Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 41. Resepsi (Sean&Kanaya)


__ADS_3

Setelah sesi ijab kabul selesai, mempelai wanita pun diminta untuk menghampiri sang suami. Kanaya di temani para sahabatnya keluar dari kamar, untuk menemui suaminya.


Semua mata tertuju kepada mereka, apalagi pengantin yang sangat cantik. Mencolok di antara mereka, saat di ambang pintu keluar. Mmebuat semua mata para tamu undangan melihat ke arah mereka. Sean yang sedari tadi menunduk pun, mendongakkan kepalanya. Betapa bahagianya dia memiliki istri yanf Cantik. Dia terpaku, ini pun kali pertama baginya melihat Kanaya mengenakan polesan bedak di wajah cantik nan ayu nya. Sungguh Sean benar-benar di buat takjub, dia pun merasa tak percaya semua ini nyata.


"Tidak apa-apa di lihatin terus! Udah halal juga Nak." goda Papa Arya, yang melihat putranya enggan mengalihkan pandangannya dari istrinya. Sean pun tersadar, dia pun lekas mengalihkan pandangannya walaupun tidak mau.


Kanaya pun sudah ada di samping Sean yang masih duduk du kursinya. Melihat sang istri ada di dekatnya, dia lantas berdiri saling berhadapan. Sedangkan para sahabatnya itu kembali ke samping suaminya masing-masing. Sementara jomblowati duduk berdampingan di barisan kedua.


Saat para bridesmaid keluar, Zeo mengedarkan pandangannya melihat ke arah salah satu teman Kaira. Juno yang mengerti dengan arah pandangan Zeo.


"Jangan sampai dengan gadisku...jika tidak menginginkan kepalamu menghilang." ujar Juno tegas. Yah, dia sudah mengklaim Raina miliknya. Hanya milik nya!


"Dasar si datar ikut-ikutan aja, emang yang mana pilihan lo?" tanya Zeo, sebenarnya dia tak percaya dengan apa yang di katakan Juno barusan. Yang ia ketahui, Juno tak menginginkan yang namanya pendamping hidup. Karena menurutnya iti, akan jadi titik kelemahannya nanti.


"...." Juno bungkam enggan menjawab pertanyaan Zeo.


"Sih muka datar! Nanti kalau gadis impianmu kecantol sama aku! Jangan menyesal ya." tantang Zeo karena Juno yang enggan berbicara.


"Yang itu..." tunjuk Juno ke arah Raina yang asyik mengobrol dengan Alina. Dan pada saat itu, Raina yang bertepatan melihat ke arah depan nya. Dimana tempat Juno duduk, mata mereka pun bersirobok. Menatap satu sama lain.


"Astaghfirullahal azdim..." Raina langsung mengalihkan pandangannya ka arah lain. Mood nya tiba-tiba langsung jelek, melihat wajah orang yang tukang paksa.


"Sekarang kalian adalah suami istri. Suami adalah pakaian untuk istrinya, begitupun sebaliknya. Jadi, pandai-pandailah menjaga satu sama lain. Terlebih istri harus mampu menjaga kehormatannya saat suami tidak bersamanya." ucap pak penghulu. Mereka tersenyum dengan nasihat pak penghulu, akan selalu mereka ingat.


"Selanjutnya acara pemasangan cincin untuk kedua mempelai..." (MC)


Sean pun mengambil kotak cincin yang ada di meja akad, untuk ia pasang kepada istrinya. Tidak ada cerita nya pengantin yang berani menatap ke arah mata pasangannya. Yang ada Kanaya terus menundukkan pandangan, dia sangat malu untuk menatap mata indah milik Sean karena saking malunya.

__ADS_1


Pengantin Pria pun membuka kotak cincin itu, dimana cincin pasangan yang sangat sederhana namun elegant. Yang bertahtakan berlian di tengah cincin itu, tambah membuat tangan cantik Kanaya menjadi sangat indah.


*


*


*


Siang hari berlalu, kedua pengantin itu sudah di kamar Kanaya. Mereka duduk sembari bercerita dan mengagumi satu sama lain. Sebenarnya Sean ingin segera menunaikan ibadahnya dengan sang istri, meskipun hari masih sore. Tapi karena masi ada acara resepsi yang akan di gelar, maka tak mungkin baginya untuk menjalankan niatnya. Karena dia tak mau nanti Kanaya terlihat aneh,,,Yah! Begitulah paham kan yaa.


Sementara Kanaya tidak banyak bicara, dia akan menjawab jika Sean bertanya. Atau berbicara terlebih dahulu, baru Kanaya berbicara. Entahlah! Mengapa dirinya sangat pemalu, padahal mah asal cerocos aja.


"Sayang,,,kamu kok enggak seperti biasanya?" tanya Sean yang tidak peka dengan istri nya yang malu, mau bergerak sedikit pun ia tak mau.


"E-emang nya a-aku gimana Mas?" tanya Kanaya balik, bukannya menjawab malah ditanya lagi.


Kanaya menghembuskan nafasnya, dia mengatur suaranya agar tidak terdengar gugup. "Enggak juga sih Mas! Tapi aku tuh, malu,,,banget tahu. Aku juga tidak tahu, tapi rasa malu itu hadir begitu saja. Akupun bingung?" seru Kanaya.


Sean pun menggenggam tangan kanan istrinya, ia kecup penuh cinta dan suka cita. Dan membawa tangan itu ke atas pangkuannya, serta mengelus lembut tangan putih itu. "Sayang kamu jangan malu seperti itu! Aku ini kan suami kamu. Jadi, stop untuk malu. Buat apa malu sama suami sendiri! Sampai-sampai suami di dekatnya di anggurin. Kamu tidak eman apa? Suami tampan tiada duanya tapi di sia-siain." kata Sean. Yang mampu membuat wanita malu itu, mengerutkan dahinya mendengar perkataan absurd suaminya.


"Ihhh,,,Mas Sean! Malah narsis." keluh Kanaya sembari mencubit paha yang tepat di bawah tangannya.


"Tuh kan! Benar di sia-siakan." kata Sean lagi.


"Apaan sih Mas Sean. Geli tahu kamu kayak gitu! Kayak bukan Mas Sean aja." ujar Kanaya terkekeh geli.


"Tidak apa-apa! Yang penting bidadarinya mas tertawa." ujar Sean ikut tersenyum melihat istrinya yang tidak canggung lagi.

__ADS_1


"Makasih mas..." seru Kanaya.


*


*


*


Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Sean dan Kanaya sudah tiba di hotel tempat resepsi akan di gelar. Bintang hotel lima milik keluarganya itu, sudah sangat indah dengan tatanan dekorasi yang sangat luar biasa indahnya. Membuat orang yang melihat pun takjub.


Selesai sholat maghrib, Kanaya di poles kembali oleh tim Mu terbaik yang di sewa oleh Sean. Acara akan di gelar setelah shalat isa nanti. Tim make up itu, bekerja dengan baik. Sehingga menghasilkan ratu sehari yang begitu cantik mempesona. Di tambah dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Pesona Kanaya pun semakin ke luar.


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 07.28 wib. Tamu undangan sudah datang, dan sahabat-sahabat tercintanya pun demikian. Pengantin itu pun, digiring menuju panggung tempat pengantin baru itu duduk manis. Saat tamu undangan melihat pengantin sudah duduk di singgasananya, mereka pun menghampiri untuk memberikan ucapan selamat dan do'a terbaik untuk kedua mempelai.


Satu jam sudah pengantin berdiri, Kanaya pun merasa capek dan kakinya kesemutan karena tak bergerak sedikit pun.


"Sayang kamu kalau capek duduk saja, atau mau ke kamar?" tanya Sean.


"Tidak usah Mas! Kasian para tamu nya nanti kalau ditinggal." tutur Kanaya.


"Kalau gitu, kamu duduk saja. Biar aku turun dan berbincang. Biar kamu bisa istirahat." ucap Sean yang kasian melihat wajah letih istrinya.


"Emangnya tidak apa-apa?" tanya Kanaya polos, dia sangat lelah.


"Iya tidak apa-apa." setelah Kanaya duduk, Sean pun turun dari panggung menuju teman-temannya. Dia menyuruh para sahabat Istrinya untuk menemani Kanaya dan mengajak nya istirahat. Keempat wannita itu pun menyetujui perkataan Sean untuk menemani Istrinya.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2