Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 22. Menunggu Jawabanmu


__ADS_3

'Aku mencoba aja, kalau emang bapak Sean tu jodohku Allah swt akan menakdirkan aku dengannya. Begitupun sebaliknya.' batin Kanaya.


Sean memandang wajah Kanaya terus-menerus. Pasalnya ia menunggu jawaban pasti, agar tahu langkah apa yang harus ia lakukan kedepannya. Melangkah maju atau mundur. Karena tak tahan menunggu Kanaya buka suara, Sean pun bertanya kembali.


"Gimana iya atau tidak?" tegas Sean. Bagi Sean, ia lebih baik berhadapan dengan musuhnya, dan meluluh lantahkan musuh. Daripada menunggu jawaban Kanaya, karena itu mampu mengobrak-abrik hati dan pikirannya.


"Emmm,,,," Kanaya tambah mati kutu mendengar pertanyaan itu. Sampai ia rasanya tak mampu bernafas dengan benar.


"Be-begini saja pak, beri saya waktu! Saya ingin meminta petunjuk dari Allah swt dan memantapkan hati dengan pilihan itu. Karena menikah itu bukan kayak beli baju, kalau naksir langsung main jabret aja, tapi lebih dari itu! Dia akan menjadi teman hidup untuk selamanya, kecuali maut yang memisahkan." kata Kanaya.


"Berapa hari?" tanya Leinard.


"Satu minggu," balas Kanaya tersenyum manis. Melihat senyuman itu, membuat Sean tak bisa berpaling. 'Sangat cantik' batinnya.


"Tersenyumlah seperti itu, tapi hanya di depanku," kata Sean tak sadar, karena kalimat itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulut indahnya.


"Apaan sih pak! Enggak jelas banget. Bahasnya apa, jawabannya apa?" kata Kanaya kesal, karena dirinya yang sudah berusaha serius, malah tanggapannya kayak gitu.


"Tiga hari," balas Sean tak terbantahkan. Satu minggu itu baginya sangat lama. Dia tak sanggup harus menunggu lagi, cukup baginya satu tahun kemarin yanh ia lalui dengan memendam perasaan saja. Tapi tidak untuk sekarang.


Kanaya di buat melongo dengan keputusan Sean, karena terlalu cepat baginya. Setelah mengatakan itu Sean berdiri pamit. Ibu devi yang selesai menyiapkan makan siang, memanggil mereka, bertepatan dengan itu Sean akan pamit pulang.


"Loh nak Sean mau kemana? Ayo kita makan siang bersama dulu." kata ibu.


"Maaf ya bu, Saya ikut lain kali saja. Saya harus menyelesaikan pekerjaan dulu, saya harus pulang sekarang," ujar Sean sembari mencium punggung tangan calon mertua.


"Assalamualaikum,,," ucapnya berlalu dari hadapan mereka.


"Waalaikumsalam,,," balas Kanaya dan bu Devi kompak. Akhirnya merek menghabiskan makanannya seperti biasa, hanya berdua.


Hari berlalu begitu cepat, sekarang hari yang di tunggu-tunggu Sean. Ia tak sabar menyelesaikan laporannya dan pergi ke ruangan Kanaya.


Tok...tok...tok


Suara pintu ruangan Sean. Sean mnegernyitkan dahinya, siapa yang mencari dia pagi-pagi seperti in?. Dia penasaran, namun tak ingin beranjak dari pekerjaannya, supaya cepat selesai.

__ADS_1


"Masuk," titahnya lantang. 'Ganggu aja' pikirnya. Hadle pintu pun tergerak, tanda orang yang ada di depan pintu memutar gagang itu. Pintu terbuka lebar. Sean mendongak melihat ke arah pintu.


Deg....


Orang yang dia tunggu-tunggu ada di depan mata, pucuk dicinta ulampun tiba. Senyuman Sean langsung merekah sempurna.


"Assalamualaikum pak dokter," salam Kanaya. Dia melangkah masuk kedalam ruangan. Di tangan kananya ada kotak makanan dan air mineral. Dia langsung duduk tepat di depan Sean, senyuman orang di depannya tak luntur sama sekali sejak awal dia masuk sampai duduk di depannya.


Kanaya manaruh kotak makan di atas meja, lalu menyodorkannya ke depan Sean. Sean melihat ke arah kotak makan yang berwarna merah muda.


"Buat apa?" tanya Sean seperti orang bego, padahal di dalam hati sangat senang, rasa-rasanya dia ingin salto sekarang mengungkapkan perasaannya


"Baut sarapan, emangnya makanan mau di buat apa lagi?" kata Kanaya terkekeh geli melihat tingkah Sean yang tak cocok dengan parasnya yang tegas.


"Kamu ada sesuatu yang ingin di katakan?" tanya Sean meningat hari yang di janjikan Kanaya tiba.


"I-iya.." kata Kanaya yang berusaha memupuk keberaniannya.


"Apa?" tanya Sean sok cuek, padahal hatinya bertalu-talu. Ia takut Kanaya akan sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu menolak Sean.


Kanaya mengehembuskan nafasnya, supaya rasa gugup nya ikut terkikis.


"Bismillahirrahmanirrahim...aku siap jadi pendamping hidup kamu!" Kanaya dalam satu helaan nafas. Sean terpengarah, mendengar kalimat yang ia inginkan. Padahal dia menerka-nerka Kanaya akan menolak lagi.


"Coba ulangi sekali lagi?" pinta Sean, karena dia ingin mendengar kembali kalimat itu.


Karena Kanaya yang malu, dia malah tak ingin mengulang apa yang barusan ia katakan.


"Tidak apa pengulangan!" ucap Kanaya sbar memalingkan wajahnya, ia tak mau Sean melihat rona merah di pipinya.


"Baiklah kalau begitu,,,satu bulan lagi kita menikah," kata Sean. Kini Kanaya yang malah di buat kaget.


"Cepet banget.." ujarnya.


"Apanya? Itu udah lama banget. Kalau tidak mau nunggu bulan depan, mendingan sekarang nikahnya." dia malah menggoda Kanaya.

__ADS_1


"Iiih, apaan sih pak Sean! Udah ah, aku balik keruanganku dulu," kata Kanaya beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu, ada yang kurang?" Kanaya langsung melirik kembali ke arah Sean, ia mengernyitkan kedua alisnya.


"Kurang apa pak?" tanya Kanaya.


"Pelukan perpisahannya tidak ada," kata Sean enteng. Namun mampu menambah rona merah yang ada di kedua pipi Kanaya. Ia segera berbalik arah, lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Sedangkan di kediaman keluarga Mahmud, Mommy Ranti sama adik kandungnya membahas pernikahan Leinard dan Kaira. Dia memilih WO terbaik yang ada, serta jamuan para tamu. Mommy Ranti begitu senang, hari yang di tunggu-tunggu akan segera tiba.


"Vi mana menurut kamu undangan yang paling bagus?" Mommy Ranti menyodorkan beberapa undangan super mewah dan mahal tentunya.


"Yang ini deh kak," tunjuk Viana, kepada sebuah undangan yang berwarna hitam di padukan dengan warna gold, tampak berkesan mewah karena warna keemasan di undangan itu.


"Oke, kita gunakan yang itu." kata Mommy langsung setuju dengan pilihan adiknya.


Leinard turun dari tangga, ia ingin melihat persiapan pernikahan sudah sampai tahap mana. Leinard duduk di sebelah mommy.


"Jangan terlalu capek mi, lebih baik Mommy nyuruh orang aja untuk mempersiapkan. Kita terima beres aja." kata Leinard, ia tak ingin Mommy Ranti jatuh sakit karena kecapean.


"Kamu ini ada-ada aja, mommy tidak capek sama sekali. Banyak yang bantuin juga kok." ujar sang Mommy.


"Iya mom," kata Leinard mengalah.


"persiapannya sudah sampai mana mom?" tanya Leinard.


"Semuanya sudah selesai kok, kecuali cetak undangan dan fitting baju pengantin." Leinard mengangguk mengerti.


"Terus fitting baju pengantin kapan?" tanyanya lagi, dia sudah dua hari tidak ketemu calon istrinya. Dia rindu sama sosok wanita lembut itu.


"Besok aja, kalian tinggal datang ke butik langganan Mommy," Leinard nyengir, mendapat kesempatan bertemu dengan Kaira.


"Oke, besok ya mom." kata Leinard antusias. Viana hanya jadi penonton obrolan anak dan ibu itu. ia turut bahagia dengan pernikahan Leinard dan Kaira. yang akan di gelar tiga hari lagi.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2