
Leon mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang dikenali putrinya dengan sebutan 'Unya'. Tak menemukan orang yang di maksud, Leon kembali melanjutkan langkahnya ke meja yang sudah terisi sahabatnya.
"Akhirnya loe sampai juga, gue udah kangen banget nih sama dede Gemoy." mengambil alih Zalfa kecil dari dekapan Deddy nya. Juno menaruh Zalfa di atas pangkuannya. Mendengarkan celotehan Zalfa, membuat Juno tersenyum. Rasa lelah akibat pekerjaan hilang, ketika melihat tawa yang merekah dari bibir mungil itu.
Zalfa yang masih berumur 3.5 tahun itu mampu menarik perhatian sahabat Kaira, yaitu Raina. Gadis kecil periang, meskipun hatinya merindu sosok yang ibu. Gadis kecil yang berceloteh ria di pangkuan sekretaris Juno. Siapa yang tidak kenal dengan kaki tangan Leinard. Wajah tegas yang terbingkai nyata, kekejaman yang dimiliki sama seperti sang Boss. Membuat lawan menciut, hanya melihat wajah nya saja.
"Lihat deh, gadis kecil itu. Ngegemesin tau! Jadi pengen." tersenyum membayangkan dirinya menjadi seorang ibu. Tak ayal untuk mereka, menginginkan pendamping hidup. Di umur 24 tahun, mereka sudah dewasa. Karena mereka tak menganut
"Idih, kepala Raina miring. Mikir mau punya anak aja! Pasangan aja kagak dapet. Masa langsung brojol dedek bayi?" ujar Liana menimpali khayalan sahabatnya.
"Anak yang mana sih?" tanya Kaira, karena Kaira dan Zahra duduk membelakangi orang yang jadi bahan obrolan di mejanya. Kaira dan Zahra melihat arah pandangan tan-temannya. Dan mendapati putri kecil yang ketawa merekah.
"Oooh, Dia itu murid di sekolahku," ujar Zahra yang melihat Zalfa. Ya, Zahra mengajar di sekolah paud Adipati Wisnu. Yang di naungi keluarga Adipati Wisnu. Beda hal nya dengan Kaira, ia terkejut mendapati seseorang yang melirik dirinya. Ia segera mungkin menoleh kan kepala nya dan memunggungi orang tersebut.
Dedek Zalfa yang melihat ada bunda Zahra. Ia turun dari pangkuan Deddy nya dan berlari ke arah Zahra.
"Sayang mau kemana? Jangan lari-lari seperti itu, nanti kamu jatuh!" peringat Leon kepada putrinya.
"Unya...Unya..." teriak Zalfa kegirangan. Akhirnya dia bisa bertemu dengan bundanya.
Zahra yang tahu, bahwa Zalfa menghampiri dirinya. Ia segera bangkit dari tempat duduknya. Menangkap tubuh kecil yang melompat ke dalam gendongannya.
"Assalamualaikum peri kecilnya bunda," sapa Zahra saat ia berhasil membawa Zalfa dalam gendongannya.
"Waalaikumsalam Unya afa." jawab nya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Sayang, nggak boleh kayak gitu lagi yaa! Jangan lari-lari. Kasian tuh Deddy nya Afa, capek ngejar Afa nya. Deddy kan sudah tua sayang, nanti kalau encok gimana? Afa tidak kasian melihat Deddy kayak gitu!" ucap nya.
Leon mematung, melihat interaksi keduanya seperti anak dan ibu kandungnya. Dia tak pernah melihat mata putrinya berbinar seperti itu, sekalipun bertemu dengan dirinya. Leon tak terima mendengar kalimat Zahra yang mengatai dirinya tua.
Sahabat Zahra hanya mampu tersenyum, melihat hal itu.
Mengikis jarak di antara dia dan Zahra. Membuat gadis itu salah tingkah. Pasalnya ia tak pernah berdekatan dengan lawan jenisnya. Hanya jarak satu meter, membuat ia sport jantung.
"Kamu bilang saya apa tadi?" setelah ia berdiri di depan Zahra. Mengamati wajah Unya Zalfa. 'Cantik' pujinya dalam hati.
"S-saya b-bilang apa?" dengan suara gugup nya Zahra bertanya kembali. Tiba-tiba otak nya tidak bisa bekerja dengan baik. Dari saking gugup melanda dirinya.
"No, Deddy! Kasian Unya kan. Ndak boleh marah-marah." pintanya kepada sang Deddy.
Leinard yang melihat Zalfa membela Unya, dia memilih diam. Tak berkata apapun lagi, ia kembali ke mejanya.
Suara hembusan nafas Zahra, menghilangkan gugup yang mendominasi dalam dirinya. Setelah Deddy anak yang ada di dalam gendongannya berlalu di hadapan Zahra. Ia membawa Zalfa duduk di kursinya.
"Mencium bau-bau orang malu nih." goda Kaira. Ia tersenyum melihat wajah Zahra yang merona seperti udang rebus itu.
"Dia itu duda loh Za, mana ganteng kayak gitu lagi! Bisalah buat pemimpin rumah tangga loe nantinya. Pepet terus gih, mana anaknya nyantol sama kamu!" ujar Raina, menimpali godaan Kaira.
"Apaan sih! Nggak lihat nih ada anak kecil. Jadi stop, untuk bilang sesuatu yang nggak-nggak deh." ucap nya ketus. Daripada mendengarkan sahabatnya ngomong, dia memilih menyupi Zalfa makanannya.
Di meja satunya, godaan juga terus teman-temannya layangkan. Agar segera memberikan sosok ibu, kepada Zalfa. Tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu satu jam lebih, hanya duduk dan bercerita kepada satu sama lainnya.
__ADS_1
Mereka tidak sadar bahwa ada penguntit yang memperhatikan sedari tadi.
" Tuan, mereka berkumpul di sini, tanpa bodyguard dan antek-anteknya. Sepertinya mereka sedikit family friend's" ujarnya kepada orang di sebrang sana.
"Bagus, lanjutkan." titahnya kepada orang kepercayaannya.
Leinard yang sangat jeli terhadap sekitarnya, mengetahui penguntit yang mengikuti mereka.
"Bersiaplah! Kita akan bersenang-senang." katanya. Tatapan tajam ia layangkan ke arah penguntit, yang menutup wajahmu dengan buku menu. Leinard dan temannya tidak mungkin melakukan sesuatu di tempat seperti ini.
Sahabat Leinard yang mendengar itu, hanya menampilkan senyuman devil nya. Leon yang mendengar itu, seketika ingat kepada malaikat kecilnya. Ia hendak beranjak ke arah Zalfa, tapi langkah nya terhenti.
"Mau kemana?" tanya Leinard.
"Gue, mau nitip Zalfa dulu sama wanita itu" tunjuk Leon kepada temannya.
"Ooh, buruan gih. Gue udah nggak sabar ini." ujar Zeo, dia sudah membayangkan mangsa yang akan dibantai habis olehnya.
Leon berjalan ke arah meja kaum Hawa, yang berjarak dua meja dari mereka. Pengunjung yang melihat itu, merasa iri. Leon yang gagah berjalan, tak mengubris omongan orang yang melihatnya. Pandangannya fokus pada orang yang menyuapi putrinya.
"Saya titip Zalfa dulu, ada kepentingan mendesak yang tak bisa di tunda" ujarnya. Tanpa mendengar jawaban Zahra, Leon sudah berlalu dari pandangan Zahra. Leon langsung keluar bersama teman-temannya. Dan benar saja, si penguntit langsung mengikuti mereka.
Leinard menolehkan kepala nya kebelakang, tatapan tajam nya bak elang mengintai mangsa. Wajah datar dan beringas nya muncul begitu saja. Saat ia melihat mangsanya. Mereka segera masuk ke dalam mobil, membawa mereka ke tempat yang sepi. Agar tak ada, korban dan kerusakan barang apapun itu. Meskipun pimpinan Mafia Black Eagle terkenal kejam, Dia juga selektif, memikirkan dampak pada orang-orang sekitarnya.
"Juno putar arah, sebaiknya kita membawa bodyguard bodoh itu ke hutan buatan! Karena tak ada yang bisa keluar dari sana, dengan nyawa yang masih menyatu dalam tubuh." Leinard menyeringai dengan tatapan tajam nya. Dia akan membuat musuhnya merintih meminta kematian segera menghampiri.
__ADS_1
Juno langsung memutar arah, menuju tempat yang diinginkan Leinard. Ia mempercepat laju mobil, membuat orang yang diikuti sedikit kuwalahan. Karena ulah Juno. Selang berapa menit, akhirnya mereka sampai. Sebelum mereka masuk hutan, Juno menghentikan mobil nya di tepi jalan. Untuk mengecoh musuh. Para pengawal Leinard sudah membentuk formasi lengkap di tempat tersembunyi di area itu.