Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 32. Merajuk


__ADS_3

Selesai menunaikan ibadah ashar, Leinard dan Kaira turun ke bawah. Mereka akan mengganti makan siang yang tadi mereka lewati. Cacing-cacing di perut Kaira sedari tadi meronta-ronta, minta di kasi makan.


"Mas kapan yang beli baju dan perlengkapan lainnya untuk Kai?" tanya Kaira sembari menuruni anak tangga satu persatu. Dia penasaran sekali, dengan banyaknya baju bergelantungan di lemari. Dan anehnya, baju itu pas dengan ukuran dirinya. Diakan tak pernah memberitahu siapapun tentang ukuran baju, begitupun dengan seperangkat alat dalamnya.


"Ohh,,,aku minta tolong sama Mommy." balasnya santai, tapi tidak dengan tangannya yang mendekap erat pinggang ramping Kaira. Terkadang tangan usil itu, mengelus sesekali pinggangnya.


"Mas tangannya tolong di kondisikan! Kalau nanti ada yang lihat bagaimana? Kan malu!" rengek Kaira, lalu ia berjalan terlebih dahulu ke arah meja. Dia kesal dengan Leinard yang tak tau tempat.


"Sayang jangan ngambek dong!" Leinard mengejar Kaira yang jalan terlebih dahulu ke meja kaman.


Kaira tak mengubris ucapan Leinard, ia berusaha menahan tawa, melihat wajah Leinard yang merayu dirinya. Seperti anak kecil yang tak di belikan mainan kesukaannya.


Leinard menarik kursi kosong, ia rapatkan dengan kursi sang istri. Wah! parah kalau istrinya ngambek, bisa puasa dia. Itu hal yang paling tidak diinginkan Leinard.


"Sayang...jangan ngambek yaa!" pintanya memelas. Leinard bergelanyut manja di bahu kanan istrinya. Kaira hanya diam menahan tawa. 'Semoga dia takarah aku kerjain, abisnya sih punya tangan tidak di manfaatkan ke hal-hal yang lebih baik. Pasti cuma satu arah, apalagi kalau bukan mesum' pikirnya.


Melihat Kaira yang kekeh tak mau bicara dengannya, ia menanti sang istri menoleh ke arahnya. Saat waktu yang dinantikannya tiba, Leinard langsung mencium bibir mungil Kaira yang terhalang cadar. Kaira mematung di tempat, terkejut akan tindakan suaminya. Jika ada yang melihat bagaimana? Dia pasti akan malu setengah mati.


"Mas Leinard! Main nyosor aja. Kalau ada yang melihat bagaimana? Kan malu. Katanya nanti tidak tahu tempat." ucapnya tambah mengerucutkan bibir mungil yang tertutup cadar.


Sang suami malah terkekeh riang, melihat istrinya yang merajuk seperti itu.


"Makanya, suami itu jangan di anggurin." ucapnya merasa tak bersalah kerena mencuri kecupan halal dari Kaira.


Kaira di buat jengkel oleh kelakuan Leinard. Ia melanjutkan makanannya, ia tak menghiraukan Leinard lagi.


"Tuh kan, di diemin lagi!" kata Leinard ikut merajuk. Sifat kekanak-kanaannya keluar begitu saja, ia tak mau mengalah kepada istri kecilnya. Leinard berhenti melanjutkan menyantap makannya, dia memandangi Kaira yang makan dengan lahap. Sampai makanan di piring Kaira habis.

__ADS_1


Bukannya Kaira tak tahu di perhatikan seperti itu oleh Leinard. Dia hanya ingin melihat sampai mana Leinard merajuk. Kaira baru tahu, ternyata orang yang di kira menakutkan dan suka memerintah ternyata memiliki sifat kekanakan seperti itu.


Kaira mengalah, karena suaminya ini sungguh keras kepala.


"Mas! Makanannya kok enggak di habisin sih?" tanya Kaira melihat ke arah suaminya yang duduk melihat ke arahnya juga.


"Udah kenyang!" ucap Leinard singkat.


"Mas tadi aku cuma bercanda doang, aku tidak benar-benar ngambek kok! Beneran deh." kata Kaira merasa tidak enak hati, kerena ngerjain suaminya. Dia beneran nggak niat sama sakeli untuk pura-pura ngambek.


"Hmm,,," Leinard berdehem saja menanggapi Kaira yang berusaha meyakinkan dirinya.


"Mas, aku minta maaf! Sudah ngerjain kamu. Enggak lagi deh, beneran! Jangan ngambek lagi yaa." Kaira berusaha membujuk Leinard, ia sangat merasa bersalah. Matanya berkaca-kaca saat tak ada respon yang di kasi Leinard padanya, hanya lirikan mata yang mengintimidasi Kaira. Karena itu, ia dia merasa tak nyaman dan bersalah. Karenanya Leinard berhenti makan.


Pertahanan Leinard goyah melihat mata istrinya berkaca-kaca. Dia segera beranjak megahampiri Kaira yang menunduk, karena tak mendapatkan respon darinya. ia menggendong tubuh Kaira di bawanya ke ruang keluarga. Kaira tak membantah, dia malah mengalungkan tangannya ke leher Leinard. mereka duduk di sofa panjang berwarna hitam, Kaira ingin beranjak dari pangkuan Leinard. Ia mau duduk di sebelah suaminya. Tapi Leinard tak membiarkan itu terjadi. ia mengeratkan pelukan nya.


"Kok nangis? Aku tidak ngambek beneran. Cuma balas ngerjain orang yang pura-pura ngambek aja." ujar Leinard di telinga Kaira.


"Aduww, sakit sayang. Bukannya di cium! Malah di cubit." ringis Leunard pura-pura kesakitan akan cubitan Kaira, padahal nyatanya tak sakit sama sekali.


"Iya,,maaf-maaf! Enggak lagi deh." ucapnya tertawa renyah melihat Leinard yang pura-pura kesakitan.


"Emang sakit apa? Badan aja yang kekar, nyatanya di cubit tangan kecil aja meringis kayak gitu." ucapnya lagi sembari memperlihatkan tangan kanan yang mencubit perut Leinard.


"Sakit beneran ini! Kamu harus tanggung jawab." kata Leinard tersenyum penuh kemenangan, karena di otak nya sudah berselancar ke mana-mana.


Yaudah sini, biar aku lihat bekas cubitannya. Kalau memar biar nanti aku olesin salep memar." kata Kaira ingin menyingkap baju yang di kenakan Leinard saat ini.

__ADS_1


Leinard langsung menahan tangan Kaira yang hendak menyingkap bajunya ke atas.


"Jangan sayang! Emang kamu mau kalau tubuhku di lihat maid di sini?" tanya Leinard mengalihkan perhatian Kaira.


"Terus gimana mas? Kalau kulitnya mengelupas kan nggak lucu!" ucap Kaira khawatir.


"Hahaha...sayang kamu itu lucu sekali! Kulit ku tak akan mengelupas cuma di cubit seperti itu." ujarnya sembari menahan tawanya yang akan pecah kembali, karena melihat ekspresi yang di keluarkan Kaira.


"Tapi kamu harus bertanggung jawab dengan cara yang lain." ucap Leinard menaik turunkan kedua alisnya.


"Cara apa?" kata Kaira polos, dia masih tak mengerti dengan pembicaraan Leinard. Cara apa yang di maksud suaminya itu.


"Kamu nanti tahu sayang, kalau sudah di dalam kamar." kata Leinard tenang. Sedangkan Kaira melotot ke arah Leinard. Ia baru tahu cara lain yang di maksud suaminya.


"Mas Leinard! Bisa enggak sih level kemesumannya di kurangin sedikit aja? Perasaan tidak berbicara ke arah sana tadi, tapi endingnya malah ke arah situ mulu.!" ucap Kaira.


"Enggak ada cara lain sayang, hanya itu dan harus itu!" ujarnya tak terbantahkan. 'Emang aku mesum apa? Tidak kok, wajar sih mesum sama istri sendiri. Dan tidak perlu dikurangi, malahan wajib di tambah sayang.' Leinard membatin, dia gemes dengan permintaan Kaira.


"Mas!" kata Kaira.


"Iya sayang." balas Leinard.


"Aku tetap bekerja ya!" pintanya. Dia berani mengutarakan apa yang sedang dipikirkan, karena melihat Leinard yang bahagia.


"Sayang aku enggak akan meminta kamu berhenti bekerja, jika itu memang kemauanmu. Tapi kalau suatu hari kamu hamil, kamu berhenti aja yaa?" kata Leinard. Sebenarnya ia ingin Kaira tak usah bekerja, cukup menjadi ibu rumah tangga yang pandai menjaga kehormatan dan ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.


"Iya mas, Kai akan berhenti bekerja kok. Jika nanti sudah berbadan dua." karena tak mungkin ia akan membantah ucapan Leinard.

__ADS_1


"Makasih sayang." ucap Leinard merengkuh erat tubuh istrinya. 'Aku takut tak bisa menjagamu dari musuhku.' Leinard jadi pesimis, saat menyangkut tentang Kaira."


*****.....*****


__ADS_2