Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 102. THSM


__ADS_3

Tepat hari ini, Leinard akan melakukan perjalanan bisnis nya ke Negara X, dimana janji temunya dengan Tuan Galelo . Kaira mengantar suaminya sampai di depan pintu. "Mas Leinard, jaga diri baik-baik ya! Harus tepat waktu kalau makan. Nggak boleh nunda-nunda, pokoknya nggak boleh sampai kelelahan." Sudah sekian kali, sang istri mengulang kata-kata yang sama.


"Iya, Sayang! Aku akan selalu mengingat ucapan kamu. Kamu juga, jaga diri baik-baik, ya!" ucapnya seraya mengelus pipi Kaira yang tertutup oleh niqab. Kaira tersenyum di balik cadarnya, terlihat dari kedua mata indahnya yang menyipit.


Tatapan Leinard pun beralih ke arah Putranya, dia mencium seluruh wajah Baby Athaf. "Sayang, jangan nakal-nakal ya, kasian Mommy pasti kelelahan." Ujar Leinard lembut, jujur saja dirinya begitu berat untuk meninggalkan Anak dan Istrinya di rumah. Tetapi, mau bagaimana lagi? Dia harus segera menyelesaikan masalah nya, Leinard tak mau semua permasalahan ini berlarut-larut.


"Mas..." panggil Kaira manja, ada perasaan tak rela di hati kecil nya, padahal ini bukan kali pertama dia di tinggal oleh Leinard pergi perjalanan bisnis. Leinard tahu apa yang dirasakan wanita nya, tatapan wanita itu bisa menjelaskan semuanya.


"Cuma sebentar kok, Sayang! Paling cuma dua hari. Masa, Istri Mas tidak bisa menahan rindu," kelakar Lienard, seraya menaik turunkan kedua alisnya. Kaira pun hanya tersenyum saja, menanggapi perkataan sang Suami.


"Haish! Bukan begitu tahu. Tapi, anak-mu loh yang akan sangat merindukan Deddy nya." Ucap Kaira menahan senyum. Di dalam hati, Kaira meminta maaf kepada putranya. Karena namanya di bawa-bawa, meskipun memang benar adanya, putra nya juga pasti merindukan sang Deddy.


"Yah, sedih sekali rasanya! Kenapa cuma anak ku saja yang merindukan Daddy nya? Mommy nya emang tidak kangen?" tanya Leinard memelas ke arah sang Istri. Sungguh tawa Kaira tak bisa di tahan lagi, melihat kelakuan absurd suaminya. Akhirnya Kaira dan menggeleng kan kepalanya, melihat kelakuan lucu sang suami.


Tanpa berkata apapun, Leinard memeluk kembali sang Istri, yang tengah menggendong si kecil, mereka semua masuk ke dalam pelukan hangat laki-laki tangguh nya. "Sayang, jangan rindu ya," ucap Leinard di sela-sela pelukan nya, dia masih sempat menggoda Kaira.


"Mana ada! Masa cuma ditinggal dua hari saja rindu. Lagian kan, Mas Leinard pergi bekerja," kilah Kaira, padahal satu hari saja tak bertemu dia akan kangen berat dengan sosok Sang Suami.


"Yaudah, nggak apa-apa deh! Yang penting pastinya aku akan rindu berat sama kalian." Tukas Leinard berlapang dada, walau ia tahu ucapan istrinya hanya bohong.


"Aku pergi ya, Sayang! Jaga diri baik-baik." Pamit Leinard lagi, kepada istri tercinta nya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Kamu hati-hati ya Mas, disana," ujar Kaira, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.


Juno memutar bola matanya malas, pasalnya drama pamitan majikan nya ini, sangat memakan waktu. Melihat Leinard yang berjalan kearah nya, Juno membukakan pintu mobil untuk Leinard.


Bum!


Pintu di tutup kembali oleh Juno, setelah Tuan nya masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman. Ia pun segera masuk, dan duduk di bangku kemudi. Lalu, menyalakan mesin mobil dan meninggal kan mansion.


"Tuan, anda yakin akan menemui mereka?" tanya Juno untuk memastikan keputusan Leinard. Tetapi dirinya masih fokus ke depan. Hanya lirikan matanya sesekali melihat kearah Leinard, dari kaca tengah mobil.


"Hmm, kenapa kamu bertanya lagi? Dari sekian banyak pertanyaan malah itu yang sama terus kamu tanya?" jawab Leinard datar, dia sudah kembali kesetelan pabrik. Dingin dan datar.


"B-bukan begitu, aku hanya mengingatkan saja! Mereka itu orang-orang yang memiliki banyak tipu muslihat." Tutur Juno.


"Aku percaya sama kamu!" sahut Juno. Lalu, dia pun kembali mefokuskan diri untuk mengemudi ke Bandara.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mereka sampai. Disana sudah ada ketigaa sahabat nya, yang tak lain Sean, Zeo, dan Leo. Serta para pengawal yang sudah berbaris rapi sedari tadi, menanti kehadiran mereka.


Juno turun terlebih dahulu dari mobil, lalu di membuka pintu belakang dimana Leinard duduk. Setelah nya, Leinard turun dengan setelan hitam yang tampak pas di tubuh atletisnya. Di tambah cakamata hitam yang dikenakan olehnya, membuat dirinya berkali-kali lebih tampan.


"Assalamualaikum..." salam Leinard, ketika dia tepat berada di depan ketiga sahabat nya ini. Mereka pun bersalaman ala pria, dengan senyum yang sama-sama terbit dari bibir mereka.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, brother!" suara ketiganya menjawab bersamaan.


"Bagaimana persiapan semuanya? Apakah mereka sudah disana?" tanya Leinard kepada mereka.


"Of course! Kamu tak usah meragukan kita. See, kamu lihat kan! Semuanya sesuai rencana kita, para pengawal lainnya pun sudah ada disana." Ujar Sean dengan tenang.


"Bagus, aku suka dengan cara kalian. Memang kalian yang terbaik," puji Leinard. Dari sekian banyak yang mereka kerjakan, baru saat inilah dia terang-terangan mengatakan nya di depan mereka.


"Ohh, dunia terasa indah kalau seperti ini." Sahut Juno yang mendengar perkataan Tuan nya barusan.


"Cih, lebay sekali," timpal Sean yang merasa geli dengan tingkah sahabat nya itu.


"Udah, udah! Kita lebih baik berangkat sekarang! Jangan membuang-buang waktu." Tukas Leo, meskipun dirinya berada di tengah-tengah teman nya, tetapi pikiran nya berada di rumah. Dia terus memikirkan sang istri, yang tengah hamil besar.


Bukannya tidak peka, Leinard pun paham dengan apa yang di pikirkan teman nya ini.


"Hmm, baiklah! Ayo kita berangkat!" sebelum mereka naik ke atas jet pribadi milik Leinard, tak lupa mereka berdoa untuk keselamatan mereka.


Mereka pun, masuk ke dalam pesawat. Leinard duduk bersebelahan dengan Leo, karena memang dia ingin berbicara lebih dengan pria itu.


"Loh, kok si Bos duduk sama Leo sih?" tanya Sean heran. Karena memang biasanya tidak seperti itu. Dia akan memilih duduk sendiri, dan mengerjakan tugas nya yang tertunda.

__ADS_1


"Entahlah! Aku juga tidak tahu." Sahut Zeo mengedik kan bahunya acuh, memang Zeo tak suka ikut campur dengan urusan orang lain. Mereka pun duduk dengan tenang, dan nyaman.


Di dalam diamnya, Leinard memandangi satu per satu wajah temannya ini. Dia sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka, yang selalu ada di saat apapun, walaupun dia tahu, para sahabat nya ini punya kesibukan masing-masing. Meskipun begitu, mereka saling menyokong satu sama lain.


__ADS_2