masuk, di susul pula oleh Juno di belakang mereka. "Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh..." salam mereka tersenyum bahagia melihat Alina sudah membuka kedua bola mata indahnya.


Kanaya segera mendekat ke brangkar Alina, " Alhamdulillah! Sudah sadar." ucapnya. Ia pun mengeluarkan alat-alat medis yang di perlukan untuk memeriksa Alina.

__ADS_1


"Masih lemah..?" tanya Kanaya. Sembari memeriksa keadaan Alina.


"Iya..." jawab nya pelan.


"Oooh,,,enggak apa-apa kok! Nanti kalau udah ngisi nutrisi kan tidak lemah lagi." ujar Kanaya.


"lebih baik kamu makan dulu, terus minum obat. Supaya cepat pemulihannya," kata Kanaya lagi. Alina pun dengan patuh mendengarkan nasehat temannya.


"Syukurlah....Alina ku sudah siuman! Cepat sehat ya, kita kan mau jalan-jalan ikut pengantin baru honeymoon." ucap Kaira menggoda Alina.


"Yeei, teman baru melek juga, masa langsung di ajakin jalan-jalan. Kan kasian, kekasih halalnya aja belum ada tanda-tanda..." timpal Raina cengengesan.


"Kalian yaa! lagian teman baru siuman langsung di ajak bercanda." ucap Zahra merasa kasihan sama Alina yang terus di goda.


"Hehehe...." ucap mereka tertawa sembari memandang satu sama lainnya.


"Yaudah kalau gitu, aku mau ke pantry dulu ya." ucap Kaira berdiri.


Leinard yang melhat istrinya beranjak langsung bertanya. "Mau kemana?"


"Mau ngambil makanan, buat Alina." jawab Kaira pada sang suami. Leinard pun gegas berdiri dari sofa yang ia duduki. Membuat pertanyaan buat Kaira, suaminya mau kemana?.


"Ikutlah, mau apalagi?" ujar Leinard sembari mendekati Kaira.


"Enggak usah mas, aku bisa kok. Kamu di situ aja! Lagian aku cuma sebentar doang." cegah Kaira tak mau merepotkan Leinard.


Fyuuh....


Leinard menghembuskan nafasnya pelan, "baiklah,,,cepat kembali." ucap Leinard pada akhirnya.


"Tentu, Mas!" jawab nya. Ia pun langsung beranjak dari ruang rawat Alina, untuk mengambil beberapa makanan.


*


*


*

__ADS_1


Setelah kepergian Kaira, Zeo pun membuka suara.


"Bisa kami kasih waktu, aku mau berbicara sama Alina." pinta Zeo kepada sahabat-sahabatnya. Supaya meninggalkan mereka berdua saja.


Karena mereka sudah tahu, Zeo akan membicarakan sesuatu dengan Alina, mereka pun langsung meng-iyakan permintaan Zeo. Dengan syarat pintu di buka lebar-lebar. Ia pun tak keberatan dengan permintaan teman-teman Alina, yang penting ia bisa mengutarakan keinginannya.


Tak lama kemudian, tersisalah mereka hanya berdua saja. Zeo pun mulai beranjak dari tempat duduk nya, ia menghampiri Alina yang sudah duduk bersender di headboard brangkarnya. Ia mengambil tempat duduk di kursi di samping Alina.


Deg...deg...deg....


Entah kenapa?


suara detak jantung Alina bertalu-talu, ia tampak gugup sekali, melebihi saat ikut pertandingan olimpiade. Atmosfer di ruangan itu seketika berubah dingin, di tambah dengan kecanggungan yang terjadi di antara Keduanya. Apalagi Zeo yang tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya menatap dalam ke arah Alina yang menunduk. Karena tak berani melihat ke Zeo.


Karena Alina tak terbiasa dengan suasana seperti ini, ia pun mencoba membuka pembicaraan di antara keduanya terlebih dahulu. "Ekhem....ekhem..." Alina sembari menepuk-nepuk dadanya. Dengan lekas Zeo memberikan air yang berada di nakas samping brangkar Alina. Ia menyodorkan air itu didepannya.


Alina pun lekas mengambil air minum, dari tangan Zeo. Meskipun buru-buru pingin menenggak air itu, tak lupa ia ucapkan basmalah di dalam hati.


Zeo pun duduk kembali di kursinya, lalu ia menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan secara perlahan. Sumpah! Ini kali pertama dirinya seperti ini.


"Aku ingin kamu jadi istri aku!" ucap nya dengan satu kali tarikan nafas, ia berbicara dengan tegas kepada Alina.


Dari saking terkejutnya, Alina langsung menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya.


Byuuur....


Basah sudah, pakaian bagian depan dan selimut yang ia kenakan, gara-gara air yang tak mampu Alina telan dengan sempurna. Kasian sekali, selimut dan bajunya basah! Korban dari keterkejutan yang di berikan Zeo.


'Uhuk...uhuk...


Alina tersedak air sedikit. Lama ia terbatuk, akhirnya reda juga.


"Pak, a-anda tidak sedang membual kan? Bapak jangan bercanda seperti itu, jangan membuat pemikiran saya berlebihan! Lagian, mana ada yang mau sama saya? Saya anak yatim piatu, jelek, tidak punya harta dan apapun itu." kata Alina pelan. Tapi, sangat jelas terdengar oleh telinga Zeo.


"Aku, serius! Jadi, apakah kamu mau jadi istri aku?" tanya Zeo lagi.


"......" Alina bungkam, ia tak tahu harus menjawab apa. Apa-apaan, baru siuman langsung di ajak nikah! Dasar manusia enggak jelas. Pikirnya.

__ADS_1


"Baiklah,,,kamu diam! Itu artinya kamu setuju menjadi istriku." ujar Zeo yang melihat Alina hanya diam saja.


*****.....*****


__ADS_2