Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 37. Di tutupnya Club


__ADS_3

"Mas Leon enggak lagi ngibulin istri kan?" tanya Zahra saat dirinya mulai mereda dari isak tangis.


"Ha,,,ha,,,ha sayang! Kamu ada-ada saja. Masa iya aku ngibulin kamu." jawab Leon gemas dengan pemikiran istrinya.


"Ihh, mas Leon kok ketawa. Bukannya bujuk istri tapi malah di ledekin!" ucap Zahra memasang wajah sebal nya.


"Iya,,,maaf-maaf! Abisnya kamu ngegemesin banget. Jadi pengen disini aja sama kamu." ujar Leon.


"Dasar akang Gombal!" Zahra hendak mencubit pinggang Leon tapi tak kena, karena orangnya keburu kabur ke kamar mandi.


Tawa Leon pecah di dalam kamar mandi, dia begitu bahagia. Biasanya hari-hari nya menoton, tapi karena kehadiran istri yang sebenarnya dari awal tidak ia cintai. Hanya karena anaknya saja yang menginginkan kehadiran sosok bunda Zahra.


Zahra mengambil kan baju untuk Leon, ia meletakkan baju suaminya di atas ranjang. Ia kembali duduk di sofa menanti Leon selesai mandi.


Selang 15 menit, akhirnya Leon selesai mandi. Ia keluar dengan rambut basah, tetesan air jatuh ke tubuh bagian atas nya yang tak tertutup. Dia mengenakan handuk saja, sebatas pusar sampai lutut.


Melihat suaminya selesai, Zahra segera menghampiri Leon. Membawa baju tidur untuk Leon. "Ini mas bajunya." kata Zahra menyodorkan setelan baju tidur berwarna navy sama persis dengan warna baju tidur Zahra.


"Baby! Sebenarnya kita tak perlu memakai baju. kita akan ibadah kan?" tanya Leon sembari mengerlingkan sebelah matanya.


"Mas Leon genit..." ujar Zahra sembari menarik tangan suaminya agar beranjak dari depan kamar mandi. Dia membawa Leon duduk di tepian ranjang, ia mengambil handuk yang bertengger di leher putih Leon.


"Rambutnya biar aku keringkan ya mas!" ucap Zahra. Leon mengangguk kan kepalanya tanda setuju.


Zahra pun mulai melakukan tugasnya, karena dia merasa ada yang ditutupi oleh suaminya, entahlah dia juga tak tahu. Tapi hatinya mengatakan seperti itu.


'Enak banget ya! Punya istri seperti ini. Merasa dijadikan Raja sama istri. Kenapa tidak sedari dulu yah?' Leon membatin, dia bahagia. Sangat bahagia.


"Mas Leon capek ya? Gimana pekerjaan di kantor tadi?" tanya Zahra memulai percakapan dengan suaminya yang memeluk erat pinggang Zahra serta kepalanya yang ia sandarkan ke perut rata sang istri. Zahra tak protes dengan kelakuan Leon, dia menikmati nya.

__ADS_1


"Baby! Kapan berisinya ya?" tanya Leon.


"Mas Leon! Ditanya apa? Nanya nya apa?" Ucap Zahra berusaha agar dirinya tak kesal.


"Iya Baby, jangan ngambek. Di kantor tadi pekerjaan mas aman kok. Malah pulang sore, karena aku cepat menyelesaikan pekerjaan kantor." kata Leon.


"Ooh, jadi pulangnya tadi sore. Tapi kok nyampek rumahnya larut kayak gini?"


"Aku tadi udah jalan pulang sayang, tapi di telepon sama bawahan aku. Katanya ada masalah di club! Dan harus aku yang nanganin." ujar Leon tak sadar dengan kejujuran yang baru ia katakan.


Tiba-tiba pergerakan tangan Zahra terhenti. Leon mendongak kan kepalanya melihat Zahra. Dia mengernyitkan sebelah alisnya, seakan bertanya.


"Jadi, tadi ke clubnya bukan karena meeting, melainkan menangani masalah yang terjadi!" tanya Zahra tersenyum menahan jengkel karena Leon membohongi dirinya.


Deg....!


'Mulut kok kamu tidak bisa di ajak kompromi sih!' Leon membatin karena kebodohannya sendiri.


"Terus maksudnya mas Leon apa? Mas Leon punya club juga." Zahra menurunkan intonasi nadanya. Dia berbicara lembut, lalu duduk di sebelah Leon. Dia memegang kedua tangan suaminya. Leon pun duduk menyamping ke arah Zahra.


"Mas kita ini suami-istri, tapi mengapa aku merasa kamu seperti orang lain! Kita dekat seperti ini, namun aku merasa jauh dan tak mengerti tentang dirimu." ucap Zahra menatap sendu ke arah Leon.


"Sayang jangan berkata seperti itu! Kita bukan orang lain. Melainkan sepasang kekasih halal, dan semoga tetap seperti itu sampai ke jannahnya." Leon benar-benar tak mau, Zahra beranggapan mereka orang lain.


"Tapi kenapa kamu tidak pernah jujur sama aku mas? Ada saja yang kamu tutupi dari aku." tanya Zahra lagi. Air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Siap untuk terjun melewati kedua pipi mulus itu.


"Maafkan Mas! Ku mohon jangan keluarkan air mata mu. Aku tak mau, kamu membuang air mata karena kelakuan ku. Aku akan membiarkan kamu menangis, jika itu tangis bahagia." ucap Leon memohon pada sang istri. Hatinya seperti teriris melihat Zahra menangis, apalagi karena ulahnya.


Zahra mendongak, lantas memejamkan mata. agar air matanya tak hilir mudik. Tapi tetap saja, linangan air itu jatuh membasahi pipi Zahra. Leon segera menghapus air mata itu, sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan agar tidak menangis seperti ini?" tanya Leon sendu.


"Jujur kepadaku Mas! Dan kalau bisa kamu akhiri saja pekerjaan di club, tutup club itu." ujar Zahra parau karena menangis.


Leon terlihat sedang menimbang-nimbang keinginan Zahra. Istrinya yang melihat wajah suami keebratan. "Maaf kalau lancang! Kalau mas keberatan tidak perlu. Tapi izinkan aku bekerja, bukannya sok tahu atau apa mas. Cari rezekinya yang halal aja, biar sedikit asal berkah." pinta Zahra.


"Baiklah jika itu maumu. Akan ku lakukan." ujar Leon. Lalu dia mengambil benda pipih miliknya di atas nakas, lalu menelfon bawahannya yang ia percaya menjaga Club itu.


Sementara di seberang sana, dia tak percaya apa yang di katakan Tuannya. Padahal mereka tahu, Club malam ini banyak menjanjikan penghasilan bagi pekerja yang ada disini. Setahunya Leon pun tak pernah ingin ingin Club ini ti tutup. malahan dia akan membuka cabang lagi untuk memperluas. 'Ada apa dengan Bos?' diapun bertanya-tanya sendiri.


Panggilan itu tak lebih dari satu menit berlangsung. "Sudah Baby! Jangan nangis lagi. Kamu tak perlu bekerja untuk apapun, aku cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu dan anak-anak kita kelak." ucap Leon.


Lalu Leon memeluk erat Zahra. "Sayang jangan pernah katakan hal seperti itu lagi. Aku tidak ingin mendengar nya, jika sampai kamu berbicara seperti itu. Akan ku beri hukuman yang akan membuat kamu tidak meninggalkan ranjang ini." ujar Leon dengan senyuman smirk nya.


Zahra jadi merinding dengan pernyataan Leon, membayangkan saja dia tak berani.


Tok...Tok...Tok...


suara ketukan pintu kamar Leon. "iss,,,siapa sih malam-malam ganggu." dengus Leon.


"Hush mas, enggak boleh seperti itu! Sana pakai baju kamu dulu." Zahra pun berdiri hendak membuka pintu.


"Tunggu sayang jangan di buka." kata Leon sembari memasang pakaiannya. Setelah melihat suaminya selesai mengenakan baju, diapun membuka pintu kamar. Tampaklah Zalfa yang mengucek sebelah matanya mengenndong boneka Teddy berukuran kecil.


Zahra berjongkok, langsung membawa Zalfa dalam gendongannya. "Anak Unya kok udah bangun?" tanya Zahra membawa Zalfa masuk ke dalam kamar.


"Afa mau tidur bareng Unya." balas si kecil. Zahra mengangguk, Lalu membaringkan Zalfa di tengah-tengah mereka. Leon hendak membuka mulut, akan protes dengan keinginan Putrinya.


"Mas biarin aja Zalfa tidur disini, sekali-kali ngalah sama anak." ujarnya tersenyum melihat wajah frustasi Leon.

__ADS_1


'Yah, gagal bercocok tanam deh.' batin Leon lesu.


__ADS_2