Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 81. THsM


__ADS_3

"Waalaikumsalam..." Jawab nya serentak. Langsung saja Mereka berdiri dan menyalimi para orang tua itu.


"Nak, gimana keadaan putri Umma sekarang?" tanya nya terdengar sedih. Abah terus saja menenangkan sang istri, ia takut dengan kabar Kaira yang seperti ini membuat istrinya drop.


Mereka saling melirik satu sama lain, karena sebelum nya dokter pun tidak mengatakan apa-apa. Jadi, mereka tidak tahu apa yang harus mereka sampaikan?. "Emm, mendingan Umma sama yang lainnya duduk dulu, kita menunggu Suaminya Kaira, karena dokter menyuruh ke ruangan nya, Umma." Itu kata yang bisa di sampaikan oleh Zahra, ia takut jika mengatakan apapun akan salah nanti nya, walaupun ia tahu sahabat nya didalam sana mengalami kondisi kritis.


Jawaban Zahra membuat hati Umma Fatimah semakin gelisah, "Baiklah," sahut nya menurut dengan apa yang dikatakan Zahra. Apalagi tubuh wanita paruh baya itu tampak gemetar.


"Umma, pasti anak kita baik-baik saja! Jadi jangan terlalu khawatir seperti ini." Ujar Abah Farhan dengan lembut, ia mencoba menenangkan istrinya.


"Iya, Abah. Tapi, bagaimana Umma bisa tenang? Sedangkan kita tidak tahu sama sekali tentang kondisi Kaira saat ini. Umma khawatir abah! Tahu nggak sih?!" tutur Umma Fatimah gemas di antara rasa cemas nya yang kian menjadi-jadi.


"Iya,,,iya,,," Sahut Abah mengalah, meskipun sebenarnya ia merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan istrinya, tapi ia sebisa mungkin tidak memperlihatkan itu. Karena jika mereka sama-sama seperti itu, terus siapa yang akan menenangkan sang istri?.


Begitu pun dengan Mommy Ranti, sedari tadi dilanda rasa khawatir yang teramat, tapi tidak ada satupun diantara Mereka yang bertanya tentang keadaan menantu nya. Ia hanya berharap Putranya cepat datang.


*****


Luna tampak bahagia sekali, setelah ia menjalankan rencana nya. Sekarang dirinya sedang menunggu seseorang yang bekerja sama dengannya, di sebuah cafe. Ya, kabar bahagia ini akan ia kasih tahu kepada rekan nya, agar tidak cuma dirinya yang berada dalam suasana hati seperti yang ia rasakan saat ini.


Beberapa menit berlalu, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang. Pria yang gagah dan tampan tak kalah saing seperti mantan kekasihnya itu, meskipun begitu Leinard tetap lah yang paling segalanya.


"Hai, lama banget sih kamu?" tanya Luna sok akrab dengan orang ini, setelah lawan bicara nya duduk tepat di kursi yang ada di depannya.

__ADS_1


Sedangkan orang yang di ajak bicara hanya diam saja, tidak terlalu menganggapi apa yang di ucapkan. Sebenarnya ia sangat malas bertemu dengan wanita ini, tapi demi untuk membalaskan rasa dendamnya ia merelakan waktunya.


"Langsung saja kepada intinya!" Ucap nya tegas. Yah, laki-laki yang tidak sabaran sama sekali itu berkata dengan dingin nan datar. Dialah Xaron Dwi Pangga. Dia rela melakukan apapun untuk membalaskan rasa dendamnya yang mengakar dengan kuat di dalam hatinya.


"Sabar dulu dong Tuan, masa baru duduk langsung Kita bicarakan, kan tidak etos rasanya sebelum Kita pesan makanan terlebih dahulu." Jawabnya dengan senyum yang di buat semanis mungkin. Dia akan menjerat laki-laki di depannya ini, Leinard tidak dapat Xaron pun jadi. Pria ini kan tak kalah tajir nya dari sang mantan.


"Fyuhh! Terserah kamu saja," Ujar Xaron mencoba menekan amarahnya, demi mencapai tujuannya.


Luna pun memanggil pelayan cafe itu.


" Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya ramah.


Tanpa menjawab ucapan pelayan itu, Luna langsung saja merebut buku menu yang di pegang sama pelayannya. Sang pelayan pun tampak kaget dengan tindakan pelanggan nya ini, ia sudah seramah mungkin tapi malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti itu.


Xaron yang melihat itu hanya menggelengakan kepala, benar-benar Wanita yang tidak memiliki akhlak. Pikirnya. Meskipun dirinya sendiri jauh dari kata itu, tapi ia tidak suka juga melihat kalakuan Luna.


"Baik, hanya itu saja." Ucapnya sembari menutup buku menu itu, dan memberikan nya kepada si pelayan.


Sembari menunggu makanan datang, Xaron memainkan ponselnya. Karena dirinya sangat malas untuk berbicara dengan Luna, walaupun beberapa kata saja.


"Xaron..." panggil Luna.


"...." tiada jawaban apapun dari Xaron. Luna tahu laki-laki ini sengaja menghindari dirinya.

__ADS_1


"Tian Xaron!!" panggilnya lagi dengan nada yang sudah naik. Dan hal itu tentu bisa mengalihkan atensi Xaron.


Dengan pandangan mata yang tajam, Dia melihat ke arah Luna. "Apa?" tanya nya dengan wajah datarnya.


"Kamu sengaja ya ngehindari aku?" tanya Luna melunak, yah Ia takut sekali melihat tatapan tajam Xaron kepadanya. Yang semula ia berani kepada pria itu, menjadi ciut ketakutan. Tapi ia mencoba menutupi itu semua.


"Katanya kita akan menjadi sepasang kekasih, jika Aku berhasil melakukan tugas ku dengan baik." Ucapnya mengingat kan akan janji yang pernah di ucapkan Xaron padanya.


"Terus..." Kata Xaron supaya Luna meneruskan pembicaraan nya.


"Yah, Karena Aku berhasil melakukannya, Jadi kita akan menjadi kekasih." Ujar nya ringan, dengan wajah yang berseri-seri.


"Bagus... Dan tentu saja, Kamu akan.mendapatkan imbalan dariku. Tetapi tidak dengan menjadi kekasihku, karena aku tidak sudi bersama wanita yang tidak memiliki etika." sahut Xaron dengan tegas, dirinya cukup bahagia dengan keberhasilan ini. Ia langsung fokus dengan kata 'berhasil' sehingga membuat seringai timbul di sudut bibirnya.


"Apa?!!! Kenapa tiba-tiba berubah? Harusnya Kamu tidak berbicara seperti itu. Pokoknya Aku tidak mau tahu!" geram Luna yang mendengar ucapan Xaron barusan. Enak saja laki-laki ini, setelah berhasil ia melakukan rencana itu dengan baik, malah kalimat seperti itu yang ia dengar.


"Terserah kamu saja! Jika kamu berani membantahku, maka Kamu akan tahu akibatnya." Kecam Xaron yang sudah tidak sabar dengan Luna, rasa geram yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga. Karena wanita itu semakin bertindak sesuka nya. Ia pun langsung berdiri meninggal kan Luna yang masih terpaku di tempatnya.


"Sialan!!" maki Luna, entah mau melampiaskan amarah kepada siapa dirinya?. Nafsu makan Luna pun hilang seketika, ia lalu merogoh uang di dalam tas jinjing nya, Luna meninggalkan uang kertas beberapa lembar di atas meja. Setelah itu, ia pun beranjak dari tempat itu.


*****


Akhirnya orang yang di tunggu-tunggu pun menampakkan batang hidung nya. Siapa lagi kalai bukan Leinard. Dengan wajah yang gamang dan lesu ia berjalan, menghampiri keluarga nya yang menatap ke arah nya. syarat mata yang penuh kesedihan terpancar dari mata pekat bak malam itu.

__ADS_1


Jangan lupa saran & kritik nya ya readers...😊


****....*****


__ADS_2