Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 78. THsM


__ADS_3

Mereka pun sampai di tempat pakaian muslimah. Memilih-milih pakaian yang bergantung rapi, dengan model yang berbeda dan cantik-cantik tentu saja.


"Haduh, rasanya pengen ku bawa semua ke rumah." Kelakar Kanaya, sembari tangannya tiada henti terus-menerus memilih baju-baju itu.


"Nah kan, apa Aku bilang! Kamu tidak akan kuat menahan godaan dari barang-barang ini." Timpal Raina, yah Dia sebelumnya sudah menasehati teman nya itu supaya tidak tergiur dengan barang-barang yang memanjakan mata mereka.


"Iya nih, tadi aja bilang nya akan membeli barang-barang yang wajib saja, Haha. Tapi sekarang mah, udah ileran tuh," ledek Alina kepada temannya.


"Biarin aja sih, lebih dua potong pakaian ngga apa apa kok. Kan ya?" dirinya meminta dukungan kepada Kaira yang sedari tadi sibuk juga mencari pakaian yang akan ia beli.


"Iya deh, tapi baju Kamu yang ada di lemari itu harus di keluarin juga. Sumbangkan pada mereka yang tidak mampu. Ok, paham kan?" ucap Kaira pada sang sahabat.


"Hmm, Baiklah. Yang penting Aku bisa menggaet baju-baju ini." Girangnya hati Kanaya saat mendapatkan persetujuan dari Kaira. Membuat ia semangat mengambil beberapa potong baju yang akan ia beli.


Tak terasa mereka sudah sudah lama berada di store yang menjual pakaian muslimah itu, namun, belum juga mereka selesai membayar pakaian-pakaian yang di inginkan.


"Udah ya," pinta Zahra sudah kesekian kalinya. Yah, begitulah mereka kalau berbelanja lupa dengan waktu. Bumil itu sedari tadi sudah mengajak mereka untuk keluar dari sana.


"Iya iya! Kasian sekali Bumilku ini." Ujar Alina memeluk Zahra yang sedang merajuk.


"Hehehe," mereka cengengesan saja ke arah Bumil itu. Mereka pun sama-sama membawakan belanjaan Kaira dan Zahra, karena mereka khawatir bumil cantik-cantik itu kecapean. Mereka pun pergi ke kasir untuk membayar belanjaan mereka memakai kartu tanpa limit milik Kaira, dirinya lah yang akan membayar semua belanjaan sahabat nya itu.


Tepat di samping mereka, ada sosok Wanita yang berdiri dengan angkuh nya, menatap dengan tajam ke arah mereka. Bagaimana tidak? Wanita itu sangat membenci Perempuan berhijab syar'i yang mengenakan niqab. Karena menurut nya, Dia telah merebut kekasih hatinya.


"Kamu sekarang bisa bahagia, tapi entah untuk beberapa menit ke depan. Apakah masih ada senyuman yang terbit dari bibir mu? Dasar perempuan sok suci," Gumam Wanita seksi itu, dengan kedua tangan nya yang mengepalkan erat-erat, sampai kedua baku tangan nya memutih. Yah, Dialah wanita licik, wanita masalalu Leinard.

__ADS_1


"Kay, ini pakai punya ku saja." Ujar Kaira, sembari menyodorkan kartu atmnya yang tanpa batas itu.


"Nggak usah Kaira, kita juga ada kok." Ucap nya, merasa tak enak hati. Karena bukan kali ini saja Kaira melakukan hal seperti itu. Meskipun dulu, saat Dia belum menikah ia pun juga tidak pelit sama sekali.


"Tidak apa-apa, pakai ini saja," galak Kaira, yang tidak ingin di bantah sama sekali. Mau tak mau, Kanaya pun mengambil dan segera menyerahkan ke petugas kasir.


"ini Mbak," Ujar Kanaya sembari menyodorkan kartu tanpa batas milik Kaira itu.


"iya, Mbak, mohon di tunggu!" Jawab petugas kasir dengan ramah.


Luna tambah di buat semakin panas, melihat Kaira yang membayar belanjaan teman-teman nya. "Seharusnya Aku yang menjadi Nyonya Leinard, bukan perempuan udik dan kampungan itu." Ujar Luna ditempatnya, menggeram dengan amarah yang membuncah. Ingin rasa nya, ia langsung mendatangi wanita itu, lalu memberi nya pelajaran. Namun, niatnya ia urungkan. Karena dirinya sudah mempunyai rencana yang cukup bagus, untuk merebut Leinard dari Wanita itu.


Tangan Luna pun, mencari-cari benda pipih milik nya di dalam tas branded nya. Setelah menemukan benda super canggih itu, ia langsung mencari nomor seseorang yang menjadi partner nya untuk melakukan aksinya. Lalu, Luna menekan nomor itu, menghubungi seseorang.


[ "Hallo," ] Ucapnya.


[ "Iya Nona. Ada apa?" ] tanya orang di seberang sana. Karena ia tahu, jika Nona yang sudah membayar nya ini menghubungi dirinya. Maka ia harus melakukan nya dalam waktu dekat.


["Hmm, Kamu tentu tahu jika Aku menelfon dirimu kan? Maka dari itu, kerjakan lah. Sekarang juga!" ] titah nya tidak terbantahkan.


[ "Baik, Nona. Saya akan melakukan seperti yang anda inginkan." ] jawab nya, sembari mengeluarkan seringai yang mengerikan.


[ "Bagus, Kamu harus melakukan nya dengan baik. Jangan sampai kamu katahuan, jika itu terjadi jangan pernah bawa bawa namaku." ] Ucap nya dengan tegas. Jika sampai itu terjadi ia tidak tahu, apa yang akan ia dapatkan nanti nya.


[ " Anda tenang saja, Nona. Saya melakukan nya, bukan sekali dua kali ini saja. Jadi, Anda tidak perlu khawatir terlalu berlebihan seperti itu. Karena Aku yakin, bisa melakukan nya dengan mudah." ] Jawab nya menyombongkan dirinya sendiri.

__ADS_1


[ "Ok, kalau begitu, Aku tunggu kabar baik darimu." ] Ujar Luna, dengan senyum yang penuh arti, Menatap ke arah Kaira yang sudah berjalan beranjak dari kasir.


[ "Tentu saja, Nona. Anda akan mendapatkan kabar baik dari saya." ] Ujar nya dengan percaya diri yang tinggi.


[ "Memang itu yang harus kamu sampaikan kepadaku,"] timpal Luna dengan tegas. Ya, dirinya tidak akan mau menerima kabar yang buruk, susah payah ia menyusun rencana, serta membayar mahal-mahal orang suruhan nya itu. Tentu saja, itu akan membuat dirinya rugi, jika sampai rencana nya gagal.


Tuut...Tuut...


Luna memutuskan panggilan nya sepihak, ia tak mau lagi mendengar jawaban dari orang suruhannya. Ia pun kembali memasukkan handphone genggam nya, ke dalam tas mahalnya.


"Hmm, kita lihat saja wanita kampungan, siapa yang akan menjadi nyonya Leinard ke depan nya?" Ujar nya sinis, Lalu, ia melenggak lenggok pergi dari sana.


*****


Lima sekawan itu, sudah duduk dengan nyaman di sebuah restoran yang dekat dengan mall. Yah, Mereka langsung keluar pergi meninggalkan mall, setelah membayar tagihan belanjaan Mereka.


"Alina, ceritain kita dong, Aku kepo banget tahu!" Seru Kanaya yanh duduk di sebelah Alina. Sebenarnya, rasa penasaran yang teramat itu timbul sedari tadi. Saat Alina sendiri yang tanpa sengaja keceplosan mengucapkan kata 'menikah'.


"Iya, nih! Kok diem-dieman gitu sih," Kesal Raina yang melihat Alina yang sedari tadi tidak membuka mulutnya sedikit pun. Membuat ia jadi geregetan sendiri.


"Emang nggak pernah hilang penyakit nih Anak," timpal Kanaya lagi. Memang senang sekali, Alina membuat mereka kepo setengah mati. Untung saja sahabat, kalau bukan? pasti sudah di tumis dari tadi.


Jangan lupa ulasannya ya readers yang baik hati...🤗


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2